Cara Agar Tidak Meributkan Hal Kecil

Banyak masalah tidak perlu menjadi besar, apabila kita tidak sibuk meributkan hal kecil. Ketika kita mampu mengontrol ego kita sendiri maka kita bisa melepaskan keinginan untuk selalu benar.

Kali ini saya akan membahas buku Don’t Sweat the Small Stuff karya Richard Carlson. Buku ini membahas kadang untuk mengatasi kemarahan dalam diri, yang kita butuhkan adalah perspektif yang berbeda. Kebanyakan orang bereaksi berlebihan terhadap masalah hidup. Perilaku ini akan menciptakan stress dan membuat masalah menjadi sulit diatasi. Kita bisa melihat hidup dengan cara pandang berbeda yang akhirnya membantu kita melihat masalah sebagai suatu hal yang bisa dilalui. Untuk bisa sampai ke tahap ini, kita tidak perlu melakukan hal yang drastis, cukup melakukan langkah kecil yang konsisten sehingga pada akhirnya semua hal ini akan membawa kita pada hidup yang lebih bahagia.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Jangan melebihkan hal kecil
Sumber foto: progressivebehavioralhealth.com

Jangan melebihkan hal kecil

Apa yang harus kita lakukan agar kita bisa menjadi hidup yang lebih hidup? Banyak orang berpikir kalau kita harus punya hidup yang disiplin, kerja keras, dan jiwa yang kompetitif agar kita bisa sukses. Tentu saja ini benar, tapi bukan berarti kita harus melakukannya setiap saat. Kita butuh hidup yang lebih seimbang, untuk rileks dan melakukan kegiatan yang menyenangkan. Ada ketakutan kalau kita hidup lebih rileks dan tenang, kita akan berhenti mencapai tujuan yang kita inginkan. KIta akan menjadi malas dan apatis. Padahal ketakutan ini tidak benar. Faktanya justru berbeda. Pikiran yang terburu-buru dan penuh rasa takut akan menghabiskan banyak energi positif dan kreativitas dalam hidup. Jika kita terus menerus mendorong diri kita untuk bekerja lebih keras, maka lama kelamaan stress level kita pasti naik dan akhirnya malah membuat kita kelelahan dan tidak bahagia. Richard punya pendekatan yang menarik. Kehidupan bukanlah seperti keadaan darurat. Kehidupan adalah sebuah anugerah dan kamu hanya punya satu kesempatan. Oleh karena itu, jangan perlakukan setiap hari seperti kamu sedang membawa mobil ambulans, pergi dari satu tempat ke tempat lain dengan kecepatan tinggi. Cobalah untuk memberikan waktu sejenak dan buat dirimu rileks, apalagi setelah seharian bekerja. Dengan begitu, kamu akan memiliki ketenangan batin dan membuat kamu untuk lebih mudah berkonsentrasi dan mencapai tujuan yang kamu inginkan dalam hidup.

Banyak orang terbiasa stress pada hal yang kecil dan membesarkan hal tersebut. Sebagai contoh, ketika kamu sedang mengendarai mobil, terus tiba-tiba saja jalan kamu dipotong oleh orang lain. Dalam kejadian ini, kebanyakan orang berusaha mengejar mobil tersebut dan marah-marah. Kita membenarkan perilaku kita seperti itu, daripada berusaha untuk move on dari kejadian tersebut. Parahnya lagi, kemarahan itu kadang kita bawa seharian dan kita menceritakan kejadian itu kepada orang lain. Richard mengatakan, jika kita berada dalam kejadian itu, daripada kita marah, bagaimana kalau kita melihatnya dari perspektif yang berbeda. Kita tidak berasumsi kalau orang asing itu merupakan orang yang arogan, tapi mungkin saja orang itu sedang buru-buru karena ada hal mendesak. Dengan perspektif ini, pikiran kamu akan menjadi damai dan kamu bisa menghabiskan hari kamu dengan lebih bahagia. 

