Gurita Bisnis Crazy Rich Surabayan Hermanto Tanoko

kisah inspiratif hermanto tanoko

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal kisah inspiratif dari Hermanto Tanoko, pemilik bisnis cat Avian. Kemudian, bisnisnya bertransformasi hingga memiliki lebih dari 100 merek dan dikelola oleh 36 business unit dengan jumlah karyawan mencapai lebih dari 10 ribu orang di Surabaya.

Hermanto Tanoko lahir dari keluarga yang sangat sederhana di Malang. Bahkan, ketika dia lahir, Hermanto tinggal di bekas kandang ayam. Ayah dan ibunya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Saat itu, ayahnya berdagang palawija dan ibunya berdagang rombengan untuk menambah penghasilan keluarga. Ada pelajaran berharga dari ayahnya yang masih diingat Hermanto hingga sekarang. Suatu hari, dagangan ibunya sedang laku keras. Karena setiap hari keluarganya hanya makan nasi jagung, teri, dan sayur, ibunya lalu membeli seekor ayam untuk dinikmati bersama keluarganya. Ketika ayahnya pulang kerja dan melihat ada opor ayam di meja makan, bukannya senang, ayahnya malah bilang,”Kita belum saatnya makan ayam.” Akhirnya, sekeluarga tidak jadi makan ayam dan diberikan ke tetangga. Ayahnya memang keras dan maksudnya adalah agar hidup sesuai kemampuan. Hermanto juga bercerita, ayahnya punya kebiasaan cukup unik yaitu setiap kali ada pendapatan yang berlebih, ayahnya selalu membeli emas dan menabungnya di kaleng. Sedikit demi sedikit dikumpulkan agar suatu hari nanti bisa digunakan sebagai modal usaha.

Hingga pada tahun 1962, ayahnya diajak oleh adik tirinya, Suwandi Tanoko, untuk membuka toko di jalan yang ramai di Malang. Walaupun sudah punya tempat yang strategis, ada kendala berikutnya yaitu soal dana. Untuk menyewa toko di sana, mereka membutuhkan uang seharga 1 kg emas. Ayahnya dan adik tirinya kemudian memutar otak untuk mencari pinjaman. Kemudian, ayahnya pergi ke rumah tempat langganannya dulu yang sekarang sudah jadi kaya raya. Ketika bertemu dengan ayahnya, langganannya itu langsung meminjamkan uang ke ayahnya, tanpa menuntut bunganya harus berapa dan bayarnya kapan. Disitu, Hermanto belajar soal integritas dan reputasi. Ayahnya selama ini dikenal sebagai pribadi yang suka menolong dan memiliki reputasi yang baik, itulah yang membuat langganannya membantu ayahnya tanpa banyak syarat. Di toko itu awalnya, mereka ingin berjualan palawija karena itu memang keahlian dari ayahnya. Namun, karena area tokonya yang kecil, maka akhirnya mereka memutuskan untuk mendirikan toko cat. Walaupun sebelumnya tidak pernah berbisnis cat, ayahnya merupakan orang yang ulet, semuanya dia pelajari secara otodidak, bahkan dia bisa belajar cara mencampur cat sendiri. Hal inilah yang membuat tokonya laris manis, hingga akhirnya mereka sekeluarga berhasil pindah ke rumah yang lebih besar. Etos kerja ayah dan ibunya menjadi inspirasi Hermanto dalam berbisnis.

integritas
Sumber foto: bartowford.com

Bukan cuma etos kerjanya, orang tuanya secara tidak langsung juga mengajarkan anaknya termasuk Hermanto soal investasi sejak dia berusia 5 tahun. Hermanto bercerita, setiap perayaan Hari Raya Imlek, anak kecil pasti mendapat angpao. Uang dari angpao yang diterimanya, kemudian ditanyakan oleh orang tuanya,”Kamu mau beli terigu gak? Nanti kalau harga terigunya naik, uang kamu kan bertambah.” Nah, anak-anaknya kemudian mau dan mencatat harga belinya. Kemudian, ketika harganya naik, terigunya kemudian dijual di toko orang tuanya. Setelah terigu, orang tuanya juga menawarkan untuk membeli minyak dan begitu seterusnya. Dari situ, Hermanto belajar jual produk untungnya berapa dan menghargai kalau uang gak gampang dicari. Karena sering membantu di toko, pada usianya 8 tahun, Hermanto diajari oleh ayahnya untuk belajar di toko cat. Dari situ, dia belajar soal product knowledge, keuntungan masing-masing barang, hingga melayani pembeli. Usaha catnya pun berkembang pesat hingga keluarganya membeli sebuah rumah besar yang mewah. 

