Kisah pendiri sepatu nike, dulu hampir bangkrut

Jangan biarkan dirimu berhenti melakukan apa yang kamu suka. Selagi masih muda, beranikan dirimu untuk mengambil resiko dan kamu akan menjalani hidup yang luar biasa.

Kali ini saya akan membahas buku Shoe Dog karya Phil Knight. Buku ini membahas tentang otobiografi dari founder dan chairman dari Nike bernama Phil Knight atau dikenal akrabnya sebagai Buck. Buck merupakan sosok yang jarang diliput oleh media dan setelah dia memutuskan untuk tidak lagi menjadi chairman, Buck membagikan kisahnya dalam membangun Nike menjadi salah satu merek paling ikonik di dunia. Ketika baru lulus kuliah bisnis, Buck meminjam 50 dolar dari ayahnya dan meluncurkan perusahaan dengan misi yang sederhana, mengimpor sepatu lari yang berkualitas tinggi dengan harga murah dari Jepang. Awal bisnisnya juga dimulai dari bawah. Pada tahun 1963, Buck menjual sepatu dari bagasi mobilnya dan berhasil membukukan 8,000 dolar di tahun pertamanya. Dari situ, bisnisnya berkembang hingga sepatunya dipakai oleh berbagai figur dunia seperti Michael Jordan, Tiger Woods, dan puluhan juta orang yang telah membeli sepatunya. Jadi, bagaimana kisahnya?

Saya merangkumnya menjadi tiga hal menarik dari buku ini:

Jangan bunuh idemu
Sumber foto: hatrabbits.com

Jangan bunuh idemu

Pada tahun 1960-an, Buck baru saja menyelesaikan kuliahnya. Saat itu, Adidas dan Puma sudah menjadi merek sepatu yang terkenal, sedangkan Nike hanya merupakan ide gilanya. Di masa itu, Buck melihat mobil dari Jepang sangat populer di Amerika Serikat. Kemudian, dia punya ide gila bagaimana kalau sepatu dari Jepang juga mungkin bisa populer di masa depan. Di tahun terakhirnya saat kuliah, Buck menghabiskan berminggu-minggu untuk menulis ide gila itu sebagai hasil skripsinya. Disitu, Buck menjabarkan soal export, import, hingga bagaimana membangun perusahaan dari awal. Setelah selesai, dia wajib mempresentasikan hasilnya kepada teman sekelasnya. Reaksinya sudah bisa ditebak, tidak ada yang bertanya, semua hanya membalas passion Buck dengan tatapan mereka yang sedang bosan di kelas. Walaupun begitu, ide gila itu masih tetap berada di pikirannya. Setelah lulus kuliah, Buck keliling dunia selama satu tahun. Dia pergi keliling Eropa, Mesir, dan Asia. Selama perjalanan, Buck masih terus memikirkan soal ide gila itu. Hingga akhirnya, mendekati akhir perjalanannya, Buck pergi ke Jepang untuk bicara dengan produsen sepatu di sana. 

Ketika tiba di Jepang, Buck pergi ke perusahaan sepatu bernama Onitsuka yang membuat Tiger Shoes dan berhasil membuat janji meeting. Bagi kebanyakan orang, hal ini sangat sulit dipercaya. Coba bayangkan, Buck saat itu adalah anak yang baru berumur 20-an, baru lulus kuliah, dan tidak punya pengalaman bisnis apapun. Tapi, dia datang ke perusahaan Jepang dan meeting bersama pebisnis Jepang yang sudah berpengalaman. Saat itu, Onitsuka berpikir Buck merupakan perwakilan dari perusahaan Amerika yang besar, padahal kenyataannya dia hanya seorang anak yang pergi ke Jepang sendirian. Tentu saja, sepanjang meeting, Buck berpura-pura. Ketika orang Jepang itu bertanya apa nama perusahaannya di Amerika, Buck dengan tegas menjawab,”Blue Ribbon”. Itu adalah nama pertama yang muncul di pikirannya karena dia berpikir Blue Ribbon adalah penghargaan yang dia menangkan saat perlombaan olahraga di sekolahnya dulu. Tak disangka, Onitsuka juga sedang mencari peluang di Amerika Serikat. Mereka akhirnya sepakat untuk memberikan Buck sebagai distributor resmi Onitsuka di Amerika Serikat. Itulah awal mula Blue Ribbon lahir yang nantinya akan menjadi cikal bakal berdirinya Nike. 

