Cara Mengatur Keuangan dari Segelas Kopi Susu

Menjadi kaya tidak hanya soal menambah penghasilan, tapi juga bisa soal pengaturan keuangan. Dengan pengaturan keuangan yang baik, kamu bisa mewujudkan mimpi yang kamu idamkan.

Kali ini saya akan membahas buku The Latte Factor karya David Bach. Buku ini membahas kalau mau kaya, tidak perlu dimulai dengan hal yang rumit, tapi bisa dimulai dari hal paling sederhana, seperti misalnya dari segelas kopi. Dengan menghemat segelas kopi susu yang biasa kita beli setiap hari, maka kamu tidak akan pernah terlambat untuk memulai kebebasan keuangan. Kebanyakan orang berpikir, kalau untuk punya banyak uang, maka butuh penghasilan yang lebih besar. Tentu saja, ada korelasi antara penghasilan dan kekayaan, namun ada faktor lain yang tidak kalah penting dalam membangun kekayaan yaitu mengatur keuangan yang kita miliki sekarang. David berargumen, kita bisa mulai untuk mempersiapkan kebebasan keuangan dari penghasilan sekarang yang kita miliki, tidak perlu menunggu ketika penghasilan kita besar. Hal ini disebabkan karena membangun kekayaan sama halnya seperti membangun kebiasaan. Apabila kita tidak bisa mulai dari hal kecil, kita pasti akan kesulitan ketika mendapat hal besar.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Kekayaan dari segelas kopi susu
Sumber foto: tripadvisor.co.za

Kekayaan dari segelas kopi susu

Di bukunya, David menceritakan kisah fiksi tentang seorang wanita bernama Zoey. Dia bekerja di sebuah majalah travel. Walaupun gajinya cukup, tapi tinggal di New York sangatlah mahal. Ditambah lagi, Zoey masih punya cicilan hutang biaya kuliah dan kartu kredit. Hidup Zoey boleh dibilang tidak boros, biasa saja, tapi walaupun begitu, dia masih tidak bisa menabung setiap bulannya. Dia seperti kebanyakan dari kita, sudah bekerja, namun kesulitan mengatur keuangan karena tagihan yang menumpuk. Setiap pagi sambil jalan menuju tempat kerja, Zoey selalu membeli double shot latte. Suatu hari, setelah melihat sebuah foto di coffee shop dan di stasiun, Zoey mulai berpikir bagaimana caranya agar dia bisa mewujudkan mimpinya menjadi fotografer sambil keliling dunia. Ketika mendengar keluh kesah dari Zoey, bosnya memberikan saran yang cukup aneh yaitu dia meminta Zoey untuk berbicara dengan Henry, barista tua di coffee shop tempat Zoey selalu membeli kopi susunya setiap pagi. Keesokan harinya, Zoey bertemu dengan Henry untuk menceritakan keluh kesahnya. Henry mendengarnya dengan penuh perhatian, Zoey juga bilang kalau dia tidak sanggup membeli sebuah foto dari sebuah desa di Yunani yang ada di coffee shop itu karena harganya setara dengan cicilan apartemen dia sebulan. Tanpa disangka, Henry memberikan sebuah nasehat yang nyeleneh kepada Zoey. Jika dia mampu membeli kopi susu setiap hari, maka Zoey juga mampu untuk mengejar mimpinya. Henry memperkenalkan Zoey pada cara menabung yang unik yaitu the latte factor. Artinya, kalau dia menabung sedikit demi sedikit setiap hari, maka dia akan mampu memiliki sesuatu yang diinginkan dalam hidup. Awalnya, Zoey tidak percaya. Tapi, setelah menjalani nasehat Henry, pelan-pelan hidup Zoey berubah. 

Apakah ini artinya kita tidak boleh menikmati hidup? Tentu saja tidak. Hidup memang harus dinikmati dan dijalani. Tapi, apabila kondisi kamu saat ini saja sangat sulit untuk mengatur keuangan, apakah kamu tidak mau berkorban sedikit untuk masa depan yang lebih baik? Pengorbanan kecil ini akan terbayar besar di masa depan apabila kamu disiplin dan konsisten menerapkannya. Banyak orang juga suka bilang hidup cuma sekali, kenapa tidak menikmatinya? Tentu saja, hal ini tidak salah. Tapi, seberapa sering kita dengar orang yang bilang gini,”Hidup hanya sekali, saya harus banyak baca buku agar punya banyak ilmu.” Jarang kan. Ketika bicara soal uang, kita suka menggunakan standar ganda. Kita membenarkan perilaku pemborosan dengan alasan hidup cuma sekali. Coba kita lihat dari perspektif yang berbeda. Benarkah barang yang kita beli merupakan hal yang kita butuhkan? Apakah barang itu memberi kita kebahagiaan? Atau barang itu hanya memberikan kita kesenangan sesaat? Jika hal itu adalah kesenangan sesaat, apakah kita tidak bisa mengorbankannya demi kebahagiaan yang lebih besar? Ini adalah pertanyaan yang harus kita renungkan bersama untuk merancang masa depan yang kita inginkan.

