Kisah Sukses Netflix

Untuk memenangkan persaingan, kita butuh inovasi yang jauh berbeda dari yang sudah ada. Inovasi ini butuh keberanian untuk mewujudkannya menjadi kenyataan.

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal kisah inspiratif dari Reed Hastings, co-founder dan CEO dari Netflix, yang awalnya sempat dianggap gagal hingga bisa menjadi salah satu platform streaming terbesar di dunia. Sebelum kita mulai, buat kalian yang mau support channel ini agar terus berkarya, caranya gampang banget, kalian cukup klik subscribe dan nyalakan loncengnya. Dukungan kalian membantu banget supaya kita bisa rutin posting dan bersama-sama belajar di channel ini. 

Reed Hastings lahir pada tahun 1960 di Boston, Amerika Serikat. Saat masih sekolah, dia bekerja part time untuk menjual pembersih debu dari rumah ke rumah selama setahun. Kemudian, dia melanjutkan kuliah jurusan matematika di Bowdin College dan berhasil meraih penghargaan atas risetnya di bidang matematika pada tahun 1981 dan 1983. Dari usianya yang masih muda, Reed punya jiwa sosial yang tinggi. Setelah lulus kuliah, Reed melamar untuk menjadi guru matematika pada misi pasukan perdamaian di Afrika. Pengalaman ini ternyata membentuk karakternya di masa depan yaitu melatihnya untuk berani mengambil resiko. Setelah kembali dari Afrika, Reed mengambil kuliah lanjutan di Stanford University pada tahun 1988. 

Sumber foto: suneducationgroup.com

Sebelum mendirikan Netflix, Reed sempat bekerja dulu di perusahaan teknologi bernama Adaptive Technology pada tahun 1991. Kemudian, dia keluar untuk mendirikan bisnisnya sendiri yaitu Pure Software. Tanpa disangka, Pure Software berkembang sangat cepat hingga akhirnya pada tahun 1997, perusahaannya dibeli oleh kompetitor terbesarnya yaitu Rational Software. Namun, karena tidak cocok dengan manajemen di perusahaan barunya, Reed memutuskan untuk keluar. Perjalanan bisnis Reed berikutnya pun dimulai. Reed bersama dengan Marc Randolph mendirikan Netflix pada tahun 1998. Saat awal didirikan, jangan dibayangkan seperti Netflix sekarang yang menyediakan layanan streaming. Pada masa itu, Netflix menyediakan penjualan DVD dan sewa film dalam bentuk DVD yang dikirimkan ke rumah penyewa. Prosesnya seperti ini, pengguna memesan film apa yang ingin mereka tonton di website Netflix, lalu mereka akan menerima film yang mereka inginkan dalam bentuk DVD yang dikirim via pos. Ketika sudah selesai nonton, pengguna tersebut tinggal mengirimkan DVD-nya kembali ke Netflix. Target pasar Netflix adalah orang yang rumahnya jauh dari tempat rental DVD. Mungkin sebagai informasi, di zaman dulu sebelum internet sekencang sekarang, kita menonton film itu dari DVD, jadi pada masa itu, kita banyak menemukan toko rental DVD di berbagai area. 

Kemudian, pada tahun 1999, Netflix memperkenalkan model bisnis yang berbeda. Model bisnis Netflix bukan pay per view, artinya konsumen tidak membayar dari setiap DVD yang dia ingin sewa, tapi dengan sistem langganan. Jadi, selama langganan, konsumen bebas menyewa DVD apapun yang mereka inginkan. Dan, satu hal lagi yang paling menarik, tidak ada biaya keterlambatan. Jadi, karena model bisnisnya bukan pay per view, Netflix tidak perlu memaksa konsumen untuk segera mengembalikan DVD yang mereka tonton. Tapi, kalau konsumen ingin nonton film yang lain, mereka harus mengembalikan dulu pinjaman DVD yang lama ke Netflix, baru boleh sewa DVD yang lain. Model bisnis ini pelan-pelan membunuh kompetitor terbesarnya yaitu Blockbuster yang merupakan perusahaan penyedia bisnis sewa DVD tapi dengan sistem pay per view, ditambah lagi ada denda keterlambatan. Walaupun model bisnisnya berhasil dan Netflix sudah punya lebih dari 300 ribu pelanggan di tahun 2000, perusahaan mereka merugi. Hingga akhirnya, Reed dan rekannya datang ke Blockbuster dan menawarkan mereka untuk membeli Netflix dengan harga 50 juta dolar. Namun, Reed dan rekannya malah ditertawakan oleh CEO Blockbuster pada masa itu. Kerjasama bisnis yang gagal dengan Blockbuster memaksa Netflix harus berjuang untuk bertahan hidup. Pelan-pelan bisnisnya kembali stabil dan keuangannya pun membaik. 

