Mark Zuckerberg | Mengejar Mimpi adalah Hak Istimewa

Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mengejar mimpi atau tujuan yang dia inginkan dalam hidup. Jika kamu punya kesempatan, jangan disia-siakan dan mulailah melangkah untuk mengejar apa yang kamu inginkan dalam hidup.

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal pidato inspiratif Mark Zuckerberg di Harvard pada tahun 2017. Di pidato ini, Mark bicara soal tujuan hidup. Tapi, bukan bagaimana cara mencari tujuan hidup, karena kita sebagai bagian generasi milenial sudah terbiasa melakukan hal ini. Melainkan, menemukan tujuan hidup untuk kita sendiri saja tidak cukup, tapi tantangan masa depan adalah bagaimana setiap orang punya tujuan hidupnya masing-masing.

Ada cerita yang sangat menarik soal menemukan tujuan hidup. Ketika Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy mengunjungi kantor NASA, dia melihat seorang pembersih kantor yang sedang membawa sapu. Di sana, John bertanya kepada orang itu, apa yang dia lakukan. Orang itu berkata,”Bapak Presiden, saya membantu orang untuk pergi ke bulan.” Tujuan hidup adalah sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, yang kita butuhkan untuk sesuatu yang lebih baik di masa depan. Tujuan hidup ini yang akan menciptakan kebahagiaan sejati untuk kita.

tujuan dunia
Sumber foto: swedishnomad.com

Mark bercerita, di malam dia meluncurkan Facebook pertama kali di asramanya. Waktu itu, Mark bilang ke temannya kalau dia senang bisa menghubungkan komunitas Harvard, tapi mungkin suatu hari nanti ada orang yang akan menghubungkan seluruh dunia. Pada saat itu, Mark tidak pernah berpikir kalau orang itu adalah dia dan perusahaan yang dia bangun yaitu Facebook. Saat itu, mereka hanya mahasiswa biasa. Mereka tidak tahu apa-apa, tidak punya sumber daya, jadi saat itu Mark hanya berasumsi kalau orang yang menciptakan hal tersebut bukan dia. Tapi, saat itu, idenya semakin lama semakin jelas, kalau semua orang ingin berhubungan satu sama lain. Jadi, mereka terus maju, hingga akhirnya Facebook bisa besar seperti sekarang.

Tentu saja, perjalanan itu tidak mudah. Walaupun Mark sudah tahu jelas apa tujuannya dalam membangun Facebook, yaitu untuk memberikan dampak bagi masyarakat. Tapi, tidak semua orang punya pemikiran yang sama. Saat beberapa tahun awal Facebook berdiri, beberapa perusahaan besar ingin membeli Facebook. Mark tidak ingin menjualnya. Dia ingin melihat Facebook mampu menghubungkan orang dengan lebih banyak lagi. Hampir semua orang di perusahaannya ingin menjual Facebook. Jika kamu tidak punya tujuan yang lebih besar, menjual startup dan mendapat banyak uang adalah mimpi hampir semua startup yang jadi kenyataan. Karena Mark bersikukuh tidak ingin menjual, bahkan semua anggota manajemennya saat itu memilih untuk meninggalkan Facebook. Itu adalah momen terberat Mark dalam memimpin Facebook. Dia yakin apa yang dia lakukan, tapi orang lain di perusahaannya tidak merasakan hal yang sama. Pelajaran dari kejadian ini adalah punya tujuan besar tidak cukup hanya bagi dirimu sendiri, tapi harus diamini oleh semua orang yang ada di dalam perusahaan agar mampu bergerak bersama mencapai tujuan yang diinginkan.