Ego sebagai perusak hubungan
Sumber foto: flickr.com

Ego sebagai perusak hubungan

Setiap orang pasti punya ego dalam dirinya. Mereka ingin terlihat penting, terlihat lebih baik. Cara pandang seperti ini bisa merusak hubungan antar manusia. Tentu saja, secara alamiah kita ingin punya panggung sendiri. Kita ingin berbicara apa yang ada di dalam pikiran kita dan membuat orang lain terkesan. Sayangnya, keinginan untuk selalu benar bisa melukai perasaan orang lain. Apalagi kalau ada orang yang tidak sepaham dengan kita dan merasa apa yang kita sampaikan tidak benar. Terkadang, kita merasa kesal terhadap hal kecil yang orang lain katakan atau lakukan. Ketika kita membiarkan hal itu terjadi, artinya kita sedang mengubah hal kecil menjadi hal besar. Richard mengatakan, kita melakukan hal itu karena kita cenderung melihat kalau meminta maaf adalah untuk orang yang lemah dan kita perlu menunjukkan siapa orang yang lebih kuat. Bahkan, kita bisa memutuskan hubungan dengan orang yang dicintai, cuma berharap orang tersebut akan meminta maaf dan kita menang. Tapi, bagaimana kalau orang yang bertengkar dengan kita juga memiliki pemikiran yang sama? Apakah perilaku kita seperti ini malah berdampak buruk? Bagaimana kalau kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda? Kita bisa menghindarinya dengan melepaskan keinginan untuk selalu benar dan fokus pada kebahagiaan. 

Hal lain yang berkaitan dengan ego adalah kecenderungan untuk memotong pembicaraan orang lain atau tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Kecenderungan ini sering kita temui di kondisi orang yang sibuk, mereka ingin agar orang lain berbicara dan berpikir lebih cepat. Alasannya sederhana, waktu mereka terbatas dan mereka tidak suka pembicaraan yang bertele-tele, tapi perilaku mereka malah membuat lawan bicara mereka gugup dan kesal. Kebiasaan buruk ini seringkali menjadi alasan pertengkaran karena orang lain kesal ketika kamu tidak mendengar apa yang ingin mereka sampaikan, begitu juga sebaliknya. Richard menyarankan, kita harus belajar untuk sabar dan menunggu orang lain untuk menyelesaikan apa yang ingin dia sampaikan. Dengan begitu, lawan bicara kita akan merasa lebih tenang dan nyaman ketika berbicara dengan kita. Hal ini memang tidak mudah dan butuh latihan, tapi pasti akan meningkatkan hubungan kamu dengan orang lain.

Bersikap baik kepada orang lain
Sumber foto: onedio.co

Bersikap baik kepada orang lain

Apakah kamu pernah merasa dalam satu hari kok banyak orang bikin kamu kesel? Misalnya, suatu pagi, ketika kamu jalan, terus orang lain nabrak kamu tanpa bilang maaf. Kemudian, pas siang hari, ketika kamu lagi ngantri beli makan siang, ada orang yang motong antrian kamu. Terus, ketika malam hari, kamu belanja bulanan di supermarket, tapi kasirnya lama banget ngelayanin konsumen. Wajar saja kalau di posisi itu, kamu rasanya ingin marah dengan semua orang. Tapi coba kamu lihat dari perspektif yang berbeda. Coba kamu melihatnya dari sudut pandang masing-masing orang tersebut. Misalnya, pas di pagi hari, orang yang nabrak kamu tanpa minta maaf, karena dia sudah terlambat dan kalau telat, dia dipotong gajinya sama bos tempat dia bekerja. Kemudian, pas di siang hari, mungkin orang itu gak sadar kalau kamu sedang mengantri, karena kamu sibuk lihat hape saat ngantri. Ketiga, pas di malam hari, mungkin kasirnya sudah capek seharian bekerja dan habis diomelin oleh bosnya, makanya dia kerja sambil mikirin hal lain. Latihan ini akan menumbuhkan empati dalam hati kita sehingga kita tidak mudah marah dan tidak meributkan hal kecil. 

Untuk bersikap baik, bukan hanya pada orang asing, tapi juga kepada orang terdekat kita. Hal ini yang kadang kita lupakan karena kita sibuk mengejar hal duniawi sehingga kita tidak menghargai kehadiran mereka dalam hidup kita. Ada latihan yang bisa kamu coba, dengan menggunakan kata powerful tolong dan terima kasih. Dua kata ini akan membuat orang terdekat kamu merasa dihargai dan artinya kamu tidak menganggap kehadiran atau bantuan mereka sebagai sebuah keharusan, tapi sebuah bentuk kasih sayang mereka kepada kamu. Kadang, untuk membuat seseorang bahagia, bukan berasal dari melakukan hal besar, tapi dari hal kecil yang konsisten kita lakukan untuk memberikan sedikit kebahagiaan dalam hidup mereka. 

Versi animasinya bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.