Belajar Ikhlas dalam Menghadapi Kesulitan Hidup

Hidup yang dijalani tidak selamanya mulus. Ketika ada kejadian sulit, kita harus siap pada opsi alternatifnya dan membangun kekuatan untuk bangkit.

Kali ini saya akan membahas buku Option B karya Sheryl Sandberg dan Adam Grant. Buku ini membahas kadang dalam hidup apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan dan kita harus belajar beradaptasi dengan opsi yang lain. Setelah kematian suaminya yang tiba-tiba, Sheryl merasa kalau dia dan anak-anaknya tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati lagi. Saat itu, dia merasa ada kekosongan yang besar dalam hatinya hingga hal ini menghambat dia untuk berpikir bahkan bernafas. Bersama psikolog dari Wharton School yaitu Adam Grant, Sheryl belajar untuk pulih dan bangkit dari pengalaman hidup yang pahit. Pada dasarnya, kita tidak lahir dengan ketahanan mental yang kuat, tapi itu seperti otot yang harus dilatih. Di buku ini, Sheryl tidak hanya membahas soal pengalamannya sendiri, tapi juga pengalaman orang lain di mana mereka bisa bangkit dari cobaan hidup yang berat.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Kejadian yang mengubah hidup
Sumber foto: mackivconsult.org

Kejadian yang mengubah hidup

Sheryl saat itu menjabat sebagai Chief Operating Officer di Facebook. Dia merupakan wanita karir sukses dan memiliki hidup yang bahagia bersama suami dan dua anaknya. Sebelum bekerja di Facebook, Sheryl sempat bekerja di Google, Kementerian Keuangan Amerika Serikat, dan World Bank. Namun, suatu hari, kehidupan Sheryl berubah 180 derajat. Sebuah kejadian buruk mengubah hidup Sheryl selamanya. Pada tahun 2015, Sheryl dan suaminya Dave Goldberg sedang liburan di Meksiko untuk merayakan ulang tahun temannya. Mereka telah menikah selama 11 tahun dan memiliki dua orang anak yang masih kecil. Pada hari Jumat malam, Dave jatuh di atas treadmill yang berada pada tempat gym di dalam vila pribadi tempat mereka tinggal. Ketika Dave tidak ada kabar selama beberapa jam, Sheryl dan dua orang lainnya menemukan Dave dalam kondisi tidak sadarkan diri dan kemudian meninggal dunia di rumah sakit. Di waktu kematian Dave, anak-anaknya sedang berada di rumah orang tua Sheryl di California. Ketika memberitahu kabar buruk itu ke anak-anaknya, itu merupakan kondisi yang berat bagi Sheryl. Bahkan, Sheryl berpikir kalau dia dan anak-anaknya akan sangat sulit merasakan kebahagiaan lagi di masa depan. Laporan diagnosa kematian awal Dave menunjukkan kalau dia meninggal karena jatuh dari treadmill. Hal ini membuat Sheryl jadi menyalahkan dirinya sendiri karena tidak memperhatikan Dave dengan lebih baik. Adik Sheryl yang merupakan ahli bedah syaraf curiga karena ketinggian jatuh dari treadmill ke lantai tidak begitu tinggi dan tidak mungkin fatal. Hasil autopsi kedua memberikan hasil yang berbeda dan menunjukkan adanya gangguan irama jantung yang tidak terdeteksi sebagai penyebab kematian utama. Informasi ini tidak membuat Sheryl menerima kenyataan. Dia kembali menyalahkan dirinya sendiri lagi karena dia tidak mendorong Dave lebih keras untuk mengubah pola hidupnya ketika Dave masih hidup.

Ketika mengalami sebuah kejadian yang mengubah hidup, kebanyakan orang tidak tahu harus apa. Hidup mereka sepertinya dibagi menjadi dalam dua fase, sebelum kejadian dan setelah kejadian. Sheryl pun harus belajar bagaimana untuk menghadapi cobaan, membangun kekuatan, dan akhirnya mampu menemukan kebahagiaan. Karena pada dasarnya, tidak ada orang yang dilahirkan dengan ketahanan mental yang kuat. Ketahanan mental itu tidak berada dalam kondisi yang statis, tapi dinamis. Ibaratnya, ketahanan mental itu seperti otot di tubuh kita, apabila sering dilatih, maka ketahanannya akan semakin kuat.

