William Tanuwijaya, Kisah Sukses Pendiri Tokopedia

Jangan berhenti bermimpi ketika kamu jatuh atau diremehkan orang lain. Kerja keras dan semangat pantang menyerah akan mewujudkan mimpi menjadi kenyataan.

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal kisah inspiratif dari William Tanuwijaya, pendiri sekaligus CEO dari Tokopedia. Sebelum kita mulai, buat kalian yang mau support channel ini agar terus berkarya, caranya gampang banget, kalian cukup klik subscribe dan nyalakan loncengnya. Dukungan kalian membantu banget supaya kita bisa rutin posting dan bersama-sama belajar di channel ini. 

William Tanuwijaya lahir pada tahun 1981 di Pematang Siantar, Sumatera Utara dan berasal dari keluarga yang sederhana. Dulu ketika dia kecil, kakeknya memiliki bisnis. Namun sayangnya, bisnis kakeknya bangkrut dan keluarganya pun ikut jatuh miskin. Walaupun begitu, orang tua William selalu mengutamakan pendidikan. Oleh karena itu, dengan segala keterbatasan, setelah lulus sekolah, William pergi ke Jakarta untuk kuliah jurusan teknik informatika di salah satu universitas swasta. Kehidupannya selama di Jakarta juga disokong oleh pamannya. Namun, ketika William berada di semester dua, ayahnya jatuh sakit. Kondisi ini membuat dia harus mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhannya di Jakarta. Saat itu, di sekitar kampus terdapat banyak sekali warung internet atau dikenal dengan warnet yang beroperasi 24 jam. Disitulah William mencoba melamar untuk kerja shift malam dari jam 9 malam hingga 9 pagi sebagai penjaga warnet dan dia diterima. Pekerjaan William sebagai penjaga warnet membuat dia jatuh cinta pada internet. Bagi dia, internet memberikan akses informasi yang seluas-luasnya. Jika dulu William hanya bisa tahu informasi dari buku, pada saat itu, ibaratnya semua informasi ada di genggaman tangannya, mau belajar apa saja bisa, mau tahu apa saja ada. Kecintaannya pada internet membuat William bertekad ingin bekerja di perusahaan internet seperti Google atau Facebook. Namun sayangnya, pada masa itu, perusahaan internet itu belum ada kantor cabang di Indonesia. 

Sumber foto: koreaherald.com

Setelah lulus kuliah, William bekerja seperti pegawai kantoran biasa sebagai software engineer pada tahun 2003. Hingga akhirnya pada tahun 2007, William menemukan peluang untuk membangun Tokopedia. Saat itu, transaksi online tidak aman. Ada masalah kepercayaan antara penjual dan pembeli yang tidak bisa bertemu satu sama lain karena jarak, namun ingin bertransaksi. Itulah peluang yang dilihat oleh William kalau dia bisa membuat Tokopedia sebagai jembatan antara penjual dan pembeli dengan sistem rekening bersama. Dalam hal ini, Tokopedia menjadi pihak ketiga untuk mengurangi tindakan penipuan berbasis online. Jadi, pembeli membayar barangnya kepada Tokopedia, apabila barangnya sudah sampai sesuai pesanan, maka Tokopedia kemudian meneruskan uangnya kepada penjual. 

Pada saat itu, apa yang dibuat oleh William tidak dikenal sebagai startup, tapi membangun website. Ekosistem digital saat Tokopedia berdiri juga belum sebagus sekarang, padahal permintaannya sangat besar. Masyarakat Indonesia yang tinggal di kota kecil tidak memiliki akses ke produk yang ada di kota besar, begitu juga sebaliknya. Walaupun begitu, William dan rekannya yaitu Leontinus Alpha Edison yakin bisa membangun infrastruktur Tokopedia karena mereka berdua merupakan lulusan Teknik Informatika. Namun, hal yang menjadi kendala paling besar adalah pendanaan. Mereka berdua pun sadar kalau untuk membangun bisnis ini membutuhkan modal yang cukup besar. Pada saat itu, mereka masih menjadi karyawan dari Indocom Group, kelompok usaha milik Victor Fungkong. Inilah yang membuat William dan Leon bertemu dengan Victor untuk mempresentasikan ide mereka soal Tokopedia. Respon Victor cukup terbuka atas idenya. Maklum saja, Victor merupakan orang yang sudah berpengalaman di bisnis internet dan membangun startup sejak tahun 2000 di Amerika Serikat. Victor pun lalu mengenalkan William dan Leon kepada teman-temannya agar mereka bisa mendapatkan dana investasi. Disitu William dan Leon belajar kalau membangun bisnis di Indonesia itu adalah tentang membangun kepercayaan. 

