Resep Hidup Bahagia

Menjadi bahagia itu ada formulanya yaitu dengan melakukan apa yang kamu suka dan menghabiskan waktu dengan orang yang dicintai. Tapi, untuk mencapai itu, kamu perlu memiliki kestabilan secara ekonomi.

Kali ini saya akan membahas buku The Algebra of Happiness karya Scott Galloway. Buku ini membahas soal variabel apa saja yang membuat hidup yang bahagia. Scott berpendapat, semakin dewasa seseorang, maka tingkat kebahagiaannya cenderung akan menurun. Hingga akhirnya, ketika dia berumur 30-an, tingkat stress yang makin tinggi, impian yang tidak tercapai, dan kenyataan hidup yang pahit membuat seseorang semakin tidak bahagia. Namun, ketika di penghujung umur 40-an hingga awal 50-an, tiba-tiba saja orang itu merasa kondisinya semakin baik dan dia kembali mulai bahagia. Semakin kamu tua, ternyata kamu belajar untuk menerima kenyataan dan menghargai apa yang kamu miliki. Jadi, bagaimana kita bisa menjadi lebih bahagia dalam sebuah perjalanan hidup? Scott menggunakan perumpamaan seperti aljabar yang kita pelajari saat sekolah, misalnya gabungan huruf dan angka seperti, X + Y = 7. X dan Y adalah variabel yang menghasilkan angka 7. Tugas kita adalah mencari tahu berapa angka X dan Y tersebut. Sama halnya dengan aljabar matematika, Scott mencoba untuk mencari tahu variabel apa yang membuat hidup kita bahagia? Ternyata, hidup yang bahagia itu merupakan hidup yang punya makna, cinta, dan kesuksesan. 

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Harga sebuah kesuksesan di usia muda
Sumber foto: freepik.com

Harga sebuah kesuksesan di usia muda

Coba bayangkan ketika kamu sekolah dan diberikan soal aljabar jika X + Y = 7, berapa nilai X? Jawabannya tentu saja bergantung pada nilai Y. Semakin tinggi angka Y, maka semakin kecil angka X dan begitu juga sebaliknya. Jadi, kalau dilihat lebih dalam, X dan Y bukanlah angka yang berdiri secara mandiri, tapi berkaitan satu sama lain. Prinsip yang sama juga terjadi dengan kebahagiaan. Coba kita bayangkan seperti ini. X adalah kehidupan pribadi, sedangkan Y adalah pekerjaan. Apakah ada orang yang sukses, kaya raya, punya tubuh yang atletis, jago main musik, dekat dengan orang tua, rutin bersedekah, dan terkenal? Jika ada, berapa banyak orang seperti itu? Apakah mereka bisa mendapatkan semua hal itu tanpa harta warisan orang tuanya? Scott berargumen, jika kamu mau masuk ke dalam 10% orang terkaya atau bahkan 1% orang terkaya, kamu harus menghabiskan 10-20 tahun untuk bekerja, bukan pada kehidupan pribadi. 

Ini adalah mitos keseimbangan. Kita suka dengar soal keseimbangan antara bekerja dan kehidupan pribadi. Kenyataannya, kalau kamu memang mau mengejar sukses di usia muda atau kaya raya di usia muda, maka ada harga yang harus dibayar, yaitu menghabiskan waktu lebih banyak untuk bekerja daripada kehidupan pribadi. Ini kenyataan yang tidak mudah untuk diterima semua orang. Kita sudah terbiasa diberikan sebuah kehidupan yang ideal di mana kaya raya, punya banyak waktu untuk keluarga, rutin berolahraga, punya badan atletis, dan sebagainya. Padahal, ada satu hal yang terbatas dalam hidup setiap orang yaitu waktu. Jika kita mengerjakan satu hal, maka kita akan kehilangan waktu untuk mengerjakan hal lain di waktu yang sama. Itulah sebabnya, kita harus paham ada harga yang harus dibayar pada setiap pilihan yang kita buat.

