Tips Sukses ala Sandiaga Uno

Setiap orang punya jalan hidupnya yang unik. Dalam hidup, kita harus bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas, dan bekerja ikhlas. Niscaya, rezeki kita tidak akan tertukar.

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal kisah inspiratif dari Sandiaga Uno.

Sandiaga Uno lahir dari keluarga profesional. Oleh karena itu, dari kecil, Sandi dididik untuk belajar yang rajin agar bisa menjadi karyawan profesional yang kompeten. Setelah tamat SMA, awalnya Sandi ingin melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi UI, tapi ayahnya memberikan dia kesempatan untuk kuliah di luar negeri. Dari tempat kerja ayahnya yaitu di Caltex yang sekarang sudah berubah nama menjadi Chevron, Sandi berhasil mendapatkan beasiswa bergengsi di Wichita State University di Amerika Serikat. Sebagai informasi, Wichita State University merupakan universitas yang berkualitas tinggi di daerah Kansas, Amerika Serikat. Kesempatan ini digunakan Sandi dengan belajar sebaik-baiknya. Hingga akhirnya, Sandi berhasil lulus dengan predikat summa cumlaude dan meraih gelar Sarjana Administrasi Bisnis di Wichita State University di Amerika Serikat. Disinilah Sandi belajar kalau dia harus bisa sukses di negeri orang dan pulang membawa prestasi.

Setelah lulus kuliah dengan predikat tinggi, Sandi mengawali karirnya untuk bekerja di Bank Summa milik dari pendiri Astra almarhum William Soeryadjaya atau dikenal dengan nama Om Wilem. Karena kinerjanya bagus, di tahun 1991, dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Amerika Serikat. Namun sayangnya, tidak lama kemudian, Bank Summa harus dilikuidasi pada tahun 1992. Kondisi ini membuat Sandi harus bekerja keras. Demi kelanjutan kuliah, dia harus bekerja menjadi asisten laboratorium di kampus dengan gaji tiga dolar per jam. Peristiwa ini merupakan tantangan yang menjadi peluang dan hasil tidak akan pernah membohongi usaha. Sandi berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan dengan indeks prestasi kumulatif 4,0. Dari situ, karirnya terus naik. Setelah lulus kuliah, Sandi pun memutuskan untuk bekerja di Singapura. Di sana, dia bekerja sebagai manajer investasi dari perusahaan Seapower Asia Investment. Kemudian pada tahun 1995, Sandi pindah ke Kanada untuk bekerja di perusahaan minyak dan gas NTI Resources Ltd dan menduduki jabatan Wakil Presiden Eksekutif. Di sana, dia mendapatkan gaji yang fantastis yaitu sebesar USD 8,000 per bulan. Namun sayangnya, pada tahun 1997 terjadi krisis moneter dan akhirnya Sandi di-PHK. Kondisi ini membuat Sandi memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan menjadi pengangguran.

pekerjaan yang stabil
Sumber foto: amansquest.com

Ketika pulang ke Indonesia, hal pertama yang dilakukan oleh Sandi adalah mencari pekerjaan baru. Namun, karena kondisi ekonomi yang sulit, Sandi tidak diterima di perusahaan manapun, bahkan dia ditolak oleh 25 perusahaan. Kondisi ini akhirnya memaksa dia untuk mencoba sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya yaitu menjadi pengusaha. Awalnya, Sandi tidak pernah berniat untuk menjadi pengusaha. Dari kecil hingga dewasa, dia disiapkan untuk menjadi karyawan yang hebat. Namun, jalan hidup berkata lain. Setelah menjalani karir selama 8 tahun dan terus menanjak, tapi sayangnya terjadi sebuah krisis yang maha dahsyat di tahun 1997 dan 1998. Pada masa itu, Sandi harus menerima kenyataan pahit kalau dia di-PHK dari perusahaan tempat dia bekerja. Bukan hanya itu, di awal Desember 1998, istrinya baru saja melahirkan anak kedua mereka. Beruntungnya, ada sahabat yang mengulurkan bantuan sehingga istri dan bayinya bisa keluar dari rumah sakit. Ini merupakan titik terendah dalam hidup Sandi. Kejadian tidak pernah terbayangkan sebelumnya di benak Sandi. Kehidupan yang awalnya stabil menjadi karyawan, mendapatkan gaji bulanan dan tunjangan. Dalam seketika, semua itu hilang. Namun, Sandi tidak menyerah. Ibaratnya, ini adalah moment of truth dalam hidup dia. Sandi berusaha menyikapi musibah ini menjadi sebuah berkah dengan mengubah pola pikirnya kalau PHK itu adalah jalan dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk berpindah kuadran dari seorang karyawan menjadi seorang pengusaha.