Sumber foto: kompasiana.com

Pada tahun 2007, Netflix memperkenalkan sistem streaming di mana pelanggan bisa langsung menonton film yang mereka sukai tanpa harus menyewa DVD. Walaupun sukses sebagai perusahaan penyewaan DVD secara online, Netflix tidak berhenti sampai disitu. Reed sadar kalau model bisnis pengiriman DVD ke rumah pelanggan, bukanlah model yang ideal dan pasti akan punah dimakan zaman. Itulah yang membuat dia mempersiapkan Netflix untuk perjalanan selanjutnya yaitu bisnis streaming. Ketika awal Netflix memperkenalkan sistem streaming, antusiasme pelanggannya tidak tinggi, apalagi mereka menaikkan harga langganan penyewaan DVD agar “memaksa” para pelanggannya untuk beralih ke layanan streaming. Hal ini tidak menghentikan Netflix untuk bertransformasi dan ternyata keputusan Reed untuk berubah adalah pilihan yang tepat. 

Pencapaian terbesar Netflix berikutnya yaitu pada tahun 2013. Di tahun sebelumnya, Netflix selalu membeli hak tayang agar sebuah program bisa ditayangkan di Netflix. Namun, di tahun itu, Netflix memutuskan untuk membuat program sendiri yang dia beri nama Netflix Originals. Tayangan pertama yang akan mereka buat adalah serial House of Cards dengan biaya mencapai 100 juta dolar untuk seri pertamanya. Ini adalah keputusan yang besar dan apabila gagal, maka hal ini sangat mengganggu keuangan perusahaan. Beruntungnya, ini adalah langkah yang tepat. House of Cards mampu menaikkan pelanggan Netflix secara signifikan. Karena kontennya eksklusif di Netflix, orang jadi penasaran ketika mendengar temannya menonton serial itu di Netflix. Hal ini kemudian membuat orang tersebut memutuskan untuk berlangganan di Netflix. Bukan cuma itu, ketika menayangkan House of Cards, Netflix langsung menayangkan semua episodenya sekaligus. Strategi ini ternyata berhasil untuk membuat pelanggannya menjadi ketagihan untuk menonton Netflix. Dari situ, bisnisnya terus berkembang hingga sekarang menjadi salah satu platform streaming terbesar dengan jumlah pelanggan mencapai ratusan juta di seluruh dunia.

Sumber foto: medium.com

Dari kisah Netflix, saya mengambil beberapa pelajaran penting. Pertama, jangan ikuti kompetitor. Jika ingin menang dalam persaingan, kita jangan ikuti kompetitor. Seperti di buku Zero to One, agar menang dalam kompetisi, kita harus bisa menawarkan inovasi yang jauh berbeda. Coba bayangkan, jika Netflix mengikuti pemain terbesar mereka saat itu yaitu blockbuster. Mereka tidak akan membuat sistem langganan, tapi mereka akan menggunakan sistem pay per view seperti kompetitornya. Netflix juga tidak akan menggunakan sistem online, melainkan akan membuka toko rental DVD seperti kompetitornya. Namun, mereka tidak melakukan semua itu, karena mereka tidak mengikuti kompetitornya. Kedua, berani ambil resiko. Apapun yang kita lakukan dalam hidup pasti ada resikonya. Tidak melakukan apapun juga tetap ada resikonya. Tapi, ketika kita yakin atas apa yang kita lakukan dan mampu mengelola resikonya, kita harus berani bertindak. Ingat soal keputusan Netflix dalam membuat program Netflix Original. Coba bayangkan, jika hal itu tidak dia lakukan. Maka, Netflix mungkin tidak bisa sebesar sekarang. Ketiga, produk yang sederhana. Netflix menawarkan produk yang mudah dimengerti oleh pelanggannya. Dari awal, pesan Netflix sederhana yaitu kamu bisa nonton film apa saja, dimanapun, dan kapanpun yang kamu mau dengan harga yang tetap setiap bulannya. Hal ini yang membuat Netflix menciptakan budaya binge watching, di mana mereka langsung mempublikasikan satu seri penuh di hari pertama penayangan. Padahal, pada masa itu, pelanggan terbiasa nonton serial episode yang tayang satu per satu setiap minggu. Karena model bisnisnya adalah langganan, Netflix hanya perlu meningkatkan jumlah pelanggannya setiap bulan. Oleh karena itu, ketika mereka menayangkan semua serial-nya secara utuh, hal ini membuat pelanggannya menghabiskan banyak waktu di dalam platform Netflix. Dampaknya, pelanggan itu akan mempromosikan Netflix karena konten yang mereka tonton hanya ada di sana dan ujung-ujungnya orang lain jadi tertarik untuk berlangganan. 

Versi animasinya bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.