Chairul Tanjung, Kisah Anak Singkong masuk Deretan Orang Terkaya

Kesuksesan tidak bisa diraih dalam waktu yang instan. Kerja cerdas adalah tahap yang baru bisa dicapai apabila kamu kerja keras dulu.

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal kisah inspiratif dari Chairul Tanjung, konglomerat Indonesia yang merupakan founder dan chairman dari CT Corp.

Chairul Tanjung bisa menjadi konglomerat seperti sekarang, bukan karena dia adalah anak pejabat atau berasal dari keluarga orang kaya. Dia adalah anak dari keluarga biasa dan nasib saat kecilnya seperti kebanyakan orang pada umumnya. Chairul disebut sebagai anak singkong karena ini merupakan ungkapan bagi masyarakat yang hidup miskin dan kumuh di Jakarta. Chairul bilang kalau dia jadi pengusaha bukan karena bakat, tapi karena terpaksa. Kondisi perekonomian yang kurang mampu membuat dia harus bekerja walaupun usianya masih sangat muda. Chairul Tanjung lahir di Sibolga tahun 1962. Dia merupakan anak dari enam bersaudara dan ayahnya bekerja sebagai jurnalis dari koran yang oplahnya tidak besar. Saat masuk Orde Baru, perusahaan tempat ayahnya bekerja ditutup karena dianggap bertentangan dengan pemerintahan. Keadaan ini memaksa ayahnya untuk menjual rumah mereka dan tinggal dalam sebuah losmen kecil yang sangat sempit. Walaupun begitu, orang tua mereka sangat memprioritaskan pendidikan. Karena mereka sadar, kalau pendidikan akan membantu anak-anaknya untuk keluar dari himpitan ekonomi. 

prioritas pendidikan
Sumber foto: openaccessgovernment.org

Dari sejak SD, Chairul sudah pelan-pelan mencari uang, misalnya jualan es mambo, jualan kacang. Kemudian, ketika dia SMP ada cerita yang unik, Chairul mengurus studi tour kelasnya ke Yogyakarta. Biaya per orang adalah 15 ribu rupiah. Waktu itu, dia tidak punya uang, jadi Chairul bantu untuk mencarikan bis dan mengurus keperluan studi tour lainnya. Cuma sayangnya, uang hasil kerjanya hanya terkumpul 5 ribu rupiah, jadi akhirnya temannya berangkat studi tour, tapi dia tidak. Waktu itu sebenarnya banyak teman yang mau bantu kalau Chairul memintanya. Tapi, dia punya rasa tidak enak hati. Bagi dia, kalau tidak sangat terpaksa sekali, lebih baik tidak perlu minta pertolongan orang lain. Saat waktunya harus melanjutkan kuliah, ada cerita yang membekas di diri Chairul. Saat itu, dia bertekad harus masuk 5 perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia. Bagi dia tidak penting jurusan apa yang dipilih, yang penting bisa diterima masuk jalur beasiswa. Ada tiga pilihan saat itu, Fakultas Teknik Sipil Perencanaan di ITB, Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas Indonesia, dan Fakultas Farmasi di Universitas Indonesia. 

Singkat cerita, Chairul diterima di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Walaupun masuk jalur beasiswa, masih ada biaya yang harus dia bayarkan sebesar 75 ribu rupiah pada masa itu. Chairul lalu bilang ke ibunya soal biaya tersebut dan ibunya bilang nanti akan dicarikan uangnya. Seminggu kemudian saat waktu untuk membayar, Chairul terima uang 75 ribu rupiah dari ibunya. Beberapa hari kemudian, dia baru tahu kalau uang untuk dia kuliah berasal dari kain halus milik ibunya yang digadaikan. Hatinya terenyuh saat mendengar hal tersebut. Dari situ, Chairul bertekad untuk tidak minta uang lagi ke orang tua. Itu adalah trigger bagi dia untuk mulai berpikir menjadi wirausaha. Suatu hari ketika dia kuliah, dosennya bilang, semua mahasiswa harus punya buku acc praktikum. Otak bisnis Chairul pun bekerja, dia melihat di depan kampusnya yang terletak di daerah Salemba banyak tukang fotocopy untuk jilid buku. Setelah tanya ke beberapa toko, harga untuk fotocopy dan jilid bukunya yaitu 500 rupiah. Chairul pun ingat ketika dia masih SMP, dia punya teman yang kakaknya punya percetakan. Ketika dia tanya, harga untuk fotocopy satu bukunya ternyata hanya 150 rupiah. Nah, kemudian, Chairul bilang ke semua temannya, kalau mau fotocopy dengan dia harganya 300 rupiah. Akhirnya, semua temannya minta Chairul untuk fotocopy hingga terkumpul 100 orang. Dari situ, Chairul mendapat keuntungan 15 ribu rupiah dan itu merupakan uang pertama yang dia dapatkan ketika di kampus. 

