Transformasi Bisnis ala Startup

Menjadi yang paling cepat, bukan berarti yang paling bagus. Tapi, dengan metode perbaikan terus menerus, akan menghasilkan bisnis yang berkelanjutan.

Kali ini saya akan membahas buku The Lean Startup karya Eric Ries. Buku ini membahas bagaimana organisasi startup yang efektif mampu memberikan hasil yang luar biasa. Banyak startup yang gagal, tapi banyak kegagalan itu sebenarnya bisa diantisipasi sebelumnya. Di bukunya, Eric mendefinisikan startup bukan sekadar perusahaan yang baru tapi sebuah organisasi yang punya tanggung jawab untuk menciptakan sesuatu yang baru dalam kondisi yang sangat tidak pasti. Organisasi ini bisa merupakan perusahaan yang baru merintis atau Board of Directors dari perusahaan yang ada di Fortune 500. Benang merah dari kedua organisasi itu adalah mereka punya misi untuk bisa menembus kondisi yang tidak pasti untuk menemukan jalan menuju kesuksesan. Daripada menghabiskan waktu untuk membuat strategi bisnis yang kompleks, Perusahaan dipaksa untuk beradaptasi dan menyesuaikan dengan konsumen sebelum terlambat.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Jangan fokus pada business plan
Sumber foto: usatoday.com

Jangan fokus pada business plan

Cara kerja konvensional biasanya setiap founder harus membuat business plan yang sangat kompleks hingga rencana lima tahun ke depan. Semua rencana itu biasanya hanya dalam bentuk presentasi saja dan belum dites langsung ke konsumen. Ketika founder tersebut baru mendapatkan uang, barulah dia mulai mengumpulkan tim dan membuat produknya. Ketika mulai menjual produk pertamanya, di momen itulah produk bersentuhan langsung dengan konsumen. Itulah alasannya kenapa banyak startup yang gagal. Eric menjelaskan, ketika membuat produk, perusahaan harus melibatkan konsumen dan meminta umpan balik sambil mengembangkan produknya, jadi produk tersebut terus diperbaiki hingga waktu launching-nya dimulai. Startup yang sukses mampu beradaptasi dari satu kegagalan ke kegagalan lainnya dan bertumbuh bersama konsumen. Contoh menarik yaitu dari Nick Swinmurn, founder dari Zappos, toko sepatu online terbesar di dunia. Sebelum belanja online menjadi gaya hidup, Nick bereksperimen apakah konsumen mau belanja sepatu secara online atau tidak. Dia pergi ke toko sepatu dan minta ijin untuk foto produknya. Setelah itu, Nick posting foto sepatunya dan lihat apakah konsumen tertarik atau tidak. Jika ada yang mau beli, Nick lalu pergi ke toko tersebut untuk membelinya dan kemudian mengirim sepatunya kepada konsumen tersebut. Dengan metode ini, Nick tidak perlu harus investasi untuk stok sepatu, gudang inventori, dan baru mulai berjualan. Melainkan, bisa langsung berjualan dengan modal yang minim dan resource yang terbatas.

Ada tiga prinsip besar dalam metode lean startup. Pertama, gunakan hipotesis. Daripada berusaha membuat business plan yang sempurna, pengusaha harus fokus beberapa hipotesis yang belum teruji. Dari situ, kita bisa tahu nilai lebih apa yang kita bisa berikan kepada konsumen. Kedua, masukan dari konsumen. Dalam mengembangkan produk, kita harus melibatkan konsumen dari awal. Fokusnya pada kemampuan untuk beradaptasi dan kecepatan. Gunakan masukan konsumen untuk menyempurnakan produk yang kita jual. Ketiga, agile development. Ini adalah sistem yang biasa dipakai oleh industri software. Prosesnya dimulai dengan pembuatan MVP atau Minimum Viable Products, artinya adalah pembuatan sebuah produk yang memenuhi kebutuhan dasar dari pelanggan, yang belum sempurna namun masih memiliki nilai guna yang tinggi. Manfaat utama dengan adanya MVP adalah perusahaan tidak butuh waktu lama untuk mengetahui apakah produk kita disukai oleh pelanggan atau tidak.

