Jatuh Bangun Tommy Wong hingga jadi Miliarder

Jangan menjadikan uang sebagai tujuan utama. Hidup yang berkelimpahan bukan hanya soal materi, tapi juga soal keluarga, pertemanan, dan membantu orang membutuhkan.

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal kisah inspiratif dari Tommy Wong, CEO Victorindo Group dan juga Ketua Billionaire Mindset Indonesia.

Tommy lahir dari keluarga yang kaya raya, kakeknya merupakan pemilik hotel dan bisnis lain sebagainya. Ayahnya merupakan anak sulung, namun sayangnya ayahnya meninggal dunia saat dia kecil. Sebagai cucu dari anak pertama kakeknya, maka Tommy mewarisi harta kekayaan kakeknya. Namun, seperti masalah umum orang, keluarga besar Tommy juga mengalami perebutan harta warisan. Masalah ini begitu berat hingga ibunya sempat mengalami gangguan psikologi. Bukan hanya itu, bahkan Tommy harus melarikan diri ke Surabaya karena dirinya diancam untuk dibunuh agar keluarga ayahnya yang lain mendapat warisan kakeknya. Di kondisi yang sulit seperti itu, Tommy terjun ke jalanan berjualan koran untuk menyambung hidup saat usianya delapan tahun. Di masa itu, dia sempat terpikir untuk bunuh diri, tapi niat itu dia urungkan, karena Tommy masih memikirkan ibunya. Hingga akhirnya, Tommy kembali ke Lampung tempat ibunya tinggal. Di sana, dengan modal yang telah dia kumpulkan sebelumnya, Tommy berhasil mendapatkan tempat untuk berjualan koran dan majalah di pasar malam. Ada nilai lebih yang dia tawarkan dalam berjualan. Tommy paling anti memaksa orang untuk membeli barang dagangannya, tapi dia akan menawarkan nilai lebihnya. Dia punya cara unik dalam berjualan koran. Di pasar malam, Tommy membebaskan orang untuk membaca koran dan majalahnya. Sambil membaca majalahnya dan tiba-tiba tidak sengaja majalahnya ketumpahan makanan, pasti orang tersebut mau tak mau membelinya karena tidak tega. Ketika dia sudah mengumpulkan uang yang cukup, dari Lampung kemudian dia pindah ke Jakarta. 

pertengkaran keluarga karena warisan
Sumber foto: pinterest.com

Di sana, Tommy dan ibunya tinggal di rumah neneknya di daerah Tanjung Duren. Setiap kali jalan pulang, dia selalu melihat condominium Taman Anggrek dan punya impian suatu hari bisa tinggal di sana. Bagi Tommy, tidak ada yang salah dengan punya impian. Anggaplah punya impian seperti jari tengah kita, artinya setinggi mungkin. Ibaratnya punya mimpi setinggi bulan, kalaupun kamu jatuh, kamu jatuhnya di awan, artinya tetap tinggi juga. Dalam perjalanannya, Tommy juga tidak langsung sukses. Pada masa itu, ibunya memproduksi pakaian untuk bayi. Tommy melihat sendiri bagaimana ibunya diperlakukan oleh pemilik toko. Saat itu, ketika sehabis mengantar barang ke toko, ibunya tidak boleh langsung menagih uang karena masih pagi. Hingga siang hari, ibunya baru boleh datang lagi ke toko itu untuk menagih. Dari situ, Tommy bertekad untuk mengubah hidupnya dan tidak ingin melihat ibunya diperlakukan seperti itu lagi. Hingga suatu hari, Tommy melihat toko handphone yang ada di seberang toko tempat ibunya menagih. Setelah berbicara beberapa kali dengan pemilik tokonya, Tommy menawarkan diri untuk bekerja disana agar bisa membantu ekonomi keluarganya. Dia menawarkan nilai lebih, Tommy bersedia dibayar setengah dari gaji pegawai disana dan mampu bekerja dua kali lebih keras daripada mereka. Akhirnya, si pemilik toko tergugah hatinya dan memberikan Tommy kesempatan untuk bekerja. Kinerja dia yang bagus membuat bosnya memberikan Tommy kepercayaan lebih besar dan akhirnya dia menjadi manajer toko di sana. 