kuliah
Sumber foto: academiccoachingassociates.com

Dari situ, Chairul mulai berjualan apa saja, mulai dari jualan kaos hingga mendirikan jasa fotokopi di kampus. Selain itu, dia juga sempat mendirikan toko yang menyediakan peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen, Jakarta Pusat. Namun, sayangnya usahanya itu bangkrut. Ketika lulus kuliah, Chairul membangun bisnis eskpor sepatu anak bernama PT Pariati Shindutama pada tahun 1987 bersama tiga temannya. Saat itu usahanya cukup sukses, bahkan mereka berhasil mendapat pesanan 160 ribu pasang dari Italia. Namun, karena perbedaan visi misi, Chairul memutuskan untuk keluar dan membangun bisnis sendiri. Dia lalu mendirikan Para Group di tahun 1987, inilah perusahaan yang menjadi cikal bakal dari CT Corp. 

Ada cerita menarik ketika menjalankan bisnis Trans TV. Saat awal membangun Trans TV, dia hanya punya uang 50 milyar, padahal dana yang dibutuhkan lebih besar. Sisanya, dia pinjam 100 milyaran dari bank. Ternyata, estimasi biaya yang sudah dihitung di awal masih belum cukup. Total biayanya membengkak menjadi 400 milyar per bulan, hingga akhirnya Chairul harus menambah lagi pinjaman ke Bank. Bahkan, ketika awal Trans TV mengudara, Chairul masih rugi rata-rata 30 milyar per bulan. Dari situ, Trans TV mengubah strategi program acaranya. Dari semula mereka membeli banyak program dari luar, hingga akhirnya memutuskan untuk membuat program sendiri, misalnya membuat program kuliner. Kinerja Trans TV konsisten naik hingga bisa mencapai angka 1 triliun. Bahkan, waktu itu, Trans TV berhasil menduduki peringkat pertama di industri televisi Indonesia.

Dalam membesarkan anak, Chairul punya pesan yang cukup inspiratif. Bagi Chairul, tidak peduli siapa orang tua kamu, anak tersebut harus punya kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Dia harus berjuang dengan kemampuannya sendiri, supaya dia punya kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Nilai ini yang selalu ditanamkan Chairul kepada anaknya. Sehingga, apabila anaknya mewarisi bisnis yang telah dibangun oleh Chairul, mereka tidak keberatan untuk meneruskan bisnis orang tuanya, karena pada dasarnya mereka sudah memiliki kebanggaan atas diri mereka. Chairul juga bercerita, ketika anaknya sudah beranjak dewasa, misalnya saat Putri Tanjung berumur 18 tahun, anaknya mulai merasa ada beban berat di pundaknya karena menyandang nama belakang ayahnya. Bagi Chairul, itu adalah sebuah takdir yang harus diterima oleh Putri dan harus bisa diatasi sendiri oleh anaknya. 

bangga pada diri sendiri
Sumber foto: antimaximalist.com

Kunci sukses bagi Chairul yang pertama adalah kerja keras. Tanpa kerja keras, orang pintar sehebat apapun, orang paling beruntung, tidak akan pernah sesukses orang yang bekerja keras. Jangan perhitungan dalam bekerja karena kesuksesan bukan hal yang instan. Bagi Chairul, Tuhan maha adil, tidak mungkin Tuhan memberikan kesuksesan bagi orang yang tidak bekerja keras lebih besar daripada orang yang bekerja keras. Kalau sudah bekerja keras, tahapan kedua adalah bekerja cerdas. Jangan cuma bekerja keras saja, tapi tidak bekerja keras, itu tidak ada gunanya juga. Baru kemudian, kita berserah hasil akhirnya seperti apa. 

Versi animasinya bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.