Cara Memulai Obrolan dengan Orang Baru

Kemampuan komunikasi yang baik bisa dipelajari dan butuh latihan untuk menguasainya. Pada akhirnya, apabila kita ingin dimengerti oleh orang lain, kita harus mulai dengan mengerti mereka dulu.

Kali ini saya akan membahas buku How to Talk to Anyone karya Leil Lowndes. Buku ini membahas soal kumpulan tips agar kita bisa lancar berbicara dengan orang lain. Dalam percakapan, kita bukan hanya berinteraksi dengan kata, tapi orang lain juga menilai kita dengan atribut yang lain seperti bahasa tubuh, gaya pakaian, pembawaan, raut muka, dan komponen lain yang akhirnya membentuk impresi kita di mata orang lain. Ada informasi yang cukup unik. Apakah kamu tahu orang yang sukses tidak selalu merupakan orang yang paling pintar, paling menarik, atau punya pendidikan tinggi. Tapi, seringkali mereka berhasil karena mereka tahu bagaimana caranya berinteraksi dengan orang lain. Fakta lain yang menarik adalah manusia berinteraksi satu sama lain lebih banyak pada level bawah sadar. Penelitian membuktikan kalau ada sekitar 10,000 unit informasi per detik yang bergerak dari satu orang ke orang lainnya saat mereka berinteraksi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memberikan kesan pertama yang menarik untuk membuat interaksi kamu dengan mereka jadi lebih baik di kemudian hari.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Impresi pertama sangat penting
Sumber foto: entrepreneur.com

Impresi pertama sangat penting

Pembicara yang terkenal, aktor, politisi, dan salesman tidak terlahir dengan kemampuan yang pandai berbicara. Tapi, mereka bekerja keras agar bisa berbicara dengan efektif, menjadi menarik, dan melakukan persuasif kepada orang lain. Semua ini ada ilmunya dan bisa dipelajari. Kamu pun bisa menjadi mereka apabila kamu mau belajar. Poin awal yang paling penting adalah soal impresi pertama. Penampilan dan pembawaan kita mampu memberikan 80% informasi kepada orang lain sebelum kita berbicara satu patah kata pun. 

Ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk memberikan impresi pertama yang menarik. Pertama, senyum secara perlahan. Ketika kamu bertemu orang baru, jangan langsung tersenyum. Orang lain akan berasumsi kalau kamu melakukan hal ini kepada semua orang. Ada cara yang lebih baik. Ketika kamu bertemu orang baru, tatap mata lawan bicara kamu, tunggu satu hingga dua detik, kemudian kamu baru tersenyum. Jeda singkat ini akan memberikan makna kalau kamu tidak tersenyum karena formalitas, tapi karena kamu bertemu lawan bicara inilah makanya kamu tersenyum. Secara alam bawah sadar, kamu membuat mereka merasa lebih spesial. Kedua, jaga kontak mata. Ini adalah hal yang umum, tapi kadang tidak dilakukan. Tanpa sadar kontak mata kita tidak fokus ketika pembicaraan membosankan atau lawan bicara kita kurang menarik. Apabila kita melakukan hal ini, lawan bicara kita akan merasa tersinggung karena seakan-akan mereka tidak dihargai. Apapun yang terjadi, kamu harus tatap mata lawan kamu, baik ketika kamu berbicara ataupun ketika kamu mendengarkan. Artinya, kamu memberikan tanda kalau mereka adalah orang yang penting buat kamu dan mereka memiliki perhatian kamu seutuhnya pada saat itu. Ketiga, The Big Baby Pivot. Maksudnya adalah ketika kamu bertemu orang baru, arahkan tubuh kamu menghadap langsung ke arah mereka dan berikan 100% perhatian. Coba bayangkan ketika kamu bertemu anak bayi yang lucu, nah lakukan hal yang sama ketika kamu bertemu dengan orang lain yang baru dikenal. 

