Belajar Menerima Diri Sendiri Apa Adanya

Hidup dalam ketidaksempurnaan adalah sebuah anugerah. Menjalani hidup seperti ini mengajarkan kita untuk menerima diri kita apa adanya, latihan bersyukur, dan menjadi bahagia dalam kehidupan sehari-hari.

Kali ini saya akan membahas buku The Gifts of Imperfection karya Brene Brown. Buku ini membahas bagaimana kita bisa menerima diri kita apa adanya dan belajar melepaskan pandangan buruk orang lain terhadap diri kita sendiri. Tidak masalah apabila kamu tidak sempurna, ini adalah indahnya kehidupan. Banyak dari kita berusaha menjalani hidup sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang lain. Kamu berusaha keras untuk menyesuaikan diri melakukan apa yang menurut orang lain baik. Apa yang terjadi bila kita hidup seperti ini? Tentu saja, kita tidak akan bahagia. Brene menekankan pentingnya untuk menerima dirimu apa adanya dan segala ketidaksempurnaan yang kamu miliki. Harapannya tentu saja, agar kamu bisa hidup dengan lebih bahagia. Apakah kamu mau ketika saatnya kamu mendekati kematian, kamu baru sadar kalau selama ini kamu hidup dalam kepalsuan? Kamu tidak bisa menjadi dirimu sendiri dan selalu berusaha hidup sesuai dengan pandangan orang lain. Jika kamu ingin berubah, kamu harus berhenti mempercayai kalau kamu harus menjadi sesuatu yang bukan dirimu, dan kamu harus mulai berpikir kalau diri kamu sekarang baik-baik saja apa adanya.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Menjadi diri sendiri apa adanya
Sumber foto: nationalsocialanxietycenter.com

Menjadi diri sendiri apa adanya

Menjadi diri kita apa adanya, tanpa mendengarkan seperti apa masyarakat pikirkan tentang kita tentu saja tidak mudah. Apalagi di era media sosial sekarang, di mana ada tekanan sosial untuk terlihat keren, menjalani hidup yang sempurna dan bahagia. Makanya, kita sering dengar, kok di media sosial dan ketemu aslinya, beda ya? Mungkin saja, hal ini terjadi karena, orang tersebut tidak percaya diri akan dirinya sendiri dan berusaha untuk menyesuaikan dengan pandangan orang lain terhadap dirinya di media sosial. Tapi mau sampai kapan seperti ini? Sampai kapan hidup dalam kepalsuan? Menjadi dirimu yang sesungguhnya adalah kumpulan pilihan yang harus kamu buat setiap hari. Ini merupakan pilihan untuk jujur. Pilihan untuk membiarkan dirimu yang sebenarnya untuk terlihat.

Menjadi dirimu yang sesungguhnya berarti kamu punya kendali untuk menceritakan kisah hidupmu seperti apa. Kamu tidak membiarkan orang lain memberitahu siapa dirimu. Apa yang orang lain katakan tentang dirimu bukanlah dirimu yang seutuhnya, itu hanyalah bagian dari interaksi antara dia dan dirimu, yang kemudian diproses menjadi persepsi dirimu di mata dirinya. Tapi apakah itu dirimu yang sebenarnya? Apakah itu gambaran lengkap tentang siapa dirimu? Tentu saja, tidak. Oleh karena itu, tugas kamu adalah menceritakan siapa dirimu yang sebenarnya. Suatu saat, ketika kamu lelah akan semua kepalsuan, maka mungkin kamu akan memilih untuk menjadi diri kamu apa adanya. Tentu saja, ini butuh keberanian dan rasa sayang kepada diri sendiri. Ketika kamu jujur tentang siapa dirimu, maka kamu akan menemukan hubungan manusia yang berkualitas dan orang yang menerima kamu apa adanya. 