Pasangan adalah keputusan hidup yang sangat penting
Sumber foto: weirdworm.com

Pasangan adalah keputusan hidup yang sangat penting

Memilih pasangan yang tepat adalah keputusan hidup yang sangat penting dan merupakan indikator yang menentukan kebahagiaan dalam hidup seseorang. Scott bercerita, kalau dia punya teman yang punya karir yang bagus, kehidupan sosial yang menarik, dan pasangan hidup. Tapi, hidup temannya tidak bahagia, karena pasangan temannya bukanlah partner yang tepat. Mereka memiliki pandangan yang berbeda soal hidup. Tapi, sebaliknya, Scott punya teman yang sebenarnya tidak kaya raya secara ekonomi, punya sedikit teman, tapi punya pasangan yang tepat. Teman Scott dan pasangannya mampu berbagi tantangan dan kesuksesan dalam hidup yang mereka jalani. Menariknya, mereka ternyata lebih bahagia. Inilah yang membuat Scott menekankan kalau memilih pasangan adalah salah satu kriteria penting untuk hidup bahagia. Mungkin bagi sebagian orang, keputusan untuk menikah adalah karena sudah waktunya. Tapi, yang kadang tidak dipahami adalah memilih pasangan merupakan keputusan seumur hidup sekali. Tentunya, kita mengharapkan hubungan pernikahan yang bisa bertahan seumur hidup. Coba bayangkan seperti ini, apabila kita memilih sesuatu untuk seumur hidup, apakah kita memilih berdasarkan karena sudah waktunya untuk memilih? Atau kita memilih berdasarkan kriteria yang cocok.

Bagi Scott, ada tiga kriteria penting yang harus cocok satu sama lain yaitu ketertarikan secara fisik, nilai yang dianut, dan pandangan soal uang. Pada umumnya, pasangan saling suka karena adanya ketertarikan secara fisik. Hal ini biasanya merupakan kriteria awal. Setelah itu, barulah masing-masing mengecek kecocokan dari nilai yang dianut, misalnya dalam hal apakah seagama atau tidak, apakah mau punya anak atau tidak, bagaimana peran dalam rumah tangga, dan sebagainya. Ketiga adalah pandangan soal uang. Apa ekspektasi masing-masing pihak soal uang? Berapa banyak pendapatan minimum yang harus kalian miliki? Berapa besar kontribusi keuangan masing-masing pihak dalam rumah tangga? Ketiga hal ini, apabila cocok satu sama lain, maka akan membuat hubungan kamu dan pasangan menjadi lebih bahagia. Bagaimana bila ternyata ada yang tidak cocok? Tentu saja, semua hal itu harus dikomunikasikan dengan baik sehingga masing-masing pihak punya ekspektasi yang sama.

Uang dan kebahagiaan
Sumber foto: exchangecapital.com

Uang dan kebahagiaan

Apakah uang bisa membeli kebahagiaan? Ternyata, ada korelasi kalau uang bisa membeli kebahagiaan. Tapi, ketika kamu sudah sampai ke titik tertentu, korelasi antara uang dan kebahagiaan tidak memiliki pengaruh yang banyak. Titik yang saya maksud adalah titik di mana kamu sudah mencapai keuangan yang stabil dan cukup. Ketika kamu sampai ke titik ini, punya uang lebih banyak tidak membuat kamu bahagia. Melainkan, dengan uang yang kamu punya, kamu bisa membeli pengalaman. Sebagai contoh, travelling. Ini adalah cara kamu melihat dunia dengan perspektif yang berbeda. Dengan travelling, kamu jadi belajar soal budaya baru, lingkungan baru, suasana baru, dan sebagainya. Selain itu, bagi kebanyakan orang, mereka membeli pengalaman karena itu merupakan hal yang tidak terlupakan bagi mereka. Kenangan ini merupakan sebuah memori bahagia yang tersimpan dan sewaktu-waktu bisa dibuka kembali untuk dikenang. 

Mungkin ada perdebatan, mana yang lebih baik, menggunakan uang untuk membeli barang material atau pengalaman? Tentu saja, ini kembali ke pribadi masing-masing. Tapi, kebahagiaan yang berasal dari pembelian barang material seperti misalnya rumah atau mobil cenderung singkat. Ketika kita memiliki barang tersebut, biasanya kebahagiaan kita atas barang tersebut akan menurun seiring waktu. Namun, ketika kita membeli pengalaman, kebahagiaan cenderung bertahan lebih lama, mulai dari sebelum mengalaminya, merasakan pengalaman yang dibeli, dan kemudian mengenang pengalaman yang sudah dialami. Pengalaman juga kadang membantu kita untuk berbicara dengan orang lain, pengalaman ini menjadi sebuah ikatan dengan orang lain, bahkan dengan orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya. 

Versi animasinya bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.