Kisah Amanda Cole Jualan Sayur hingga Masuk Forbes 30 under 30 Asia

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal kisah inspiratif dari Amanda Susanti Cole, Founder dan CEO dari Sayurbox yang masuk dalam daftar Forbes 30 under 30. Jadi, Sayurbox adalah platform untuk membeli sayur, buah, dan daging yang fresh langsung dari petani atau produsen. Konsepnya bisnisnya yaitu from farm to table. 

Amanda Susanti Cole adalah sosok wanita inspiratif yang membangun bisnis untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Berawal dari kecintaannya pada agrikultur, Amanda mengundurkan diri sebagai karyawan untuk membangun kebunnya sendiri. Awal mula perkenalan Amanda dengan agrobisnis adalah melalui pamannya yang mengajar pertanian organik di Bengkulu. Dari situ, Amanda mulai tertarik dengan berkebun dan ingin eksplor lebih lanjut. Kemudian, dia membangun usaha perkebunan yang khusus menanam tanaman bukan asli Indonesia. Hasil panennya kemudian didistribusikan ke restoran mewah. Kebetulan pamannya punya lahan kosong di Sukabumi, Jawa Barat. Disana, Amanda banyak ngobrol dengan para petani dan mereka cerita kalau anak muda zaman sekarang tidak minat berkebun dan lebih suka mencari kerja di kota besar seperti Jakarta. Hal ini disebabkan karena petani sulit mendapatkan akses untuk menjual langsung ke konsumen, sehingga mata rantai distribusi dari petani ke konsumen sangatlah panjang. Dampaknya adalah harga produk yang mahal, terutama pertanian organik. Walaupun harganya mahal, petani tidak merasakan manfaat ekonominya karena ketiadaan akses ke konsumen. 

Ada cerita menarik sebelum Sayurbox berdiri, waktu itu Amanda bertemu dengan petani singkong yang menjual hasil panennya 600 rupiah per kilogram kepada pengepul. Padahal, harga jual singkong di Jakarta bisa mencapai 6 ribu rupiah per kilogram pada masa itu. Petani bukan hanya butuh harga jual yang lebih layak, tapi mereka juga membutuhkan data tentang kebutuhan sayur di perkotaan. Informasi pasar ini sangat membantu petani dalam menentukan produk apa yang harus mereka tanam. Itulah sebabnya, Amanda ingin mendirikan bisnis dengan konsep farm to table. Melalui konsep ini, petani akan mendapatkan data tentang kebutuhan sayur di perkotaan sekaligus meningkatkan perekonomian petani ke arah yang lebih baik.

petani
Sumber foto: nypost.com

Kemudian, pada tahun 2017, dia bersama dua partner-nya yang lain mendirikan Sayurbox, sebagai solusi untuk menghubungkan petani langsung ke pembeli. Tujuannya adalah untuk meningkatkan taraf kesejahteraan petani dengan memberikan harga yang lebih pantas dari setiap sayur yang mereka jual. Awalnya, Sayurbox hanya menggunakan Instagram dan Whatsapp untuk berjualan dan pemasarannya pun masih dari lingkaran terdekat kemudian berkembang dari mulut ke mulut. Ketika jumlah permintaan-nya meningkat di Instagram, kemudian Sayurbox membuat website dan pengembangan selanjutnya yaitu membuat aplikasi yang bisa di-download di Play Store dan App Store.

Tidak berselang waktu lama setelah berdiri, Amanda kemudian mendaftarkan Sayurbox untuk mengikuti kompetisi Seedstars Jakarta. Jadi, Seedstars Jakarta adalah rangkaian program dari Seedstars World yang berpusat di Swiss dengan visi untuk membantu startup tumbuh, khususnya startup digital yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. Di ajang kompetisi ini, Amanda berhasil mewakili Indonesia untuk maju ke kompetisi global di Switzerland. Sayurbox berkesempatan untuk mendapatkan suntikan dana hingga 1 juta dolar untuk pengembangan bisnisnya. Tentu saja, dana ini sangat membantu pertumbuhan Sayurbox. 

