Dato Sri Tahir, Pengusaha Sukses yang Dermawan

Pengusaha sukses tidak boleh egois dan harus mau berbagi untuk kebaikan bersama. Karena kesuksesan itu baru memiliki makna sejati apabila dibagikan.

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal kisah inspiratif dari Dato Sri Tahir yang merupakan bos Mayapada Group dan salah satu orang terkaya di Indonesia.

Tahir lahir di Surabaya pada tahun 1952 dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya merupakan juragan becak dan ibunya memiliki toko pakaian yang sederhana. Kehidupan sebagai juragan becak tidak mudah. Ayahnya memiliki 20 becak dan kemudian menyewakannya. Kalau uang sewanya tidak ditagih, maka tidak akan dibayar. Tapi kalau ditagih, penyewa tersebut malah lebih galak. Bahkan penyewanya pernah melempari batu saat kesal ditagih dan mengenai kepala ibunya hingga bocor. Karena berasal dari keluarga yang sederhana, Tahir juga pernah beberapa kali tidak sengaja mendengar kalau ayah ibunya sering dihina dan diremehkan orang lain. Inilah asal muasal kenapa Tahir pernah bilang kalau dia benci dengan orang kaya. Dia pun bertekad untuk membuktikan ke semua orang kalau dia akan jadi orang sukses di masa depan. Pengalaman hidup ini telah menempa Tahir menjadi pribadi yang kuat. Dari kecil, dia diajarkan oleh ibunya untuk bekerja keras. Bahkan, ketika usia ibunya mencapai 80-an, dia masih bekerja di salah satu kantor cabang Bank Mayapada. Dari ibunya, Tahir belajar cara berdagang. Tahir sering disuruh untuk menjual barang dari Surabaya ke Pasar Baru dan Mangga Dua di Jakarta. 

Walaupun begitu, ketika kecil, Tahir tidak punya cita-cita untuk jadi pengusaha sukses. Saat itu, cita-citanya hanya ingin menjadi dokter. Ketika lulus SMA, Tahir melanjutkan kuliah kedokteran di Taiwan. Namun, cita-citanya terhenti ketika dia mendengar kabar buruk yaitu kematian ayahnya. Kejadian ini membuat Tahir tidak bisa lagi melanjutkan kuliahnya. Tahir pun tidak menyerah, dia kemudian mencari beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya. Hingga akhirnya, dia bisa diterima di Nanyang Technological University dan mengambil jurusan bisnis. Perjuangan Tahir belum selesai. Dia masih harus memutar otak bagaimana mencukupi biaya hidupnya selama di Singapura. Di sana, dia tinggal di losmen dan berpikir untuk berdagang untuk memperoleh tambahan penghasilan. Meskipun tidak pandai bicara bahasa Inggris pada masa itu, hal ini bukan halangan Tahir untuk berdagang. Sambil kuliah, setiap bulan Tahir membawa satu hingga dua koper berisi pakaian wanita yang dia beli di Singapura dan dijual lagi di Surabaya. Selama di Singapura, Tahir membagi waktu antara berdagang dan belajar. Dia pun selalu ingat alasan dia ke Singapura yaitu untuk memperjuangkan ekonomi keluarganya. Keputusan inilah yang membuat sikap Tahir berbeda dengan teman sebayanya. Ketika teman sebayanya lebih memilih bersenang-senang selama kuliah, Tahir menghabiskan waktunya untuk belajar dan berdagang.

Sumber foto: lifeofsavings.com

Setelah lulus dari NTU, Tahir kemudian mulai membangun bisnis leasing yang menjual sekaligus memberikan kredit mobil. Ini merupakan pertama kalinya, Tahir menggunakan nama Mayapada. Namun sayangnya, bisnisnya tidak bertahan lama. Bisnisnya bangkrut karena kebijakan Indomobil Group yang berubah dan tidak menerima keagenan untuk pihak ketiga. Dampaknya Tahir sempat terlilit hutang hingga lebih dari 10 juta dolar. Kejadian ini membuat dia tidak mau bertemu orang lain karena sedang pusing membayar hutang. Pengalaman ini juga membuat Tahir melihat bisnis sebagai sebuah tantangan. Dia mengumpamakan dirinya sebagai pendaki gunung. Tahir tidak takut pada gunung yang tidak bisa didaki. Dia akan terus mendaki gunung hingga akhir hayatnya. Tapi selama masih hidup, Tahir punya impian untuk mendaki semua gunung yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Namun, perlu diingat, dalam mendaki gunung, kita juga harus mempersiapkan diri. Kita harus meningkatkan kemampuan diri hingga akhirnya kita siap untuk mendaki gunung yang lebih tinggi.