Kemudian, ketika usianya 14 tahun, ayahnya bilang sama dia, ada apotik seberang rumah yang ingin dijual. Ayahnya ingin membelinya cuma masih ragu karena tidak ada orang yang bisa menjaga apotik tersebut. Hermanto kemudian menawarkan diri untuk menjaga tokonya. Selanjutnya, setiap pulang sekolah, dia pergi untuk menjaga apotiknya. Awalnya, sistem di apotiknya cukup berantakan. Walaupun punya pegawai yang banyak sekitar 15 orang, setiap ada konsumen datang, ada saja masalahnya, entah itu obatnya habis atau kadaluarsa. Kondisi ini membuat Hermanto harus memutar otak. Dia pun bertekad, apotiknya harus jadi yang paling rame di kota Malang. Hermanto keliling ke tiga apotik paling laku di kota Malang sambil berpura-pura jadi konsumen. Disitu, dia belajar bagaimana mereka melayani konsumen, waktu pelayanan setiap konsumen, hingga untung yang diambil toko tersebut di setiap obat yang dijual. Semua data itu dia analisa dan akhirnya dia tahu kalau harga di apotiknya tidak bisa bersaing dengan toko lain. Akhirnya, Hermanto punya ide, dia minta uang ke ayahnya untuk dijadikan modal kerja. Uang tersebut dia gunakan untuk membeli obat dari supplier secara cash, sehingga dia bisa mendapat potongan harga yang lebih tinggi, tapi semua potongan itu dia berikan langsung ke konsumen sehingga harga obat di apotiknya menjadi sangat bersaing. Bukan cuma soal harga, Hermanto juga punya ide cemerlang, konsumen yang beli obat di apoteknya, tidak perlu menunggu resep karena semua obatnya akan diantar ke rumah konsumen gratis. 

investasi sejak dini
Sumber foto: wisebread.com

Setelah apotiknya sukses, pada umur 19 tahun, Hermanto diminta ayahnya untuk membantu bekerja di pabrik cat Avian. Ayahnya punya mimpi yang besar yaitu agar cat Avian menjadi nomor satu di Indonesia. Dari sebuah pabrik home industry kecil, sekarang bisnis Avian sudah menjelma menjadi salah satu perusahaan cat terbesar di Indonesia. Dalam perjalanannya membangun bisnis, keahlian Hermanto sebagai pengusaha diuji pada saat krisis tahun 1998. Berkat bimbingan ayahnya, semua perusahaannya tidak ada yang berhutang dalam dolar Amerika. Tapi, saat itu ada satu perusahaan dalam bidang jasa miliknya sedang kesulitan karena permintaan yang turun. Moral karyawannya juga rendah dan keluarganya juga meminta Hermanto untuk menutup saja usahanya. Namun, dia berpikir berbeda. Perusahaan itu bagi dia seperti anaknya sendiri, Hermanto pun mencari akal bagaimana caranya agar bisa bertahan. Dia mengumpulkan leader terbaik dari setiap departemen dan bersama-sama mencari solusi untuk mempertahankan bisnis perusahaan jasanya tersebut. Perlahan-lahan, banyak perbaikan yang dilakukan, moral karyawan juga ikut naik hingga akhirnya perusahaannya itu berhasil bertahan dari krisis dan mampu menghasilkan pertumbuhan yang luar biasa. 

Ada filosofi menarik dari Hermanto dalam membangun perusahaan. Bagi dia, membangun perusahaan itu ibarat seperti tanaman bonsai. Kalau orang suka tanaman bonsai, pasti dipupuk, dibentuk, dipotong yang bagus, kemudian ketika tanamannya cantik, maka banyak orang yang akan menikmatinya. Perusahaan juga seperti itu, bagaimana sebuah perusahaan bisa bertumbuh, berkembang secara sehat dan akhirnya bisa manfaat bagi banyak orang.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.