Cara Bangkit dari Keterpurukan Hidup

Untuk bangkit, kamu perlu menerima kegagalan. Tanpa kegagalan, maka tidak akan ada perubahan, dan tanpa perubahan, maka tidak akan ada kemajuan. Kegagalan adalah permulaan dari semua hal besar yang akan kamu lakukan di masa depan.

Kali ini saya akan membahas buku Rising Strong karya Brene Brown. Buku ini membahas soal apa yang membuat orang bisa bangkit ketika mengalami keterpurukan dalam hidup? Di bukunya, Brene telah menuliskan daftar panjang dari pemimpin perusahaan Fortune 500, anggota militer, seniman, pasangan dalam hubungan yang lama untuk menceritakan kisah mereka tentang menjadi berani, jatuh, dan bangkit kembali. Ada benang merah dari semua kisah tersebut. Mereka mengenali kekuatan emosi mereka sendiri dan tidak takut untuk menerima hal yang tidak nyaman. Cerita tentang perjuangan hidup kita bisa beragam, kecil dan besar, seperti kehilangan pekerjaan, putus cinta, dan sebagainya. Tidak peduli kecil ataupun besar, proses untuk bangkit kembali membutuhkan penerimaan atas perasaan dan cerita hidup yang kita miliki.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal menarik dari buku ini:

Menghadapi kegagalan
Sumber foto: thejobnetwork.com

Menghadapi kegagalan

Dalam hidup, kita pasti akan menemui tiga hal yaitu kematian, pajak, dan kegagalan. Apalagi jika kamu ingin melakukan hal besar dalam hidupmu, pasti kamu akan menemui banyak kegagalan. Mungkin kamu ditolak saat melamar kerja, gagal pas mulai bisnis, diputusin pacar, dan banyak kegagalan lainnya. Jika kita sudah pasti pernah mengalami kegagalan, kenapa kita sulit dalam mengelola perasaan sakit yang muncul dari kegagalan itu? Brene menjelaskan, hal ini disebabkan karena kita cenderung berpikir kalau kegagalan adalah hal yang positif, tanpa mengakui rasa sakit, takut, dan kebingungan yang menyertainya. Tentu saja, kita sangat suka dengar kisah pengusaha sukses dari nol, bagaimana jatuh bangun membangun bisnis. Tapi, ada hal yang sering terlewat, yaitu apa yang dirasakan sebagai konsekuensi dari kegagalan? Semua orang besar di dunia, pasti pernah gagal, dan mampu mengatasi perasaan yang sulit seperti depresi, malu, dan panik. Mereka tidak mengabaikan perasaan negatif itu, melainkan mereka adalah orang yang jatuh, bangkit lagi, dan mengakui kalau rasanya tuh sakit banget, tapi semua ini penting bagi hidupnya dan harus terus melangkah. 

Ada jalan yang bisa kamu ikuti dalam menghadapi kegagalan. Fase pertama disebut sebagai The Reckoning. Di fase ini, kamu menyadari perasaan apa yang muncul bersamaan dengan kegagalan dan memperhatikan bagaimana perasaan ini bisa mempengaruhi caramu berpikir dan bertindak. Ini merupakan kebalikan dari sesuatu yang biasa kita lakukan, kebanyakan orang tidak ingin berbicara soal perasaan mereka, karena takut dianggap lemah. Padahal, di fase ini, kamu harus bersedia terbuka. Fase kedua adalah The Rumbling. Ini adalah fase di mana kamu akan berhadapan langsung dengan narasi yang kamu buat untuk dirimu sendiri. Apakah kamu sering bilang kalau hidup kamu sekarang tidak cukup? tidak cukup baik, tidak cukup pintar, tidak cukup hebat. Mungkin narasi itu benar, tapi seringkali ini adalah cara kita untuk melindungi diri dari kegagalan sehingga kita terlindungi dari rasa sakitnya kegagalan. Fase ketiga adalah The Revolution. Di fase ini, kita akan menulis ulang akhir cerita kita sendiri. Cerita di mana kamu bangkit dari kegagalan dan mulai melangkah dengan semangat hidup yang lebih positif. Kamu membutuhkan keberanian luar biasa di fase ini, karena tandanya kamu siap untuk mencoba dan siap untuk merasakan sakitnya gagal lagi di masa depan.

Mengakui perasaan
Sumber foto: mellowed.com

Mengakui perasaan

Ada beberapa penelitian yang beranggapan kamu bisa mengubah hidupmu, apabila kamu mengubah pikiran, tindakan, atau perasaan. Bagi Brene, transformasi hidup seseorang baru bisa terjadi ketika kamu mengubah ketiga poin itu secara keseluruhan, karena tiga poin itu berkaitan satu sama lain, sama halnya seperti kaki kursi. Mungkin kita sering dengar kalimat “think positive”. Tapi, coba pikirkan seperti ini, jika kita berpikir positif, tapi kita masih merasa negatif, bagaimana kita bisa bersikap? Kemampuan berpikir positif tentu saja sangat kuat, apabila kita melihatnya sebagai salah satu komponen penting dari tiga poin lainnya. Jika, kita tidak juga merawat poin penting yang lain, maka ibarat sebagai kaki kursi, maka kita bisa jatuh dan terluka. 