Hidup perfeksionis yang semu
Sumber foto: kompasiana.com

Hidup perfeksionis yang semu

Apakah kamu seorang perfeksionis? Apakah ini adalah kualitas diri yang positif? Ternyata, walaupun terdengar positif, perfeksionis itu malah membuat dirimu menjadi tidak bahagia. Mungkin perlu dipahami kalau menjadi perfeksionis tidak sama dengan menjadi versi terbaik dari dirimu atau pengembangan diri. Kok tidak sama? Karena motivasinya yang berbeda. Perfeksionis berputar pada pengejaran diri pada suatu hal yang sempurna. Jika kita tampil sempurna, hidup dan berperilaku yang sempurna, maka kita akan dapat melindungi diri kita dari kritik, penilaian atau kesalahan. Artinya, semua itu bertujuan untuk melindungi kita dari rasa malu. Pola pikir ini cukup bahaya karena hidup sebagai perfeksionis berarti nilai diri kita bergantung pada dukungan atau penerimaan dari orang lain. Kita dapat menghindari perfeksionisme dengan jujur tentang rasa takut kita soal rasa malu yang muncul dari omongan orang lain dan mengingatkan diri kita untuk melakukan segala sesuatu untuk diri kita sendiri daripada untuk orang lain. Misalnya, ketika kamu memutuskan untuk mengurangi berat badan, jangan biarkan pendapat orang lain tentang kamu dan tubuhmu menjadi motivasi untuk mengurangi berat badan. Melainkan, katakan pada dirimu sendiri bahwa olahraga dan diet sehat akan membuat kamu merasa lebih baik dan lebih sehat. Keberhasilan atau kegagalan di dalam proses mengurangi berat badan, tidak akan mempengaruhi nilai dirimu secara pribadi.

Dalam perjalanan hidup menjadi perfeksionis, kita sering menggunakan hidup orang lain sebagai patokan. Kita berusaha untuk memiliki kehidupan orang lain. Kita merasa hidup orang lain terlihat begitu sempurna dan sangat berbeda dari hidup yang kita jalani sekarang. Tapi, dalam perjalanan kita untuk menjadi orang lain, kita akan kehilangan siapa diri kita yang sebenarnya, sesuatu yang unik dari diri kita. Hal ini disebabkan ketika berkompetisi, kita berusaha untuk menyesuaikan dengan orang lain. Jadi, bagaimana caranya agar kita berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain? Jadilah kreatif. Kreativitas adalah ekspresi siapa dirimu. Itulah yang membuatmu spesial. Itulah yang membuatmu berbeda. Kita semua memiliki bakat dan passion yang terpendam. Kita harus belajar menerimanya, daripada mengabaikannya hanya demi pekerjaan yang menghasilkan uang. Misalnya, mungkin kamu punya bakat dalam seni, atau mungkin kamu pandai berbicara, atau mungkin dalam hal statistik. Tentu saja, tidak semua bakat dan passion ini mampu menghasilkan uang. Tapi, dengan mengetahui apa bakat dan passion yang kita miliki, maka kita juga bisa menjalankannya berbarengan dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Misalnya, kalau kamu suka menulis, tapi pekerjaan kamu yang sekarang adalah seorang akuntan. Kamu bisa dengan bangga mengatakan kalau diri kamu adalah seorang akuntan dan juga seorang penulis.

Bersyukur dengan hidup yang biasa-biasa saja
Sumber foto: penzu.com

Bersyukur dengan hidup yang biasa-biasa saja

Bersyukur adalah latihan untuk menumbuhkan kebahagiaan. Hal ini memiliki dampak besar tentang bagaimana kita menjalani hidup. Ketika kita bersyukur, artinya kita menyadari kalau kebahagiaan bukan berasal dari hal eksternal yang tidak bisa kita kontrol, tapi kita memilih untuk bahagia dengan latihan bersyukur. Salah satu latihan bersyukur adalah dengan mengatakan kepada diri sendiri kalau apa yang kita miliki sekarang sudah cukup, daripada kita melihat segala kekurangan yang kita miliki sekarang. Kebanyakan orang punya kebiasaan buruk menyalahkan diri sendiri karena merasa hidupnya tidak cukup: Tidak cukup kaya, tidak cukup kurus, tidak punya cukup waktu dan sebagainya. Sebaliknya, kita harus fokus pada hal-hal yang sudah kita miliki. 

Kunci dari bersyukur adalah menghargai hal yang terlihat biasa-biasa saja, yang sehari-hari ada di dalam hidup kita. Misalnya, masih bisa bernafas, masih bisa makan setiap hari, masih bisa berjalan, masih bisa punya internet, bersama orang yang dicintai, dan sebagainya. Menjadi bahagia tentu saja tidak selalu setiap saat, maka itu kita perlu latihan bersyukur sebagai pengingat kita untuk bahagia. Hidup yang kita miliki sekarang lebih baik daripada tidak ada sama sekali. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.