Menghadapi kejadian yang sulit
Sumber foto: lifeworks.com

Menghadapi kejadian yang sulit

Dalam hidup, pasti ada momen kejadian yang sulit. Tapi, bagaimanapun juga, kejadian ini tidak boleh menghentikan kita untuk menjalani hidup. Kita tidak bisa menghentikan waktu dan kita tidak juga bisa menghentikan dunia. Hidup akan terus berjalan, tidak peduli apa yang terjadi pada dirimu. Itulah yang membuat kita harus belajar bagaimana cara menghadapi kejadian yang sulit. Seperti contohnya, dua minggu setelah Dave meninggal, ada kegiatan ayah dan anak di sekolah anaknya. Ketika mempersiapkan kegiatan itu, Sheryl tiba-tiba tidak kuat dan menangis sambil meraung bilang saya ingin Dave kembali. Temannya pun kemudian berusaha menenangkan Sheryl sambil bilang kalau Option A sudah tidak ada dan dia berusaha untuk membantu Sheryl untuk menemukan Option B. Sama halnya dalam hidup kita, kadang rencana hidup yang kita susun dengan baik, tidak berjalan sesuai harapan. Di saat itu, kita harus belajar bagaimana hidup dengan alternatif opsi berikutnya. 

Ketika menghadapi kesedihan yang mendalam, psikolog Martin Seligman menyarankan kita untuk menghindari tiga kesalahan umum atau dikenal dengan 3P yaitu Personalization, Pervasiveness, dan Permanence. Personalization adalah kepercayaan kalau semua kejadian buruk itu terjadi karena kesalahan kita. Jika kita membuat pilihan yang berbeda, maka hasilnya akan berbeda. Tapi tentu saja, tidak semua hal sepenuhnya merupakan hal kita. Kita tidak akan tahu masa depan seperti apa. Selain itu, merenungi kejadian masa lalu tidak akan mengubah apapun. Sebagai contoh, Sheryl menyalahkan dirinya sendiri soal gangguan irama jantung yang diderita oleh Dave sebelum meninggal. Padahal, dokternya saja tidak tahu hal itu sebelumnya. Kedua adalah Pervasiveness. Ini adalah kondisi di mana kesedihan seperti menyelimuti di setiap hal yang kita lakukan. Walaupun suaminya sudah meninggal 7 hari yang lalu, kesedihan Sheryl tidak hilang. Ada kekosongan dalam batin Sheryl yang begitu besar, bahkan dia tidak bisa menjalani meeting tanpa menahan tangis. Ketiga adalah Permanence, perasaan kalau rasa sakit ini akan bertahan selamanya. Saat suaminya meninggal, Sheryl sempat berpikir kalau dia dan anak-anaknya tidak akan pernah menemukan kebahagiaan lagi. Ketiga hal ini adalah kesalahan umum yang terjadi saat seseorang mengalami kejadian buruk dalam hidupnya. Untuk menghindari tiga hal ini memang tidak mudah, tapi kita perlu belajar agar tidak terjebak dalam lingkaran kesedihan yang terus menerus.

Berusaha kembali bahagia
Sumber foto: hbr.org

Berusaha kembali bahagia

Mengasah ketahanan mental adalah tentang memahami kalau penderitaan dan kehilangan merupakan bagian dari kehidupan. Untuk mulai mengubah kondisi menjadi lebih baik, kita bisa mulai dengan mengakui apa yang kita rasakan, baik atau buruk. Kita tidak berusaha untuk menahan atau melupakan perasaan tersebut. Apabila sudah, maka kita bisa mulai dengan latihan bersyukur. Setiap malam, Sheryl menuliskan tiga kejadian bahagia sederhana yang terjadi di hari itu. Misalnya, sampai di kantor tempat waktu, bisa menyelesaikan cucian yang menumpuk, atau berhasil membuat kopi yang enak. Mungkin ini kelihatan sepele, tapi dengan mengakui kejadian bahagia ini, kita akan belajar walaupun kita dalam kondisi bersedih, tapi kita masih mampu untuk merasakan kebahagiaan. Ini yang terkadang dilupakan. Ketika sedang bersedih, mereka cenderung merasa bersalah ketika mereka merasakan kebahagiaan. Mereka merasa malu apabila mereka merasakan kejadian bahagia. 

Bagaimana jika bukan kamu yang mengalami kejadian sulit, tapi orang lain? Kita suka berasumsi kalau orang yang sedang bersedih, perlu diberikan waktu sendirian. Bahkan, jika sudah mulai beraktivitas, kita tidak akan berusaha mengangkat topik soal kejadian sulit tersebut. Ternyata hal ini tidak baik. Sebagai contoh, setelah suaminya meninggal dan Sheryl pergi ke rumah temannya untuk makan malam. Mereka tidak berbicara sekalipun soal kematian suaminya. Ini bukan kejadian yang langka. Orang lain tidak ingin membahas topik itu karena takut Sheryl menjadi sedih. Walaupun niatnya baik, tapi perilaku mereka itu membuat Sheryl merasa kalau mereka tidak mengakui apa yang Sheryl rasakan. Sebaliknya, sebagai teman, kita bisa menawarkan diri untuk selalu bisa dihubungi ketika teman kita butuh apapun. Itu adalah cara kita membantu teman kita melewati masa sulitnya. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.