Menjadi Introvert adalah Anugerah

Menjadi seorang yang introvert adalah anugerah tersendiri. Jadilah dirimu apa adanya dan kembangkan potensi dirimu dalam kesendirian.

Kali ini saya akan membahas buku Quiet karya Susan Cain. Buku ini membahas kalau masyarakat sering meremehkan seorang introvert dan lebih mengagungkan seorang ekstrovert. Padahal, satu dari sepertiga manusia di dunia adalah seorang introvert. Mereka adalah orang yang lebih senang mendengarkan daripada berbicara, orang yang suka berinovasi dan menciptakan sesuatu tapi tidak menyukai berdiri di depan orang banyak. Mereka yang senang bekerja mandiri daripada bekerja dalam sebuah tim. Jika dunia memberikan introvert kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa harus memaksakan semua orang menjadi ekstrovert, maka kita akan membantu introvert untuk tumbuh dan berkontribusi positif pada dunia.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal menarik dari buku ini:

Salah kaprah soal introvert
Sumber foto: topcareer.id

Salah kaprah soal introvert

Banyak orang hebat di dunia merupakan seorang introvert. Orang seperti Mahatma Gandhi, Warren Buffet, Bill Gates, dan Steve Wozniak adalah seorang introvert dan merupakan orang yang cukup berpengaruh pada dunia. Namun sayangnya, dunia cenderung memprioritaskan seorang ekstrovert. Sebagai contoh, pada kelas zaman dulu, murid banyak mengerjakan tugasnya sendiri. Namun, zaman sekarang, murid didorong untuk selalu bekerja dalam kelompok, bahkan untuk mata pelajaran yang butuh waktu sendiri seperti matematika dan menulis kreatif. Murid yang lebih suka menyendiri malah dianggap aneh dan bahayanya dianggap sebagai anak yang bermasalah. Mayoritas guru juga percaya kalau murid ekstrovert lebih baik daripada murid introvert. Padahal, berdasarkan penelitian, murid introvert memiliki nilai yang lebih baik dan cenderung memiliki wawasan yang lebih luas. Perlakuan spesial pada ekstrovert bukan hanya terjadi di dalam kelas, tapi juga di tempat kerja. Sekarang, banyak tempat kerja mengadopsi gaya open office tanpa dinding pembatas satu sama lain, di mana kita tidak memiliki jarak antara kita dan rekan kerja, seakan akan tidak ada privasi yang kita miliki. Idealnya, harus ada keseimbangan antara ekstrovert dan introvert. 

Salah kaprah yang umum terjadi adalah Introvert sering disamakan dengan pemalu, padahal berbeda. Rasa malu biasanya erat kaitannya dengan rasa takut pada penilaian sosial. Sedangkan, Introvert lebih kepada bagaimana kamu memberikan respon pada stimulus, termasuk pada stimulus sosial. Jadi, ekstrovert adalah orang yang suka dengan stimulus sosial yang besar, menikmati pesta dan pertemuan dengan banyak orang. Sedangkan introvert cenderung lebih suka pada suasana yang tenang dan sendiri. Tentu saja, hal ini tidak berlaku setiap saat, tapi hampir setiap waktu. Mispersepsi yang lain adalah kalau orang introvert tidak suka dengan orang lain. Tentu saja hal ini tidak benar. Mayoritas populasi manusia berada di antara spektrum introvert dan ekstrovert, atau dikenal dengan ambivert. Bahkan psikolog Carl Jung yang mempopulerkan istilah ini mengatakan kalau di dunia tidak ada orang yang murni ekstrovert atau murni introvert. 

Pergeseran budaya di tempat kerja
Sumber foto: blog.worktel.com

Pergeseran budaya di tempat kerja

Ada alasannya kenapa orang zaman sekarang lebih suka dengan ekstrovert dan jawabannya ada di sejarah budaya. Di Amerika Serikat, pada zaman dulu, budayanya lebih cenderung pada orang yang punya karakter yang baik. Masyarakat lebih menghargai apa yang ada di dalam diri seseorang, terutama akhlaknya. Contohnya bisa dilihat dari buku pengembangan diri pada zaman dulu banyak berisi topik soal karakter. Tapi, ketika kita masuk ke abad ke-20, pelan-pelan budayanya berubah. Masyarakat lebih cenderung pada persona seseorang. Hal ini disebabkan adanya pergeseran dari era agrikultur ke era industrial. Di era ini, banyak orang yang dulunya tinggal di desa, kemudian pindah ke kota untuk bekerja. Budayanya juga berbeda, ketika dulu mereka bekerja dengan orang yang mereka kenal, sekarang mereka harus membuktikan diri mereka di depan orang asing. Jadi, tentu saja, hal yang lebih penting adalah persona seperti kharisma dan pembawaan diri menjadi sangat penting. Buku pengembangan diri masa kini juga sudah bergeser, contohnya seperti How to Win Friends and Influence People. 