Tahir merintis usahanya di bidang garmen, kemudian bisnisnya merambah ke bidang lain ketika dia mendirikan Mayapada Group di tahun 1986. Tahir pun melebarkan bisnisnya dari dealer mobil, garmen, perbankan, media, real estate, hingga di bidang kesehatan. Walaupun sudah menjadi pebisnis sukses, Tahir tidak melupakan impiannya. Dia pun mendirikan Rumah Sakit Mayapada dan mulai beroperasi sejak tahun 1995. Bukan hanya rumah sakit, Tahir juga membangun Mayapada Foundation. Dari situ, Tahir bisa membantu orang yang kurang mampu, termasuk memberikan pengobatan gratis bagi anak-anak yang mengidap kanker.

Sumber foto: tahirfoundation.or.id

Tahir membagikan beberapa tips sukses dalam menjalankan bisnis. Pertama, struktur keuangan yang baik. Pengusaha harus punya struktur keuangan yang baik, inilah yang membuat bisnis bisa bertahan dalam jangka panjang. Kedua adalah visi. Visi itu adalah sesuatu yang dilihat oleh pemimpin beberapa langkah ke depan. Ini adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh pengusaha. Ketiga adalah team work. Tahir mencontohkan misalnya sekarang lagi tren untuk menjual soto ayam. Tapi kalau dia tidak punya juru masak yang hebat, tidak peduli dia punya niat dan visi, tetap saja dia tidak akan sukses dalam membuat bisnis soto. Keempat adalah nilai tambah. Pengusaha harus bisa memberikan nilai tambah. Tahir memberikan contoh, jika kamu pengusaha kayu, jangan hanya menjual kayu yang habis ditebang dari hutan. Tapi, kamu harus memberikan nilai tambah misalnya kamu ubah kayu menjadi barang seni atau furnitur sebelum dijual ke konsumen. 

Banyak orang yang bilang kalau hobi Tahir adalah sosial. Bagi dia, hal itu tidak tepat. Sosial itu bukan sedekah, tapi sosial itu adalah amanah dan komitmen. Jika orang melakukan kegiatan sosial hanya berdasarkan hobi atau kesenangan, ketika suasana hati sedang tidak enak, maka orang tersebut tidak akan melakukannya. Tahir juga bilang kalau dia melakukan kegiatan sosial bukan berdasarkan untung dari perusahaan. Karena apabila pemikirannya begitu, ketika bisnisnya rugi artinya Tahir berhenti melakukan kegiatan sosial. Jadi, bagi Tahir, kegiatan sosial adalah komitmen, apapun kondisinya dia tetap melakukannya. Selain komitmen, hal lain yang mendorong Tahir untuk melakukan kegiatan sosial adalah amanah. Bagi dia, amanah adalah hal yang penting, karena kalau komitmen saja, kita akan mudah letih karena merasa dirinya sudah banyak membantu orang lain. Tapi, kalau hanya amanah tidak ada komitmen, maka hal tersebut hanya jadi angan-angan tapi tidak ada aksi nyatanya. Kedua hal inilah yang membuat Tahir menjalani kegiatan sosial dengan hati yang bahagia. 

Sumber foto: tahirfoundation.or.id

Bagi Tahir, pengusaha sukses adalah orang yang bisa memberikan kontribusi tidak hanya bagi perusahaannya tapi juga berpengaruh pada negara dan lingkungan. Setiap orang bisa menjadi pengusaha tapi hanya sedikit yang bisa menjadi pengusaha sukses dan berpengaruh. Tahir memilih untuk tidak menjadi pengusaha yang egois. Bagi Tahir, kesuksesan yang dia miliki sekarang bukanlah segalanya, yang paling penting kesuksesan tersebut tidak dirasakan sendiri, tapi juga dirasakan bersama oleh orang lain. Tahir juga punya prinsip kalau mencari keuntungan boleh saja tapi mencari kebaikan adalah kewajiban. Prinsip itulah yang membuat Tahir dikenal bukan hanya sebagai konglomerat Indonesia tapi juga sebagai filantropis. Dia tidak segan untuk memberikan donasi besar untuk membantu orang lain. Bahkan, Tahir berkomitmen untuk menyumbang 50% hartanya untuk masyarakat Indonesia.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.