Mengapa Kita Bekerja? Apakah Untuk Uang?

Setiap orang punya alasan untuk bekerja, entah hanya sebagai pekerjaan, karir, atau panggilan. Di fase apapun yang kamu rasakan, bekerja itu idealnya tidak hanya soal uang, tapi juga soal kepuasan dan kebanggaan atas apa yang kamu kerjakan.

Kali ini saya akan membahas buku Why We Work karya Barry Schwartz. Sebelum kita mulai, buat kalian yang mau support channel ini agar terus berkarya, caranya gampang banget, kalian cukup klik subscribe dan nyalakan loncengnya. Dukungan kalian membantu banget supaya kita bisa rutin posting dan bersama-sama belajar di channel ini. Buku ini membahas soal kenapa orang bekerja? Apa makna pekerjaan dalam hidup mereka? Apa yang membuat mereka merasa pekerjaan mereka bermakna? Berdasarkan penelitian, ada 90% orang dewasa yang menghabiskan setengah hidup mereka untuk melakukan hal yang tidak mereka suka. Kita terbiasa diajarkan kalau bekerja itu untuk uang. Tapi, kenapa banyak orang yang tidak suka dengan pekerjaannya, walaupun pendapatannya besar? Kenapa ada orang yang menemukan kepuasan yang luar biasa, padahal pendapatannya biasa saja? Barry berusaha mencari tahu alasan di balik ini semua agar kita bisa menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik. 

Saya merangkumnya menjadi tiga hal menarik dari buku ini:

Alasan orang bekerja
Sumber foto: evernote.com

Alasan orang bekerja

Ini mungkin merupakan pertanyaan yang sederhana. Kita terbiasa untuk diajari kalau bekerja ya untuk uang. Tentu saja, hal ini tidak salah. Tapi, apakah hanya untuk uang? Tentu saja tidak. Ketika orang ditanya, kenapa mereka puas dengan pekerjaan mereka sekarang, uang hampir tidak pernah muncul menjadi alasan utama. Alasan non keuangan selalu menjadi daftar panjang alasan kepuasan orang dalam bekerja. Karyawan yang puas memiliki keterikatan dengan pekerjaan mereka. Lingkungan kerja saat ini didesain dengan cara yang tidak ideal, cenderung diarahkan menggunakan uang sebagai alat utama, dan kadang menggunakan insentif untuk mendorong performa kerja. Untuk beberapa orang, uang merupakan insentif yang paling penting, tapi bagi orang lain, malah jadi demotivasi, bukannya tambah produktif, malah performa kerjanya menjadi makin tidak efektif dan kreatif. Orang biasanya melihat pekerjaan dari tiga sudut pandang yang berbeda. Bagi beberapa orang, pekerjaan hanya sebuah pekerjaan. Kita butuh pekerjaan untuk bayar tagihan, kebutuhan sehari-hari, dan untuk kebutuhan lainnya. Pekerjaan adalah hal yang penting, tapi ya cuma di situ saja. Bagi orang tipe ini, bekerja lebih dari apa yang ada dalam deskripsi pekerjaan bukanlah hal yang menyenangkan. Orang tipe kedua adalah orang yang memandang pekerjaan sebagai sebuah karir. Dengan kata lain, orang tipe ini berharap untuk bertumbuh dan berkembang. Jadi, mereka tidak keberatan untuk bekerja di luar dari deskripsi pekerjaan mereka karena posisi mereka saat ini bukanlah hal yang statis dan bisa berubah. Aspirasi mereka dalam bekerja adalah untuk naik jabatan dan tanggung jawab yang lebih besar, oleh karena itu kepuasan mereka dalam bekerja biasanya lebih tinggi. Ketiga adalah panggilan jiwa. Orang tipe ini tahu bahwa apa yang mereka lakukan, memiliki dampak positif bagi orang lain. Bagi mereka, pekerjaan bukan hanya sebagai pekerjaan, tapi merupakan bagian dari kebahagiaan mereka. 

Barry memberikan contoh menarik dari buku ini soal kepuasan bekerja bukan hanya penting bagi kalangan profesional, tapi juga bagi karyawan biasa. Luke bekerja sebagai penjaga rumah sakit. Pekerjaannya seperti membersihkan lantai, mengganti sprei, dan membersihkan kamar mandi. Pekerjaan yang dia lakukan tidak ada hubungannya dengan berinteraksi dengan pasien. Tapi, Luke bekerja bukan hanya sesuai dengan deskripsi pekerjaannya, tapi bagian penting dari pekerjaannya adalah membuat pasien dan keluarganya menjadi nyaman, menghibur mereka ketika sedih, dan bersedia mendengarkan keluh kesah apabila mereka ingin bicara. Apa yang Luke kerjakan bukan hanya soal pekerjaan dirinya sendiri, tapi juga berkaitan dengan tujuan organisasi. Tujuan dari rumah sakit adalah mempromosikan kesehatan, menyembuhkan penyakit, dan mengurangi penderitaan. Itulah cara pandang Luke terhadap pekerjaannya. 