Bayar Dirimu Dulu
Sumber foto: fool.com

Bayar Dirimu Dulu

Ketika bicara soal uang, banyak orang menganggap dirinya tidak berdaya. Misalnya, dengan bilang, aduh gaji saya kecil, pengeluaran saya banyak, tagihan saya menumpuk. Kita terbiasa berpikir kalau kita adalah korban dari sebuah sistem. Pemikiran ini cukup berbahaya. Kita tidak merasa bertanggung jawab atas kondisi keuangan yang kita alami. Kita berpikir kalau kondisi keuangan ini adalah sesuatu yang berada di luar kendali kita. Padahal, kita bisa memegang kendali atas kondisi keuangan yang kita jalani. Semua bisa dimulai dari langkah sederhana yaitu dengan keputusan untuk membeli segelas kopi susu atau tidak? Mungkin kamu bertanya, bagaimana kalau tidak minum kopi? The latte factor bukan hanya soal membeli segelas kopi, tapi bisa juga ke area lain misalnya membawa bekal makan siang, daripada makan di luar. Mengurangi makan di restoran saat weekend dan sebagainya. Intinya, kita bisa menghemat pengeluaran kecil di area lain dalam hidup kita. 

David menekankan fokus utama dari the latte factor bukan hidup sehemat mungkin, tapi kita harus sadar ketika menggunakan uang. Cara sederhananya yaitu dengan membayar dirimu duluan. Maksudnya adalah, setiap kali kamu menerima pendapatan, gunakan uang tersebut untuk membayar dirimu. Seringkali, setiap kali kita menerima gaji atau pendapatan, uangnya langsung kita alokasikan ke tagihan, cicilan, dan biaya hidup. Padahal, yang paling penting, bayar dirimu dulu. Nah, nantinya uang tersebut kamu gunakan untuk diinvestasikan. David memberikan contoh menarik. Ketika salah satu muridnya mengeluh kalau dia tidak bisa menabung, tapi bisa beli kopi susu. David menunjukkan betapa berharganya 5 dolar, jika muridnya tidak beli segelas kopi susu. 5 dollar sehari akan menjadi 150 dollar dalam sebulan. Jika diinvestasikan rutin dalam waktu 25 tahun dengan rata-rata imbal hasil sekitar 10%, maka muridnya akan mempunyai uang sebesar 185,000 dollar. Ini adalah kekuatan bunga majemuk dari investasi. Dengan berkorban sedikit untuk membayar diri kita duluan, kita mampu menghasilkan hasil yang besar dalam jangka panjang. 

Jangan menunggu pensiun untuk hidup bahagia
Sumber foto: hotelroomsearch.net

Jangan menunggu pensiun untuk hidup bahagia

Kembali ke cerita Zoey. Ketika dia sudah menyadari pentingnya harga sebuah kopi susu. Zoey masih penasaran, apakah ada nasihat keuangan lagi dari Henry. Henry pun bertanya, hal apa yang penting bagi Zoey, bukan di masa depan, tapi saat ini. Zoey lalu bercerita soal mimpinya yang ingin belajar fotografi dan keliling dunia. Pada dasarnya, itu adalah alasan utama dia bekerja di perusahaan majalah travel, tapi dia tidak pernah pergi kemanapun sama sekali. Henry pun menyarankan Zoey untuk membuka tabungan mimpi atau dream account. Nantinya, Zoey harus menyisihkan uangnya ke dalam dream account agar mampu mewujudkan mimpinya. Dream account pertamanya yaitu untuk kursus fotografi. Zoey butuh waktu 6 bulan menyisihkan uang kopi susunya untuk membayar biaya kursus fotografi. Mimpi pertama Zoey pun berhasil. Namun, ada mimpi yang lebih besar lagi, yaitu pergi keliling dunia. Akhirnya, Zoey bilang sama bosnya kalau dia ingin setahun sekali diberikan kesempatan remote working agar dia bisa bekerja jarak jauh. Bosnya pun setuju. Tiga tahun setelah Zoey menjalankan ini, ternyata fotonya yang dia ambil ketika berpergian ke luar negeri ditayangkan di majalah tempat dia bekerja. Semua mimpi Zoey ternyata bisa diwujudkan dari segelas kopi susu.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.