Agar bisa bangkit dalam keterpurukan, kita perlu memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap perasaan yang muncul dari pengalaman yang terjadi dalam hidup kita. Dalam menghadapi perasaan yang sulit memang tidak mudah. Kita akan merasa rentan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Insting kita diprogram untuk lari dari rasa sakit. Ini yang membuat kita tidak pernah belajar bagaimana menghadapi ketidaknyamanan. Salah satu tips yang bisa kita praktekkan untuk menyadari perasaan yang kita alami adalah dengan mindfulness. Hal ini berarti menjaga kesadaran kita dari momen ke momen seperti perasaan, pikiran, sensasi tubuh, dan lingkungan sekitar. Mindfulness juga terkait dengan penerimaan, artinya kita memperhatikan pikiran dan perasaan kita tanpa memberikan penilaian apapun, tidak memberi label benar atau salah. Ketika kita melatih mindfulness, pikiran kita berada di masa kini, tidak kembali ke masa lalu atau mengimajinasikan masa depan. 

Meminta pertolongan dan menghadapi kritik
Sumber foto: willbrattcounselling.com

Meminta pertolongan dan menghadapi kritik

Dalam sebuah acara penggalangan dana, pastor gerejanya berkata,“Ketika kamu tidak menatap mata gelandangan, maka kamu mengurangi kemanusiaan mereka.” Perkataan pastornya membuat Brene merasa tidak nyaman, karena selama ini dia juga sering tidak mau menatap mata gelandangan di jalan. Selama bertahun-tahun, Brene secara tidak sadar telah memiliki pandangan sendiri soal konsep memberi dan menerima. Memberi adalah aksi yang berani, penuh kasih, dan tanda kalau kamu sudah berkecukupan. Sedangkan, menerima artinya tanda orang yang lemah. Hingga akhirnya, dia sadar, kalau kenyataannya tidak seperti itu. Perjalanan untuk bangkit kembali, bukan soal perjalanan seorang diri. Dalam perjalanannya, kita harus belajar untuk meminta pertolongan pada orang lain. Ini bukan merupakan tanda seseorang yang lemah, tapi merupakan ciri orang yang berani karena dia berani mengakui ada yang kurang dari dirinya dan mencari bantuan dari orang lain.

Selain belajar meminta pertolongan, hal lain yang tidak kalah penting adalah menghadapi kritik. Ketika kita sedang berusaha melakukan hal besar dalam hidup, pasti ada saja orang yang memberikan kritik. Bagusnya kalau kritik itu membangun, tapi seringkali, kita mendengar kritik yang tidak bermutu. Ada beberapa alasan kenapa kritik tak bermutu itu sangat berbahaya. Pertama, kritik itu menyakitkan. Mendengar atau membaca hal yang kurang baik tentang kita tentu saja menyakitkan dan membuat kita merasa malu. Reaksi alami kita biasanya adalah berpikir bagaimana hal tersebut tidak terjadi lagi. Jadi apa yang kita lakukan? Secara alamiah, kita akan kehilangan keberanian untuk melakukan hal besar untuk menghindari kritik. Kedua, menjadi kebal dikritik. Ini adalah fase di mana kita bilang,”Ah, bodo amat orang mau ngomong apa.” Ini adalah pertempuran yang tidak mungkin kita menangkan, karena pada dasarnya kita pasti peduli tentang apa yang dikatakan oleh orang lain. Ketiga, kritik tak bermutu akan mengalahkan kritik yang membangun. Ketika kita membiarkan kritik tak bermutu masuk, maka kita secara tidak sengaja akan mem-filter kritik yang membangun. Ini adalah kondisi yang berbahaya. Ketika kita berhenti peduli apa yang orang lain katakan, kita akan kehilangan kemampuan kita untuk berhubungan dengan orang lain. Sebaliknya, ketika kita biarkan orang lain memberikan narasi tentang siapa kita, maka kita kehilangan keberanian untuk menjadi diri kita yang sebenarnya. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Kita harus mengetahui dengan jelas pendapat siapa yang mau kita dengarkan. Brene menyarankan kita untuk menulis nama orang penting dalam hidup kita ke sebuah kertas berukuran 1×1 inch. Di ukuran kertas yang kecil, kita dipaksa untuk menuliskan nama orang yang mencintai kita apa adanya, atas semua kelebihan dan kekurangannya. Mereka adalah orang yang selalu ada ketika kamu gagal, ketika kamu bukan siapa-siapa, dan mereka juga adalah orang yang terus menyemangati kamu untuk bangkit kembali dan siap menyambut masa depan yang lebih baik.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.