Jatuh Bangun CEO Disney selama 15 Tahun

Menjadi pemimpin berarti berani mengambil resiko dan melakukan hal besar. Lebih baik mengambil resiko yang besar dan gagal, daripada tidak sama sekali.

Kali ini saya akan membahas buku The Ride of a Lifetime karya Robert Iger. Buku ini membahas soal pelajaran apa saja yang didapat oleh Bob selama menjadi CEO dari Walt Disney dalam kurun waktu 15 tahun. Bob pertama kali diangkat menjadi CEO The Walt Disney Company pada tahun 2005 saat kondisi yang sulit. Pada masa itu, kompetisi semakin ketat dan teknologi berkembang semakin cepat. Disney harus mampu bergerak cepat mengikuti perkembangan zaman bila tidak ingin punah. Saat ini, Disney merupakan salah satu perusahaan yang paling dikagumi di dunia dan valuasinya berkembang hingga lima kali lebih besar saat awal pertama Bob mengambil alih sebagai CEO. 

Saya merangkumnya menjadi tiga hal menarik dari buku ini:

Menjadi orang yang serba bisa
Sumber foto: sawaal.com

Menjadi orang yang serba bisa

Karir Bob di perusahaan berita televisi ABC sangat tidak terduga. Saat itu pamannya sedang berada di satu kamar dengan eksekutif level rendah di ABC. Awalnya mereka hanya ngobrol santai, hingga orang itu bilang ke pamannya Bob kalau dia punya jabatan yang oke di ABC. Waktu itu, Bob memang sedang mencari pekerjaan. Pamannya kemudian memberikan nomor orang itu ke Bob untuk bicara soal lowongan pekerjaan di ABC. Akhirnya, Bob diterima bekerja di ABC dari level yang paling bawah. Dia dibayar $150 per minggu dan mengerjakan apa saja yang disuruh, misalnya datang jam 4.30 pagi ke kantor untuk mempersiapkan lokasi syuting, mengatur tukang kayu, tukang listrik, dan mengerjakan apa saja. Bob dikenal dengan pribadi yang serba bisa, bahkan hingga dia dipromosikan untuk bekerja di ABC Sport. 

Suasana di ABC Sport berbeda dengan departemen ABC lainnya. Karena banyak berinteraksi dengan atlet terkenal, banyak kolega Bob memakai pakaian yang mahal dan hidup yang mewah. Di sana dia bertemu dengan salah satu mentor terbaiknya yaitu Roone Arlidge, kepala dari ABC Sports. Dari semua hal yang Bob pelajari dari Roone, satu hal yang selalu diingat oleh Bob adalah perkataan Roone,”Lakukan apapun yang perlu kamu lakukan untuk membuat sesuatu jadi lebih baik.” Ini adalah mindset untuk mengejar kesempurnaan tanpa henti. Roone mengajarkan Bob untuk tidak menerima keadaan yang biasa biasa saja. Lawan pemikiran kalau kita tidak cukup waktu, tidak cukup energi, dan selalu berusaha untuk menghasilkan karya yang terbaik. Ini tentu saja tidak mudah, mencari keseimbangan untuk terus menghasilkan karya terbaik dan ketakutan atas kegagalan. Jika ternyata kamu gagal, bagaimana? Kamu tidak bisa menyalahkan pilihan burukmu kepada orang lain. Kamu harus mengakui kesalahanmu. Itulah cara kamu dihargai dan dipercaya oleh orang lain.