teamwork
Sumber foto: blog.vantagecircle.com

Di zaman ini, teknologi membuat kita mampu menciptakan hal yang besar. Inilah saatnya kita juga ikut membuat hal besar. Tentu saja, ini terdengar sangat besar dan tidak tahu harus mulai darimana. Bagi Mark, tidak ada orang yang punya gambaran utuh ketika mereka mulai. Ide tidak muncul begitu saja dalam bentuk yang sempurna. Ide hanya menjadi semakin baik ketika kamu mengerjakannya. Intinya adalah kamu harus segera memulai. Sama halnya dengan Mark, jika dia tahu semua hal tentang menghubungkan orang sebelum dia mulai, maka Mark tidak mungkin akan menciptakan Facebook. Persepsi yang salah ini karena kita selalu berpikir ide yang cemerlang seperti eureka moment. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu, ide itu seperti benih yang baik. Awalnya tidak terlihat dengan jelas, namun semakin dirawat, maka ide itu akan tumbuh besar dan akhirnya menghasilkan tanaman yang memiliki buah yang siap dipetik. 

Dalam hidup bermasyarakat, kita cenderung tidak berani untuk melakukan hal yang besar karena kita takut membuat kesalahan. Orang yang berani berbeda akan cenderung mengalami penolakan. Orang yang punya mimpi besar akan dianggap gila, bahkan jika pada akhirnya orang itu benar. Orang yang berusaha memecahkan masalah yang sulit akan dicemooh karena tidak mampu memahami masalahnya secara utuh, padahal tidak ada orang yang bisa mengetahuinya di awal. Orang yang punya inisiatif akan dikritik karena bergerak terlalu cepat, hanya karena akan ada orang yang ingin memperlambat kamu. Kenyataannya, ketika kamu mau melangkah, akan ada orang yang selalu tidak sependapat denganmu. Tapi, jangan biarkan semua hal itu untuk menghentikan kamu untuk memulai apapun.

idea
Sumber foto: ied.eu

Namun sayangnya, tidak semua orang punya kebebasan untuk mengejar apa yang dia mau. Ini merupakan realita dari ketimpangan sosial yang ada di masyarakat. Padahal untuk bisa menghasilkan satu kesuksesan besar, kamu perlu punya kebebasan untuk gagal. Banyak orang besar di dunia memiliki keberuntungan untuk punya kebebasan untuk gagal. J.K. Rowling ditolak 12 kali sebelum akhirnya mempublikasikan novel Harry Potter. Bahkan, Beyonce juga harus membuat ratusan lagu hingga akhirnya menghasilkan lagu Halo yang sangat populer. Sama halnya juga dengan Mark. Facebook bukanlah hal pertama yang dia buat, sebelumnya dia buat game, sistem chat, alat bantu belajar, dan pemutar musik. Tapi, hanya Facebook yang berhasil. Banyak orang tidak berani mengejar mimpinya karena dia tidak punya kesempatan untuk gagal. Sukses itu bukan hanya soal punya ide yang bagus atau bekerja keras, tapi juga soal keberuntungan. Coba bayangkan, jika Mark harus bekerja untuk mendukung ekonomi orang tuanya saat itu daripada punya waktu untuk coding atau Jika Mark tidak memiliki kondisi ekonomi yang baik apabila Facebook gagal. Maka, mungkin tidak ada Mark Zuckerberg seperti sekarang. Bagi Mark, ini adalah salah satu keberuntungan yang dia miliki. 

Kita hidup di era di mana kita merupakan bagian dari warga dunia. Kemajuan dalam hidup manusia bukan hanya berkat satu negara, tapi merupakan kumpulan dari perkembangan ide besar yang ada dunia dan bergabung dalam satu komunitas dunia. Namun semua hal itu pada akhirnya, dimulai dari lingkaran yang paling kecil, mulai dari orang biasa seperti halnya kamu dan saya. Sama halnya dengan Mark, seorang mahasiswa di asrama yang punya tujuan untuk menghubungkan komunitas Harvard saat itu, dan terus berjuang hingga akhirnya mampu menghubungkan seluruh dunia. Semua ini bukan hanya karena satu orang yang punya tujuan, tapi merupakan kumpulan orang yang memiliki tujuan yang sama untuk mencapai sesuatu hal yang luar biasa.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.