Ambil resiko ketika masih muda
Sumber foto: thenorthernecho.co.uk

Ambil resiko ketika masih muda

Pada tahun 1964, Buck memesan 300 pasang sepatu dari Onitsuka dan meminta hak distributor di bagian barat Amerika Serikat. Setelah berhasil terjual, dia memesan lagi 900 pasang sepatu tambahan dan meminjam uang untuk membayar sepatunya. Dari situ, bisnisnya terus berkembang dan berhasil melebarkan sayapnya ke San Fransisco dan Los Angeles. Melihat perusahaannya yang sangat cepat bertumbuh, Onitsuka mengabulkan permintaan Buck untuk menjadi distributor Onitsuka di Amerika bagian Barat dan dia menandatangani kontrak yang lebih besar lagi. Semakin lama, bisnisnya berkembang sangat cepat, tapi uang selalu jadi masalah. Bisnisnya ibarat seperti kereta yang tidak ada rem, bergerak sangat kencang, tapi memiliki resiko yang tinggi. Buck terbiasa untuk menginvestasikan kembali setiap uang yang dia dapatkan sehingga perusahaannya mampu berkembang double digit setiap tahun. Pada tahun 1975, Blue Ribbon telah berhutang pada bank hingga 1 juta dolar. Agar mampu membayar hutang yang besar ini, Buck harus menghabiskan semua uang perusahaan selama beberapa hari, tentu saja ini bukan pilihan yang bijak. Oleh karena itu, Buck pergi ke bank untuk menjelaskan situasinya, setelah dicek, ternyata perusahaannya sedang berada dalam masalah serius dan berada di ambang kebangkrutan. Bukan hanya itu, Bank of California tempat Buck meminjam uang telah memberitahu masalah ini kepada FBI dan Buck bisa dipenjara jika dia tidak segera menyelesaikan masalah ini dan perusahaannya akan bangkrut. Hingga akhirnya, pada tahun 1980, Nike memutuskan untuk IPO dan masalah keuangannya satu demi satu terselesaikan. 

Buck sadar kalau membangun bisnis adalah hal yang beresiko. Jika Blue Ribbon bangkrut dan dia tidak punya uang lagi, maka hidupnya akan sengsara. Tapi, di sisi lain, Buck juga memiliki pelajaran berharga yang bisa dia terapkan di bisnis berikutnya. Buck punya pemikiran yang berbeda dengan banyak orang. Dia tidak lari dari hal yang tidak nyaman, malah dia ingin merasa tidak nyaman karena dengan keluar dari zona nyaman berarti Buck akan menjalani hidup yang luar biasa di masa depan. 

Miliki tim yang hebat
Sumber foto: biz30.timedoctor.com

Miliki tim yang hebat

Buck merupakan tipe pemimpin yang memberi kebebasan kepada para karyawannya. Dia dikelilingi oleh tim yang sangat cinta dengan sepatu atau yang dia sebut sebagai shoe dog. Bagi Buck, Shoe Dog adalah orang yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk membuat, menjual, membeli, atau mendesain sepatu. Mereka sangat peduli dengan semua bagian sepatu. Bahkan, nama Nike sendiri bukan berasal oleh Buck, tapi dari mimpi salah satu karyawannya. Suatu hari, tim di Blue Ribbon ingin membuat merek sepatu sendiri dan mereka harus segera memberikan nama untuk sepatu itu. Buck punya ide untuk memberi nama sepatunya sebagai Dimension Six, tapi dia memberikan kesempatan kepada karyawannya yang lain untuk mengusulkan nama untuk merek tersebut. Hingga akhirnya, Jeff Johnson terbangun dari mimpinya dengan nama Nike. Kemudian, dia menjelaskan kepada atasannya alasan di balik nama itu yang berarti dewi kemenangan Yunani yang bersayap. Bukan cuma itu, Jeff pernah membaca sebuah majalah kalau nama merek yang besar punya beberapa karakter yang serupa yaitu tidak lebih dari dua silabus, dan setidaknya memiliki satu huruf yang eksotik atau diucapkan seperti Z, X, atau K. Awalnya, Buck juga tidak suka dengan nama Nike dan dia bertanya bagaimana dengan Dimension Six. Timnya dengan jujur bilang kalau hanya Buck seorang saja yang suka dengan nama Dimension Six. Hingga akhirnya, Buck memutuskan Nike sebagai nama untuk mereknya. Dari Buck, kita belajar kalau, kita hanya perlu memberitahu tim kita apa yang mereka harus lakukan, bukan bagaimana. Berikan kebebasan kepada mereka untuk mencari cara untuk mencapai apa yang perusahaan inginkan.

Versi animasinya bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.