Mencari Kebahagiaan Sejati | The Monk Who Sold His Ferrari

Kita baru merasakan kebahagiaan sejati ketika kita sadar kalau kebahagiaan itu berasal dari dalam. Tidak ada hal apapun di dunia yang bisa kamu tukar dengan waktu yang hilang akibat menjalani hidup yang tidak kamu inginkan.

Kali ini saya akan membahas buku The Monk Who Sold His Ferrari karya Robin Sharma. Buku ini membahas soal kebahagiaan sejati bukan berasal dari material duniawi, tapi berasal dari dalam diri. Bagi beberapa orang, mungkin hal ini terdengar klise. Hal ini disebabkan karena kita terbiasa untuk terpesona dengan hal di luar diri, seperti kekayaan, ketenaran, dan barang mewah. Tapi, apakah hal ini membuat kita bahagia? Apakah hal ini lebih penting daripada hidup yang memiliki makna? Apakah semua hal duniawi lebih penting daripada kesehatan dan hubungan baik dengan orang yang kita cintai? Mungkin, kita merasa hal duniawi tidak lebih penting, tapi apakah kita benar-benar yakin atas hal ini? Robin menggunakan sebuah cerita fiksi untuk mengajarkan pentingnya untuk mengetahui perbedaannya dan bagaimana cara kita bisa memiliki makna hidup sejati yang akhirnya membawa kita kepada kebahagiaan.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Kisah Pengacara Sukses yang Menjual Ferrari
Sumber foto: luxurylaunches.com

Kisah Pengacara Sukses yang Menjual Ferrari

Robin menceritakan sebuah cerita fiksi dari seorang pengacara sukses bernama Julian Mantle. Bagi kebanyakan orang, hidup Julian adalah hidup yang sempurna. Julian lulus dari jurusan hukum Harvard dan terkenal sebagai pengacara paling hebat di Amerika Serikat. Dia juga menjalani hidup dengan bergelimangan harta, punya rumah besar, jet pribadi, dan tentu saja mobil Ferrari. Walaupun sudah mencapai titik tersebut, Julian merasa tidak bahagia. Dia menginginkan sesuatu yang lebih lagi, lebih terkenal, lebih banyak uang, hingga akhirnya dia harus bekerja hampir 18 jam sehari. Semua hal ini memberikan dampak buruk pada kehidupan pribadi dan kesehatannya. Julian jarang sekali berkomunikasi dengan keluarganya, hingga akhirnya dia bercerai dengan istrinya. Selain itu, tekanan kerja yang tinggi dan stress luar biasa membuat wajahnya seperti orang berusia 80 tahun, padahal usianya baru 53 tahun. Hingga suatu hari, di ruang sidang, Julian merasakan rasa sakit di dadanya dan seketika dia pingsan. Julian langsung dilarikan ke rumah sakit dan dia diagnosa terkena serangan jantung. Ketika dia sadar, dokter menyarankan Julian untuk jangan bekerja terlalu keras. Sebagai konsekuensinya, dia juga diminta untuk mengundurkan diri dan hidup tenang menikmati hasil kerja kerasnya selama ini. Julian tidak menyangka akan hal ini. Kemudian, dia merenung selama beberapa hari hingga akhirnya dia mengambil sebuah keputusan besar.

Di suatu pagi, Julian memutuskan untuk menjual semua barang miliknya, rumah mewah, jet pribadi, dan bahkan mobil Ferrari kesayangannya. Ketika dia sudah menjual semuanya, Julian pergi untuk mencari makna hidup yang sejati. Perjalanan ini membawa Julian untuk pergi ke India, menuju gunung Himalaya di mana tempat para pertapa India tinggal. Para pertapa ini terkenal memiliki tingkat kebijaksanaan yang tinggi. Menurut salah satu sumbernya, Julian mengetahui kalau para pertapa ini hidup bahagia lebih dari 100 tahun, walaupun usianya menua, tapi mereka masih punya energi seperti anak muda. Setelah berjalan berhari-hari, akhirnya Julian bertemu salah satu pertapa yang bersedia mengajak dia masuk ke desa rahasia mereka. Julian kemudian tinggal di sana bersama para pertapa. Karena dedikasinya yang luar biasa, kepala pertapa memutuskan untuk mengajarkan Julian prinsip untuk hidup bahagia, tapi dengan syarat, setelah Julian menguasainya, dia harus membagikannya ke seluruh dunia agar orang lain juga bisa merasakan manfaatnya.

