Kisah Inspiratif Pendiri Ikea | Ingvar Kampard

Semua dimulai dengan mencari solusi atas sebuah masalah. Ketika kita berjualan, kita tidak menjual produk, tapi memberikan solusi atas masalah yang sedang dialami oleh konsumen.

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal kisah inspiratif dari almarhum Ingvar Kamprad yang merupakan founder dari IKEA.

Ingvar Kamprad lahir di Swedia pada tahun 1926. Ingvar lahir di sebuah desa kecil. Saat itu, kondisi Swedia masih merupakan negara agraris dan miskin. Dari kecil, Ingvar melihat dunia dari cara yang berbeda. Ketika kondisi ekonomi sedang mengalami depresi dan kemiskinan merajalela, dia tidak ikut membantu keluarganya di sawah, tapi dia berjualan korek api ketika umurnya lima tahun. Saat itu, setiap orang harus kreatif dan bekerja keras. Tanah yang berbatu membuat pertanian tempat Ingvar tinggal sangat buruk. Pada waktu itu, bukan pemandangan yang aneh, jika kita melihat banyak orang mengantri untuk meminta makanan dan melamar pekerjaan. Keluarga Ingvar juga bagian dari masyarakat yang terkena dampak ekonomi yang buruk. Dia sadar kesulitan keluarganya dan ingin membantu. Tapi, daripada membantu di sawah, Ingvar memilih untuk membantu ekonomi keluarga dengan berjualan. Pemikiran Ingvar soal berdagang ternyata berasal dari neneknya. Jauh sebelum Ingvar lahir, pada tahun 1897, perusahaan kakeknya sedang berada di ujung kebangkrutan. Saat itu, kakeknya tidak mampu membayar hutang dan memutuskan untuk bunuh diri. Beruntungnya, neneknya berhasil menyelamatkan bisnisnya. Jadi, neneknya mengajarkan kepada para cucunya untuk mengatasi kesulitan hidup dengan semangat dan pantang menyerah. Neneknya merupakan salah satu orang yang memberikan pengaruh positif yang luar biasa pada pemikiran Ingvar. 

Sumber foto: sweden.se

Ketika berjualan korek api, Ingvar berusaha untuk memberikan konsumennya harga korek api yang murah. Dia meminta bibinya yang ada di Stockholm untuk membeli korek api dalam ukuran besar dan mengirimnya ke rumah mereka. Ketika sampai di rumahnya, Ingvar lalu mengemas ulang korek apinya ke ukuran yang lebih kecil dan menjualnya. Bukan hanya korek api, Ingvar kecil berjualan apa saja setiap ada peluang. Misalnya, ketika ada orang yang butuh ikan, kartu natal, majalah, hingga benih tanaman untuk berkebun, Ingvar selalu mencari bagaimana mendapatkan barang yang dibutuhkan dan kemudian dijual kepada konsumen yang membutuhkan. Kemudian, ketika berumur 14 tahun, saat Ingvar tinggal di asrama sekolah, dia menyimpan stok pena, jam tangan, dompet, dan ikat pinggang di bawah tempat tidurnya. Semua barang ini kemudian dia jual ke teman sekelasnya. Di saat teman sekelasnya main sepakbola atau kencan dengan anak perempuan, Ingvar memilih untuk berpikir soal bisnis. Saat dia berumur 17 tahun dan sudah lulus sekolah, ayahnya memberikan dia hadiah sejumlah uang karena Ingvar berhasil lulus dengan nilai bagus walaupun dia menderita disleksia. Uang tersebut kemudian digunakan oleh Ingvar untuk mendirikan perusahaannya sendiri dengan nama IKEA yang merupakan akronim dari inisial namanya yaitu Ingvar Kamprad, Elmtaryd, dan Agunnaryd, sawah dan desa tempat dia dibesarkan. Namun, karena usianya masih sangat muda, Ingvar harus membujuk ayahnya agar bersedia menandatangani surat yang isinya memberikan izin Ingvar untuk mendirikan bisnis. Itulah momen IKEA didirikan pada tahun 1943. 

Saat awal IKEA berdiri, Ingvar tidak langsung menjual furnitur. Awalnya, IKEA menjual apa saja, mulai dari pena, dompet, frame foto, hingga stoking. Tidak lama kemudian, bisnisnya berkembang pesat, hingga IKEA tidak hanya menjual di tempat, tapi juga melayani pengiriman. Bahkan produknya dijual hingga ke seluruh Swedia pada masa itu. Dari semua barang yang IKEA jual, pena merupakan barang yang paling populer. Saat awal tahun 1940-an, pena adalah suatu barang yang langka di Swedia, bahkan Ingvar harus memesan 500 pena dari Paris yang uangnya berasal dari pinjaman di bank lokal pada masa itu. Bagi Ingvar, itu adalah pinjaman pertama dan terakhir yang dia ambil dalam hidupnya. 