Sandi memulai usaha dengan modal nekad. Waktu itu, dia tidak punya apa-apa, tidak punya modal, bahkan istrinya harus menjual perhiasan dari mertuanya yang dijadikan sebagai modal usaha. Bagi Sandi, dalam memulai usaha, memang diperlukan keteguhan dan motivasi yang kuat. Dalam kisah Sandi, keadaan memaksa dia untuk menjadi nekad dan punya dorongan yang kuat untuk memulai usaha. Tapi, nekad saja tidak cukup, Sandi punya prinsip dalam bekerja. Bagi dia, bekerja itu harus 4K, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas. Dalam bisnis, kita pasti akan menemukan peluang dalam hidup kita. Peluang ini mungkin kita bisa fokuskan kepada hal yang menjadi passion kita sendiri. Peluang ini tidak boleh disia-siakan, cara kita menghargainya yaitu dengan bekerja keras. Namun, hal ini saja tidak cukup. Di zaman sekarang, kita bersaing bukan hanya dengan pelaku usaha di dalam negeri, tapi juga bersaing dengan pengusaha yang ada di luar negeri. Itulah alasannya, langkah selanjutnya yaitu kerja cerdas. Kita harus bisa memanfaatkan kemajuan teknologi sehingga bisnis kita memiliki daya saing. Setelah kerja keras dan kerja cerdas, langkah berikutnya yaitu kerja tuntas. Kadang, apabila kita diberikan tugas, kita cenderung berhenti di tengah jalan, entah itu karena bosan, terlalu sulit, atau ada kemalasan dalam diri kita. Ini merupakan kebiasaan yang harus diubah apabila ingin sukses. Kita harus mengerjakan sesuatu dengan tuntas dari awal hingga selesai. Hingga akhirnya, kita harus bekerja ikhlas. Kita menyadari kalau dengan bekerja ikhlas, rezeki kita tidak akan tertukar. Hal yang bisa kita kontrol adalah apa yang kita kerjakan, sedangkan hasilnya seperti apa diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. 

memulai bisnis
Sumber foto: wallpaperflare.com

Pengalaman berbisnis dia pertama kali yaitu dengan mendirikan perusahaan bersama teman SMA-nya yaitu Rosan Roeslani, yang sekarang juga menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang Indonesia atau dikenal dengan KADIN. Perusahaan yang mereka dirikan bernama PT Recapital Advisors pada tahun 1997 yang bergerak di bidang jasa konsultan keuangan. Setelah setahun menjalani bisnis itu, kondisi keuangan mereka belum juga membaik. Pada masa itu, ada cerita yang cukup sedih. Suatu hari, uang di dompet Sandi benar-benar sudah habis dan dia perlu uang untuk membeli susu anak pertamanya. Ketika sampai di kantor, Sandi langsung meminjam uang kepada Rosan. Cuma sayangnya, uang yang dimiliki Rosan saat itu hanya tersisa untuk makan siang mereka berdua. Hingga akhirnya, Sandi bersama dengan Edwin Soeryadjaya mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya, perusahaan investasi yang menggarap beberapa bidang usaha seperti pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan. Model bisnisnya yaitu Saratoga menghimpun modal investor untuk mengakuisisi perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Setelah itu, kinerja perusahaan tersebut dibenahi dan setelah pulih, maka perusahaan itu akan dijual dengan nilai yang tinggi. Pelan-pelan bisnis yang dijalani Sandi mulai berkembang hingga akhirnya Sandi berhasil menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. 

Ada pengalaman berkesan dari almarhum Bob Sadino di dalam benak Sandi. Saat itu, Bob berpesan kalau mau jadi pengusaha, jangan terlalu banyak dihitung, jangan terlalu banyak dipikir, nyemplung aja. Ini sesuai dengan kondisi Sandi saat itu, karena keadaan, akhirnya dia terpaksa harus nyemplung. Namun, ketika sudah menjadi pengusaha, Sandi terus mengasah kemampuan dan memastikan kalau dia memiliki daya saing dan diferensiasi dengan perusahaan lain. Bagi Sandi, dunia usaha seperti naik sepeda, sering jatuh bangun. Oleh karena itu, perlu keberanian dan optimisme dalam memandang masa depan untuk membuka jalan dalam menuju kesuksesan. 

Versi animasinya bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.