Inilah hidup yang kita jalani sekarang. Padahal, riset membuktikan, pemimpin yang introvert seringkali memberikan hasil yang lebih baik. Hal ini disebabkan ketika mereka memiliki karyawan yang proaktif, mereka cenderung lebih banyak mendengar sehingga karyawannya memiliki kebebasan untuk mengutarakan idenya. Sedangkan, pemimpin yang ekstrovert cenderung terlalu bersemangat pada ide mereka sendiri, sehingga ide orang lain cenderung sulit diterima. Pemimpin introvert cocok untuk memimpin karyawan yang kreatif dan inovatif sehingga dia mampu mendapatkan hasil terbaik dari karyawannya. Hal yang berbeda apabila karyawannya cenderung pasif, maka pemimpin ekstrovert lebih unggul karena memiliki kharisma yang kuat dan mampu mengarahkan mereka. Pada tahun 2008, ketika krisis ekonomi melanda Amerika Serikat, perbedaan antara gaya kepemimpinan introvert dan ekstrovert terlihat jelas. Pemimpin yang ekstrovert cenderung membuat keputusan yang cepat berdasarkan informasi yang minim dan hasilnya mereka banyak membuat investasi yang beresiko. Ketika krisis terjadi, perusahaan tempat mereka bekerja mengalami kerugian yang sangat besar. Hal yang berbeda dialami oleh pemimpin yang introvert. Mereka cenderung mengumpulkan semua informasi dulu sebelum membuat keputusan. Hasilnya, perusahaan yang mereka pimpin tidak terlalu terdampak oleh krisis, karena cara mereka menempatkan uangnya lebih hati-hati. Intinya, introvert dan ekstrovert memiliki keunggulannya masing-masing.

Kerjasama Introvert dan Ekstrovert
Sumber foto: keydifferences.com

Kerjasama Introvert dan Ekstrovert

Interaksi antara introvert dan ekstrovert seringkali muncul kesalahpahaman. Ketika muncul konflik, orang yang ekstrovert cenderung menjadi marah, kasar, dan mendominasi orang introvert. Sedangkan, orang yang introvert cenderung menghindari konflik karena itu bukan pengalaman yang menyenangkan bagi dia. Namun, hal itu diartikan berbeda oleh orang ekstrovert, sikap itu malah diartikan sebagai sikap tak peduli. Itulah sebabnya penting untuk memahami segala sesuatu dari dua sisi, sisi ekstrovert dan sisi introvert. Franklin D. Roosevelt, presiden Amerika Serikat saat perang dunia kedua, adalah seorang ekstrovert. Franklin orang yang ceria, suka pergi ke pesta, dan bertemu orang banyak. Istrinya, Eleanor, merupakan pribadi yang sangat introvert. Eleanor lebih suka pembicaraan yang serius dan pulang dari pesta secepat mungkin. Walaupun keduanya berbeda, tapi mereka mampu menghasilkan hal besar bersama-sama. Eleanor membuka mata suaminya soal kemiskinan anak dan diskriminasi minoritas. Ketika Eleanor mengetahui kalau penyanyi kulit hitam bernama Marian Anderson dilarang untuk tampil di Constitution Hall pada tahun 1939, Franklin dan dia menggabungkan kekuatan politik Franklin dan hati nurani Eleanor untuk memastikan Marian bisa tampil di sana. Dunia butuh bukan hanya introvert atau ekstrovert, dunia butuh keduanya. Ada masanya, seorang ekstrovert yang open minded juga menginginkan pembicaraan yang dalam bukan hanya small talk. Sebaliknya, ada masanya juga introvert juga terinspirasi pada keceriaan dari ekstrovert yang memberikan warna berbeda dari kehidupan introvert sehari-hari.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.