Karakter pemimpin sejati
Sumber foto: industryweek.com

Karakter pemimpin sejati

Kepemimpinan sejati berasal dari mengetahui dirimu sendiri dan jangan berpura-pura jadi orang lain. Ketika Bob diminta pendapat dan sarannya tentang sebuah proyek, dia akan sangat hati-hati dalam berbicara karena Bob sadar kalau para orang kreatif ini telah menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam membuatnya. Bob tidak pernah memulai pembicaraannya dengan nada yang negatif dan fokus pada detail hal kecil saat awal pembuatan. Bob lebih setuju untuk memulainya dengan pemikiran besarnya dulu saat permulaan. Dia menceritakan kisahnya saat berbicara dengan Ryan Coogler saat awal pembuatan Black Panther. Ryan terlihat sangat gelisah dan cemas saat bertemu Bob. Hal ini disebabkan, Ryan belum pernah membuat film sebesar Black Panther sebelumnya dengan dana yang besar dan tekanan untuk jadi sukses yang luar biasa. Bob sadar akan hal itu dan berusaha empati pada Ryan dan mengingatkan dia kalau Bob punya kepercayaan yang besar kalau Ryan pasti bisa mencapainya. Empati adalah salah satu karakter pemimpin yang bisa melahirkan kreativitas. Itu adalah cara Bob merawat kreativitas di tim Disney.

Di bukunya, ada kisah menarik ketika Bob berjuang untuk meyakinkan dewan perusahaan agar dia dipilih sebagai CEO yang baru tanpa mengkritik CEO yang lama. Bob bilang ke dewan perusahaan kalau dia tidak akan fokus ke masa lalu, tapi fokus ke masa depan. Dia juga tidak mengkritik kinerja CEO lama demi keuntungan pribadinya. Setiap kali ada pertanyaan tentang kesalahan Disney di masa lalu, kesalahan CEO lama, Bob dengan jujur berkata kalau dia tidak bisa mengubah masa lalu. Bob tidak ingin bicara soal masa lalu dan hanya akan memberitahu kemana dia akan membawa Disney ke depannya. Ini adalah karakter pemimpin yang dewasa. Banyak pemimpin ketika menjabat posisi baru terbiasa menjelekkan pejabat lama agar dirinya terlihat lebih hebat. Padahal, apapun yang terjadi di masa lalu, pasti ada alasannya. Yang paling penting adalah apa yang kamu lakukan di saat ini dan di masa depan. 

Berani melakukan hal besar
Sumber foto: nvrc.ca

Berani melakukan hal besar

Pada tahun 2006, tidak lama setelah Bob menjadi CEO, perusahaannya sedang mengalami penurunan. Bob tidak memilih untuk memperbaiki kinerja internalnya, melainkan memilih untuk mengakuisisi Pixar untuk memberikan nafas baru bagi Disney. Sebagai informasi, saat itu, Pixar merupakan perusahaan animasi paling sukses dan saham mayoritasnya dimiliki oleh Steve Jobs. Setelah negosiasi yang cukup alot, akhirnya Disney membeli Pixar dengan harga lebih dari 7 milyar dolar. Banyak orang berpendapat kalau harga itu kemahalan, tapi Bob yakin itu adalah harga yang pantas. Dia tidak yakin kalau dirinya sanggup memperbaiki kinerja studio animasi internalnya. Ternyata, akuisisi Pixar merupakan langkah yang brilian dan berhasil memperbaiki budaya dan kinerja tim animasi di Disney. 

Selain mengakuisisi Pixar, Bob juga punya ide besar untuk mengembangkan bisnis video streaming yang berisi semua konten yang dimiliki oleh Disney. Ini tentu saja dilema apalagi di tingkat dewan perusahaan. Saat itu, Disney telah mendapatkan uang yang cukup banyak dari platform streaming atas semua film Disney yang diputar di sana. Tapi, jika Bob membuat bisnis video streaming sendiri artinya dia akan kehilangan semua pendapatan dari platform streaming lainnya. Apakah Disney bisa menarik banyak pelanggan? Ini adalah pilihan yang beresiko. Bob sadar, untuk membuat Disney bisa bertahan di tengah perubahan zaman, Disney harus berani berinovasi. Jika kamu ingin inovasi, berarti kamu harus selalu memberikan ruang untuk kegagalan. Itulah dasar pemikiran Bob untuk tetap pada pendiriannya. Bob tidak menyerah, dia sadar agar bisa berhasil, Disney perlu memperbanyak kontennya dan melebarkan target audiens-nya. Inilah alasan, Bob membeli perusahaan studio lain dengan harga yang mahal yaitu Lucasfilm, Marvel, dan 21 Century Fox. Ternyata pilihan Bob benar. Dalam tiga bulan pertama diluncurkan, Disney+ telah memiliki lebih dari 28 juta pelanggan.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.