Pivot atau teruskan
Sumber foto: nationalcareersweek.com

Pivot atau teruskan

Ini merupakan dilema yang biasa terjadi dalam sebuah bisnis. Apakah lanjut dengan ide yang lama atau merubahnya dengan ide yang baru? Ini adalah salah satu keuntungan dari metode lean startup, kita tidak perlu menghasilkan produk yang sempurna, tapi kita sudah tahu apakah konsumen suka atau tidak. Sehingga, kita tidak perlu banyak berinvestasi di awal tanpa tahu apakah ide kita bisa berjalan atau tidak. Ketika kita akhirnya memutuskan untuk merubah idenya, bukan berarti kita mengulang semuanya dari awal. Kita bisa gunakan apa yang sudah kita pelajari selama ini sebagai dasar kita membuat strategi yang baru. Menentukan kapan harus pivot merupakan hal krusial dalam bisnis. Ini butuh keberanian mengakui kalau idenya tidak berhasil dan berani pindah ke arah yang baru untuk menghasilkan kesuksesan jangka panjang.

Fokus utama startup menggunakan metode lean startup adalah untuk belajar, belajar secepat-cepatnya apa yang konsumen suka, dan hal apa yang mampu membuat bisnis bisa bertahan dalam jangka panjang. Eric menjelaskan ada beberapa alasan kenapa founder bisnis menunda untuk melakukan pivot. Pertama, metrik yang digunakan tidak tepat. Performa bisnis punya banyak cara untuk mengukur tingkat keberhasilannya. Tapi, bisnis harus fokus pada metrik yang paling penting. Kedua, hipotesis yang tidak jelas. Ketika hipotesis yang kita buat tidak jelas, maka akan sangat sulit untuk membuat bisnis yang berkelanjutan. Ketiga, takut untuk pivot. Mengakui kesalahan bisa jadi dilema bagi anggota tim dalam perusahaan. Apalagi, dengan melakukan pivot juga tidak ada garansi masa depan yang lebih baik. Namun, kalau tidak melakukan pivot, bisnis itu tidak akan bertahan dalam jangka panjang.

Adaptasi dan Inovasi
Sumber foto: outmatch.com

Adaptasi dan Inovasi

Adaptasi bukan berarti kompromi soal kualitas. Biasanya, banyak founder mengambil jalan singkat. Mereka mengorbankan kualitas, yang penting cepat. Ini adalah pendekatan yang salah. Ketika kita mengorbankan kualitas, kita tidak akan mendapatkan feedback yang tepat. Founder harus punya mindset adaptasi yang benar, kesalahan minor di awal bagi pelanggan tahap awal masih bisa ditolerir. Tapi, pada akhirnya produk yang kita jual akan ke konsumen akhir dan mereka tidak akan mentolerir kesalahan apapun. Dalam beradaptasi, kita bisa menggunakan metode 5 Why untuk mengetahui akar masalah. Di setiap pertanyaan kenapa yang kita tanyakan, maka kita akan menggali apa masalah di baliknya. 

Kemampuan perusahaan untuk beradaptasi akan membuat mereka mampu berinovasi. Ada anggapan jika perusahaan sudah menjadi besar, maka sulit berinovasi. Ini adalah mitos. Memang betul, jika perusahaan sampai ke titik tertentu, inovasi terasa semakin berat, karena resiko bisnisnya semakin besar. Eric menyarankan metode inovasi kotak pasir, artinya hanya melakukan inovasi di satu bagian saja agar dampaknya tidak menjalar ke bagian lain, tapi semua anggota timnya diberikan kebebasan untuk berinovasi. Cara kerjanya seperti ini. Setiap tim diberi kebebasan untuk bereksperimen tapi hanya boleh berada di dalam bagian yang sudah ditentukan. Tim itu akan mengerjakan proyeknya dari awal hingga akhir dalam waktu yang sudah ditentukan. Eksperimen ini akan melibatkan jumlah konsumen yang terbatas dan menggunakan metrik terukur yang jelas. Setiap tim harus me-monitor perkembangannya dan langsung menyelesaikan proyek apabila ada kejadian buruk yang terjadi. Dengan cara ini, maka perusahaan besar mampu meminimalisir resiko sekaligus mendapatkan inovasi baru. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.