Ketika kondisi terlihat sudah mulai membaik, nasib buruk kembali muncul, tahun 1998 terjadi kerusuhan dan toko handphone tempat Tommy bekerja habis dijarah. Berbulan-bulan kemudian, Tommy bekerja serabutan. Dengan sisa uang yang dia miliki, Tommy menemukan kesempatan untuk ikut pameran di salah satu mall, tapi uangnya hanya cukup untuk membayar uang sewa selama satu bulan. Di sana, dia ingin berjualan handphone, tapi saat itu dia tidak punya modal, yang dia punya adalah handphone Nokia untuk isi Ringtone. Jadi, itulah yang dia lakukan, Tommy menawarkan jasa pengisian ringtone ke handphone konsumen. Kemudian saat malam hari, Tommy memungut brosur handphone yang dibuang saat pameran. Brosur itu dipotong, kemudian gambar handphone-nya ditempel di atas sebuah gabus. Lalu, Tommy memajang semua display itu di tokonya. Semua itu dia lakukan karena Tommy punya mimpi untuk bisa punya toko handphone sendiri. Ide uniknya membuahkan hasil, banyak orang penasaran dan kadang malah berpikir kalau itu adalah handphone asli, padahal hanya gabus. Kalau ada yang mau beli handphone-nya, Tommy meminta DP dan naik ojek untuk membelinya dari toko handphone yang ada di Roxy kemudian balik lagi ke mall tersebut untuk memberikan handphone-nya ke konsumen. Memang tidak banyak yang percaya dengan model bisnis seperti itu, tapi Tommy tidak berkecil hati, berapapun keuntungan yang dia dapat, semua disyukuri dengan sepenuh hati. 

bekerja keras sampai malam
Sumber foto: inc.com

Tidak terasa, setelah hampir satu bulan, untungnya berlipat ganda hingga akhirnya Tommy berhasil membuka toko sendiri di mall tersebut. Model bisnis lamanya masih dia pertahankan. Jadi, setiap ada konsumen yang mau beli, dia kunci tokonya dan kemudian pergi ke Roxy untuk membeli handphone yang diinginkan. Ketika sudah punya uang yang cukup, Tommy mulai memajang handphone di tokonya. Saat itu, dia punya ide yang unik. Tommy bukan hanya menjual handphone, tapi juga menjual boneka Pikachu yang dipajang di tokonya. Ini merupakan strategi yang unik bagi sebuah toko handphone. Dalam sebulan, Tommy bisa menjual 2 sampai 3 unit handphone, tapi boneka Pikachu-nya bisa terjual setiap hari. Hingga suatu hari, nasib baik muncul, Tommy mendapatkan kepercayaan dari Samsung untuk bekerjasama. Berkat kerja kerasnya, dia berhasil mendapat banyak penghargaan dan memiliki beberapa authorized store dan outlet. Tommy pun berhasil membeli penthouse di apartemen Taman Anggrek dan mobil mewah seperti impiannya dulu.

Tommy membagikan beberapa pelajaran hidupnya. Bagi dia, jangan pernah bilang kalau hidup yang sekarang kamu jalani itu pahit. Kamu tidak tahu apa yang Tuhan siapkan untuk kamu. Berkaca dari pengalamannya, dari tukang koran saja bisa menjadi seseorang yang naik business class dan hidup berkelimpahan. Intinya adalah, selama hidup kita tidak merugikan orang lain, kita tidak akan kehilangan apapun. Walaupun hidupnya berkelimpahan, Tommy masih merasa ada yang hampa dalam hidupnya. Dia merasa hidupnya begitu-begitu saja, karena dari awal mindsetnya adalah soal uang. Kerja dari pagi hingga malam hanya untuk mencari uang. Hingga terkadang, ketika dia sedang di balkon penthouse-nya, sempat terpikir untuk bunuh diri karena merasa ada yang kosong dalam dirinya. Hingga suatu saat, nasib buruk menimpanya. Pada tahun 2017, karyawan kepercayaannya menghancurkan bisnis yang telah dia bangun selama ini. Tommy tidak pernah menyangka, orang terdekatnya sudah merencanakan hal ini tiga tahun sebelumnya. Pada saat itu, Tommy ingin beralih ke bisnis online, dia mempercayakan semuanya pada karyawan itu. Dia tidak mau belajar dan saat itu bossy banget. Itulah yang membuat bisnisnya hancur, bahkan uangnya juga dilarikan oleh karyawan tersebut hingga Tommy kesulitan membayar hutang kepada supplier. Semua hartanya habis untuk membayar semua hutang, reputasinya juga jadi buruk, hingga dia berada dalam titik terendah dalam hidupnya. Sampai pada satu titik dia tersadar dan pelan-pelan mulai mengatur hidupnya kembali hingga akhirnya dua tahun kemudian, pada tahun 2019, keuangannya sudah kembali lagi seperti semula bahkan berlebih. Ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi Tommy. Dia berpesan apabila kamu sedang mengalami masalah, jangan mengurung diri sendirian. Pergilah keluar, bergaul dengan teman yang positif atau gabung ke komunitas yang positif. Walaupun kita tidak bisa cerita masalah yang kita hadapi, tapi getaran positifnya akan mengubah cara pikir kita dan tanpa sadar kita bisa menemukan sendiri solusi dari masalah yang kita hadapi.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.