sayurbox
Sumber foto: blog.sayurbox.com

Amanda bercerita ada beberapa alasan kenapa Sayurbox relevan bagi konsumen masa kini. Pertama, perilaku konsumen yang mulai beralih ke online. Apalagi di masa pandemi COVID-19 sekarang, di mana semua orang disarankan untuk tetap berada di rumah. Sayurbox merupakan salah satu alternatif yang bisa dipilih konsumen untuk mendapatkan bahan makanan yang segar dan aman. Kedua adalah kesadaran gaya hidup sehat. Masyarakat perkotaan sekarang makin sadar soal apa yang mereka makan. Hasilnya, mereka akan berusaha makan makanan yang lebih sehat, makan banyak sayur, makan banyak buah, dan mencari produk yang aman dan segar. Ketiga adalah dampak sosial. Selain mendapatkan produk yang berkualitas, konsumen dari Sayurbox juga berperan dalam membantu mensejahterakan petani karena konsumen membayar produk yang dijual petani dengan nilai yang pantas. Ketiga alasan inilah yang membuat Amanda yakin dalam mengelola Sayurbox dan menargetkan tahun ini Sayurbox akan tersedia di dua kota berikutnya yaitu Bandung dan Surabaya. 

Nama Sayurbox sendiri ternyata sangat harfiah. Amanda menjelaskan, nama itu berasal dari produk pertama mereka adalah sayur dan dikirim pakai box, maka itu dia menamakan perusahaannya Sayurbox. Tapi, sekarang Sayurbox sudah berkembang, bukan hanya menjual sayuran, tapi juga menjual buah dan daging. Saat ini, Sayurbox telah bekerjasama dengan 300 kebun untuk melayani 50,000 konsumen di Jabodetabek dan jumlah kirimannya mencapai 1,000 kiriman per hari. Pencapaian terbarunya yaitu Amanda berhasil masuk dalam daftar majalah Forbes 30 Under 30 Asia di tahun 2019. Penghargaan tersebut diberikan karena Sayurbox dianggap memiliki dampak positif yang besar bagi masyarakat Indonesia. Amanda pun punya ambisi besar agar Sayurbox bisa tersedia di seluruh Indonesia sehingga petani lokal di setiap wilayah dapat menerima manfaatnya.

orang memilih sayur organik
Sumber foto: nypost.com

Seperti halnya start up pada umumnya, tantangan bisnis terbesar adalah dalam hal pendanaan. Itulah yang membuat Amanda harus terus memutar otak untuk menjaga agar cash flow perusahaan tetap stabil dan sehat. Salah satu investor dari Sayurbox adalah Patamar Capital yang memberikan investasi senilai $200 hingga $300 ribu dolar. Investasi ini merupakan salah satu program mereka yaitu investing in women. Sayurbox dinilai mampu memberdayakan perempuan yaitu mayoritas para petani untuk mendapatkan taraf hidup yang lebih baik. Selain pendanaan, tantangan terbesar lainnya yaitu dalam hal cuaca. Karena menjual produk hasil bumi yang segar, maka kondisi cuaca buruk dapat mempengaruhi hasil panen yang tidak maksimal atau bahkan gagal panen. Oleh karena itu, Sayurbox memiliki mitra lokal yang jumlahnya tersebar untuk memastikan ketersediaan produk bagi konsumen.

Ketika membangun Sayurbox, Amanda tidak pernah terpikir usahanya bisa sebesar sekarang. Maklum saja, Sayurbox merupakan bisnis serius pertamanya. Ketika ditanya, apa rahasia sukses Sayurbox? Intinya adalah lakukan apa yang kamu suka. Jika sudah begitu, kamu akan belajar sambil usahanya berjalan. Kamu juga harus bersedia keluar dari zona nyamanmu dan tidak masalah dengan ketidakpastian. Jika kamu terus melakukan hal ini, lama kelamaan tanpa kamu sadari, usaha yang kamu jalani akan semakin besar.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.