Kebahagiaan batin dari pikiran
Sumber foto: coolefitness.com

Kebahagiaan batin dari pikiran

Seorang pertapa bernama Yogi Raman membagikan kebijaksanaannya dengan Julian. Yogi menjelaskan 7 Kebajikan Sivana dalam sebuah dongeng. Suatu hari, ada sebuah taman yang indah, tenang, damai, dan dipenuhi berbagai bunga yang cantik. Di tengah taman itu ada sebuah mercu suar berwarna merah. Suatu hari, kedamaian dari taman itu diganggu oleh seorang pegulat sumo yang keluar dari mercu suar. Seperti kebanyakan pegulat sumo lainnya, pegulat sumo itu hanya memakai mawashi berwarna pink. Sebagai informasi, mawashi adalah kain sabuk yang dililitkan ke tubuh pegulat sumo dan berfungsi sebagai celana. Oke, kita lanjut lagi ke ceritanya. Kemudian, pegulat sumo itu berkeliling di taman untuk mencari sebuah stopwatch yang terbuat dari emas. Tanpa dia sadari, dia menginjak stopwatch itu dan tergelincir, seketika dia jatuh ke tanah dan pingsan. Kemudian, pegulat sumo itu sadar dan penuh energi berkat bunga mawar kuning yang wanginya semerbak. Ketika dia bangun, dia melihat sebuah jalan yang penuh dengan berlian. Pegulat sumo itu merasa sungguh bahagia dan menuju jalan yang penuh berlian dan menikmati kebahagiaan sejati. Mungkin bagi beberapa orang, kisah ini cukup aneh, tapi setiap elemen ini memiliki maknanya masing-masing.

Yogi mengibaratkan pikiran setiap orang seperti sebuah taman. Jika kita memperhatikan apa yang kita pikirkan dan mengembangkannya dengan benar, maka taman itu akan tumbuh subur dan indah. Sebaliknya, apabila kita tidak merawat taman itu dengan baik, maka akan sulit untuk memiliki ketenangan dalam diri. Kita harus menjadi penjaga bagi taman kita sendiri. Penting untuk membiarkan pikiran positif dan menyenangkan untuk masuk dan menghentikan pikiran negatif untuk masuk. Karena pada akhirnya, pikiran lah yang akan membentuk hidup kita seperti apa. Jadi, jika kamu menginginkan hidup yang bahagia dan bermakna, maka kita harus memastikan bahwa pikiran kita dipenuhi oleh hal yang membuat hidup kita bahagia dan bermakna.

Perbaikan diri dan disiplin untuk menghargai waktu
Sumber foto: ecoleglobale.com

Perbaikan diri dan disiplin untuk menghargai waktu

Kamu masih ingat sumo dalam cerita ini? Sumo adalah representasi dari konsep kaizen yang merupakan filosofi dari Jepang yang berarti perbaikan terus menerus tanpa henti. Sebagai informasi, untuk menjadi seorang pegulat sumo profesional, mereka harus berlatih setiap hari dan perlahan-lahan meningkatkan asupan kalori ke tubuhnya. Saya rasa itulah kenapa Robin menggunakan pegulat sumo sebagai analoginya. Perlu kamu sadari, kalau kesuksesan dimulai dari dalam. Kamu tidak akan bisa berubah jika kamu tidak berubah. Seperti halnya seorang tukang kebun yang terus merawat dan menjaga tamannya, maka kamu juga harus selalu bertumbuh. Selain perbaikan diri, Robin juga menekankan soal disiplin. Robin menjelaskannya dengan menggunakan perumpamaan pegulat sumo yang hanya memakai mawashi berwarna pink. Mawashi ini merupakan representasi dari pengendalian diri dan disiplin. Sebagai informasi, mawashi dibentuk dari benang tipis yang dirajut satu sama lain sehingga membentuk sebuah kain yang kuat. Apabila benang ini sendirian maka hal ini lemah, tapi akan kuat jika bersama-sama. Analogi ketiga yaitu stopwatch emas yang menggambarkan pentingnya waktu. Ketika orang baru sadar apa yang mereka inginkan, ternyata semuanya sudah terlambat. Kamu adalah tuan dari waktu yang kamu miliki dan sudah seharusnya kamu bisa hidup sepenuhnya. Sebagai perumpamaan, jalani hidup setiap harinya seperti hari itu adalah terakhir kamu hidup. Dengan begitu, kamu tidak akan menghabiskan waktu untuk kegiatan yang sebetulnya tidak kamu inginkan.

Versi animasinya bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.