Kunci kepuasan karyawan
Sumber foto: nbrii.com

Kunci kepuasan karyawan

Apa yang membuat sebuah bisnis bisa berjalan lancar? Tentu saja, kita pasti sudah tahu banyak strategi bisnis, formula, dan langkah-langkah yang bisa membantu perusahaan untuk tumbuh. Tapi, pada kenyataannya sangat sederhana. Jika kita mau lihat alasan kenapa perusahaan bisa sukses, semuanya bersumber pada bagaimana mereka memperlakukan karyawan mereka. Barry membaginya menjadi tiga kunci. Pertama adalah otonomi. Ketika seseorang diberikan kebebasan dan tanggung jawab, maka setiap karyawan di perusahaan dari level paling bawah hingga top manajemen memiliki kebanggaan atas apa yang mereka lakukan. Kebebasan untuk mengambil keputusan membuat karyawan merasa dipercaya dan membantu mereka untuk berkomitmen pada perusahaan dalam jangka waktu yang panjang. Kedua adalah investasi. Banyak perusahaan besar yang sukses karena mereka mendedikasikan waktu, uang, dan upaya untuk mengembangkan kompetensi karyawan mereka. Contoh sederhana yaitu melalui pelatihan, karyawan akan merasa bahwa perusahaan menghargai mereka karena bersedia untuk mengembangkan kompetensi mereka. Ketiga adalah misi. Ini bukan sekadar pembicaraan saat pidato dari CEO. Melainkan, ini merupakan sesuatu yang penting dan harus secara konsisten dilakukan mulai dari top manajemen hingga produk yang dijual. 

Barry menceritakan kisah seorang pemilik usaha karpet. Sekitar hampir 30 tahun yang lalu, Ray Anderson merupakan seorang CEO dari sebuah perusahaan karpet bernama Interface. Walaupun usahanya sangat sukses, tapi di sisi lain, pembuatan karpet sangat merusak lingkungan. Ray pun berpikir, apa bagusnya meninggalkan uang yang banyak bagi anak cucunya, tapi harga yang harus dibayar adalah bumi yang rusak? Itulah yang membuat Ray mengambil keputusan besar. Dia berkomitmen untuk mengurangi pencemaran lingkungan dari usaha karpetnya hingga mencapai zero footprint pada tahun 2020. Ray pun sadar untuk melakukan transformasi bisnis ke perusahaan yang lebih hijau pasti butuh biaya yang besar dan dia siap untuk menerima kalau pendapatan perusahaannya berkurang. Pada tahun 2013, Interface berhasil mengurangi setengah penggunaan energinya dan beralih ke energi terbarukan. Semua usaha ini ternyata tidak mengorbankan keuntungan perusahaan. Apa yang terjadi? Ternyata, karyawan di Interface termotivasi untuk memberikan kontribusi positif pada lingkungan, sehingga mereka tertantang untuk mencari cara yang inovatif untuk memperbaiki proses produksi. Hasilnya, operasional perusahaan menjadi lebih efisien dan efektif. Inilah contoh bagaimana misi perusahaan bisa diterjemahkan ke seluruh karyawan dan akhirnya memberikan mereka kebebasan untuk mencapai misi yang ingin dicapai oleh perusahaan.

Uang saja tidak cukup
Sumber foto: success.com

Uang saja tidak cukup

Pada tahun 1776, ekonom Adam Smith berargumen kalau orang hanya bekerja ketika kamu membayar mereka. Kalau kamu ingin membuat mereka bekerja lebih keras, maka kamu harus memberikan mereka insentif dan tunjangan. Konsep pemikiran Adam itulah yang membentuk lingkungan kerja pada zaman revolusi industri. Di sistem ini, pekerja pabrik hanya bekerja apa yang disuruh dan melakukan hal yang sama setiap harinya. Lingkungan kerja yang seperti ini merampas kesempatan orang untuk memiliki kepuasan dalam bekerja. Barry tidak sependapat dengan pemikiran Adam. Ada cara lain selain uang untuk memotivasi karyawan dan memberikan kepuasan dalam bekerja. Bagaimana kita membentuk mereka tergantung dari lingkungan kerja yang kita ciptakan. Insentif keuangan mungkin terlihat bagus di awal, tapi pada akhirnya ide ini memiliki resiko karyawan kehilangan hal lain yang lebih penting daripada hanya sekedar uang.

Versi animasinya bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.