Seni small talk
Sumber foto: yourwritetolive.com

Seni small talk

Mungkin kamu merasa kalau small talk itu tidak berguna, tapi hal itu tidak benar. Dalam hubungan bisnis atau pertemanan, small talk itu punya peran penting dalam membuat hubungan jadi lebih cair. Ketika kita bertemu orang baru, kita terbiasa mengajukan beberapa pertanyaan kecil, seperti asalnya darimana? Kerja apa? Biasanya ketika diberikan pertanyaan seperti ini, secara alamiah orang akan menjawab singkat saja, misalnya asal Jakarta dan dokter. Nah, tugas kamu adalah harus bisa memberikan elaborasi. Kamu harus bisa membuat percakapan yang awalnya small talk menjadi cair dan mereka bisa melihat kamu bukan sebagai orang asing, tapi seperti teman lama. Sebaliknya, kalau ada orang yang tanya kamu asalnya dari mana dan kerja apa, tambahkan beberapa fakta menarik agar percakapan bisa terus berjalan. Karena kalau orang itu tidak punya informasi soal asal daerah kamu dan pekerjaan kamu, maka pasti percakapan akan berhenti sampai di sana. 

Tips lain yaitu jadilah pendengar yang baik. Ketika kamu berbicara, maka perhatiannya ada di kamu. Tapi, ketika orang lain bicara, artinya perhatiannya berpindah ke dia. Semakin sering orang itu bicara dan kamu mendengarkan dengan baik, maka dia akan merasa diperhatikan. Efeknya, dia akan lebih suka dengan kamu dan menganggap kamu adalah teman ngobrol yang asik. Selain jadi pendengar yang baik, ada cara lain yang disebut sebagai parroting. Cara ini yaitu dengan mengulang kembali beberapa kata terakhir dari kalimat lawan bicara kamu. Kamu bisa mempraktekkan cara ini untuk memaksa dalam tanda kutip lawan bicara kamu untuk terus berbicara. Misalnya seperti ini, ada yang bilang film-nya jelek ya. Kamu bisa bilang,”Filmnya jelek?” Dengan begitu, lawan bicara kamu pasti terdorong untuk memberikan informasi tambahan atas kalimat yang sebelumnya sudah dia sampaikan.

Meniru bahasa tubuh orang lain
Sumber foto: pinterest.com

Meniru bahasa tubuh orang lain

Ada fakta yang unik soal hubungan antar manusia, kita cenderung lebih suka dengan orang yang punya kesamaan dengan kita. Nah, kita bisa menggunakan fakta ini untuk menekankan kesamaan yang kita punya dengan lawan bicara kita sehingga membuat mereka merasa lebih nyaman. Caranya yaitu dengan meniru gerakan lawan bicara kamu. Coba perhatikan bahasa tubuh mereka dan coba ikuti. Ingat, kamu harus berikan jeda waktu agar lawan bicara kamu tidak merasa aneh. Kalau mereka sadar jika kamu meniru perilaku mereka, hal ini malah membuat mereka menjadi tidak nyaman. Tapi, tenang saja, semua ini bisa dilatih. 

Ketika kamu meniru, yang ditiru bukan hanya soal gerakan, tapi juga intonasi nada bicara. Kamu juga bisa menggunakan intonasi yang sama dengan apa yang lawan bicara kamu gunakan. Apabila nada suaranya lemah lembut, kamu bisa pakai nada yang sama. Selain nada suara, jangan hanya gunakan kata iya atau setuju sebagai respon dari kalimat lawan bicara kita. Ketika orang lain berbicara, kita suka tidak sadar kalau kita juga ikut bergumam bilang iya atau oke, sebagai ungkapan kalau kita setuju. Namun, ada cara yang lebih baik. Leil menyarankan kita untuk menggunakan kalimat yang utuh dalam memberikan respon. Sebagai contoh, saya setuju sekali dengan apa yang kamu sampaikan atau saya jadi paham kenapa kamu melakukan hal itu. Dengan memberikan kalimat secara utuh, lawan bicara kita akan merasa kalau kita serius mendengarkan, bukan hanya formalitas. Kuncinya adalah ketika melakukan kegiatan meniru adalah kamu harus melakukannya dengan sepenuh hati. Karena ketika kamu memalsukannya, mereka pasti akan sadar. Hal ini seperti yang sudah dijelaskan di awal, 80% pembicaraan kebanyakan berasal dari komunikasi non verbal. 

Versi animasinya bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.