Sumber foto: ikea.com

Perjalanan membangun IKEA di awal memberikan Ingvar pelajaran kalau kunci keberhasilannya berasal dari menjual barang terjangkau dari pabrik langsung ke konsumen. Tidak lama kemudian, ada peluang yang muncul. Setelah perang dunia kedua, pemerintah Swedia mempunyai rencana untuk membangun rumah besar-besaran dan memberikan bantuan pinjaman untuk perabotan rumah. Peluang ini tidak disia-siakan oleh Ingvar, apalagi di provinsi tempat dia tinggal banyak pabrik furnitur. Pada tahun 1948, IKEA mempromosikan furnitur ke dalam brosurnya. Tanpa dia sangka, penjualan furnitur IKEA laku keras karena harganya yang terjangkau. Bahkan empat tahun kemudian, Ingvar menghentikan semua barang lain dan hanya fokus di furnitur saja, karena penjualan furnitur yang luar biasa. Pada masa itu, penjualan furnitur IKEA hanya melayani pengiriman saja. Tapi, persaingan bisnis yang ketat membuat model bisnis itu semakin buruk karena para pesaingnya demi mempertahankan keuntungan, mereka menjual produk dengan kualitas yang buruk. Ingvar sadar, kalau hal ini pasti akan memperburuk industri penjualan furnitur melalui pengiriman, oleh karena itu dia mulai berpikir untuk memperbaiki model bisnisnya. Bahkan pada tahun 1955, karena mereka kalah bersaing, asosiasi penjual furnitur di Swedia pada masa itu memboikot IKEA dengan mengancam tidak akan membeli dari pabrik furnitur Swedia apabila mereka menjual barangnya ke IKEA. Hal ini dilakukan sebagai bentuk protes harganya yang terlalu murah. 

Kejadian ini membuat Ingvar memperkenalkan model bisnis yang baru, yaitu memproduksi sendiri produknya. Bukan hanya itu, daripada konsumen hanya melihat gambar produknya di katalog, dia menawarkan mereka untuk datang ke showroom-nya. Namun karena letaknya di dalam hutan, Ingvar takut tidak ada yang datang. Agar tokonya ramai, Ingvar punya cara yang unik. Untuk menarik konsumen, Ingvar memberikan roti dan segelas kopi gratis untuk setiap pengunjung. Tanpa dia sangka, ternyata strategi ini sukses berat, bahkan saat itu lebih dari 1,000 orang datang ke tokonya. Inilah yang mendasari Ingvar untuk membuka tempat makan di tokonya. Di tahun-tahun berikutnya, kita akan lihat kalau setiap toko IKEA pasti ada food court-nya. 

Sumber foto: coresponsibility.com

Pada tahun 1960-an awal, ketika berkunjung ke Amerika Serikat, Ingvar kagum atas sistem cash and carry di sana, artinya konsumen membayar tunai dan membawa barangnya sendiri, bukan diantar. Pada tahun 1965, ketika IKEA membuka toko yang besar di Stockholm, Ingvar coba menggunakan sistem itu di toko IKEA terbaru. Pertama, tokonya menyediakan tempat parkir yang luas. Kedua, untuk menghemat ongkos pengiriman, IKEA memesan barangnya dalam bentuk flat packing, jadi nantinya konsumen harus memasang sendiri furniturnya. Di saat itu, ekonomi Swedia sedang meningkat dan banyak orang mulai bepergian jarak jauh menggunakan mobil. Ide flat packing ternyata muncul dari karyawannya yang melepas kaki meja supaya bisa masuk ke dalam mobil konsumen. Melihat hal tersebut, Ingvar menawarkan harga yang lebih murah untuk barang yang harus dirakit ulang sendiri oleh konsumen. Ini adalah langkah yang brilian, hingga akhirnya keuntungan perusahaan pada masa itu berhasil meningkat dua kali lipat.

Pada tahun 2005 hingga 2010, Forbes mengestimasi kekayaan Ingvar masuk ke dalam jajaran 10 orang terkaya di dunia. Walaupun begitu, gaya hidup Ingvar boleh dibilang sangat sederhana. Dia percaya kalau fungsi sebuah barang lebih penting daripada gengsi. Prakteknya seperti ini, dia selalu naik kelas ekonomi karena dengan beli tiket pesawat yang lebih mahal, fungsi pesawat tidak berubah, waktu tempuhnya juga sama. Sama halnya juga ketika dia memilih untuk mengendarai mobil Volvo tuanya dan memakai baju yang sederhana, bagi dia selama sebuah barang masih berfungsi, kenapa kita harus membeli barang yang baru? Semua kesederhanaan ini dia jalani hingga akhir hayatnya.

Versi animasinya bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.