Sumber foto: pitchsonify.com

Selama dua tahun, mereka menawarkan ide Tokopedia ke orang kaya di Indonesia, namun tidak ada satupun yang tertarik untuk investasi di Tokopedia. Ada beberapa hal yang menjadi keraguan para investor pada masa itu. Pertama, para investor bertanya apakah ada orang Indonesia yang kaya dari bisnis internet? Tentu saja, pada masa itu tidak ada. Kedua, ada ketakutan dari investor soal kompetisi. Pada dasarnya, Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan dengan jumlah penduduk yang sangat banyak. Jika Tokopedia berhasil membuat permintaan soal belanja online, maka hal ini pasti akan membuat pemain marketplace besar di dunia akan masuk ke Indonesia. Apakah Tokopedia mampu bersaing dengan mereka? Ketiga, para investor juga bertanya soal background dari William dan Leon, seperti mereka berasal dari keluarga mana. Kalau Tokopedia gagal, apakah mereka bisa mengembalikan uang investasinya atau tidak? Keempat, para investor juga bertanya soal latar belakang pendidikan. Sedangkan, mereka berdua merupakan lulusan dari universitas swasta, bukan lulusan dari Ivy League di Amerika Serikat. Semua keraguan ini sulit dijawab dengan argumen yang kuat oleh William pada masa itu. Bahkan, dia juga sempat diremehkan oleh seorang calon investor. Waktu itu, William diberi nasehat oleh calon investor itu kalau mereka masih muda dan masa muda itu cuma sekali. Jangan disia-siakan dengan mimpi seperti ini, carilah hal yang lebih realistis. Tokopedia bagi calon investor itu adalah mimpi orang Amerika. Selain itu, role model William seperti Steve Jobs dan Mark Zuckerberg adalah orang yang lahir dalam kondisi yang spesial, sedangkan dia bukan. Kejadian pahit ini menjadi momentum bagi William, bukannya menyerah, hal ini malah menjadi dorongan kuat bagi William untuk mendirikan Tokopedia. Karena melihat kegigihan William dan timnya, akhirnya Victor yang menjadi investor pertama Tokopedia ketika mereka tidak berhasil mendapatkan investor satupun. Pada 6 Februari 2009, Victor mendirikan akta perusahaan Tokopedia bersama William dan Leon. Victor berkomitmen untuk berinvestasi sebesar 2,4 miliar sebagai modal awal sehingga dia memiliki 80% saham Tokopedia pada masa itu. Sedangkan, sisanya dimiliki oleh William dan Leon dengan persentase masing-masing 10%. Dari situ, Tokopedia resmi berdiri dan perlahan-lahan terus meningkat hingga akhirnya menjadi marketplace lokal terbesar di Indonesia. 

Selama membangun bisnis, William selalu ingat dengan kalimat yang pernah diucapkan oleh Soekarno. Indonesia adalah negara yang besar dan untuk menjadi negara yang besar maka harus berani bermimpi. Mimpilah setinggi langit, bila engkau jatuh, maka engkau akan jatuh di antara bintang-bintang. Kalimat inspiratif inilah yang selalu mendorong William untuk terus berani bermimpi dan tidak pernah menyerah walaupun banyak diremehkan ketika awal membangun Tokopedia. Menurut saya, kisah William mengajarkan kita pada kemampuan bermimpi dan kerja keras. Jika bermimpi saja kita tidak berani, bagaimana kita bisa menghasilkan hal besar? Sama halnya ketika kita mudah menyerah ketika hasil tidak sesuai harapan di awal atau ketika diremehkan oleh orang lain. Kekuatan mimpi inilah yang terus membuat kamu terus bersemangat dan berjuang dalam mewujudkan apa yang awalnya hanya mimpi hingga menjadi kenyataan. 

Sumber foto: blog.proofhub.com

Ada filosofi bisnis yang dipegang oleh William dalam mengembangkan Tokopedia yaitu filosofi bambu runcing. Semua orang Indonesia untuk bermimpi tinggi harus punya semangat bermimpi dengan bambu runcing. Bagi William, bambu runcing melambangkan tiga hal. Pertama, keberanian. Harus berani untuk memulai. Kebanyakan orang mau berbisnis, tapi hanya mimpi saja, tidak berani memulai. Kedua adalah kegigihan. Setelah kita berani memulai, selanjutnya kita harus punya semangat pantang menyerah. Dalam membangun bisnis di awal, pasti ada fase jatuh-nya. Nah, ketika kita jatuh, apakah kita berani untuk mencoba lagi? Sama halnya para pejuang Indonesia, bukan hanya keberanian tapi mereka juga punya semangat pantang menyerah untuk melawan penjajah. Ketiga adalah harapan. Para pejuang Indonesia bukan hanya berani dan gigih, tapi mereka juga punya harapan kalau suatu hari Indonesia pasti akan merdeka. Harapan inilah yang membuat mereka terus berjuang hingga akhirnya Indonesia bisa merdeka. Sama halnya dengan Tokopedia yang punya visi awalnya untuk membangun Indonesia melalui internet. Dari harapan tersebut, sekarang Tokopedia sudah menjangkau 98% kecamatan di Indonesia, 100 juta lebih pengguna aktif setiap bulan, dan lebih dari 9,4 juta penjual telah memanfaatkan Tokopedia untuk mengembangkan bisnisnya.

Versi animasinya bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.