Cara Mengetahui Kesalahan Logika Berpikir

Manusia tidak akan lepas dari ketidaksempurnaan dalam berpikir. Mengetahui apa saja yang menjadi penyebab bias pikiran, tidak membuat kamu jadi kebal, tapi membuat kamu menjadi lebih bijak dan berusaha meminimalisir dampak bias pikiran dalam hidupmu.

Kali ini saya akan membahas buku The Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelli. Buku ini membahas bagaimana kita bisa menghindari bias kognitif dan membuat keputusan yang lebih baik di setiap aspek kehidupan. Pada dasarnya, semua orang, yang paling rasional sekalipun, pasti juga rawan mengalami kesalahan. Bukan cuma orang yang paling rasional, bahkan orang pintar pun, juga masih mengalami kesalahan tersebut. Tapi, jangan berkecil hati, itulah indahnya menjadi manusia dengan segala ketidaksempurnaannya. Di bukunya, Rolf menuliskan 99 kesalahan umum berpikir yang biasanya kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja, walaupun kita sudah tahu kesalahan umum tersebut, bukan berarti kita pasti mampu menghindarinya, tapi akan membantu kita untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Saya merangkumnya menjadi lima hal menarik dari buku ini:

survivorship bias
Sumber foto: 123rf.com

Survivorship Bias

Survivorship Bias adalah kesalahan logika karena kita hanya fokus pada orang atau benda yang sukses saja dan mengabaikan yang gagal, sehingga kita mengambil kesimpulan yang salah. Kita suka dengan cerita zero to hero, misalnya dari pemain band jalanan kemudian sukses bermusik dan terkenal di seluruh dunia. Cerita sukses ini bagus untuk jadi motivasi kita agar terus berjuang dan berusaha. Tapi, harus diingat, satu orang yang berhasil, bukan berarti sejuta orang lainnya bisa dengan mudah meniru apa yang orang sukses ini lakukan dan mendapatkan hasil yang sama. Hal yang sering kita tidak perhatikan adalah faktor keberuntungan di dalam hidup orang sukses yang kita kagumi. Bias pikiran ini sering kita lihat dalam investor dan pengusaha. Misalnya, kita lihat ada investor saham sukses seperti Lo Kheng Hong dan dijuluki sebagai Warren Buffet Indonesia. Tidak masalah kalau cerita Pak Lo menginspirasi kamu dan membuat kamu ingin mencoba menjadi investor saham. Tapi, yang kemudian jadi masalah adalah kamu selalu membandingkan progress yang kamu lakukan dengan hasil yang telah dicapai oleh Pak Lo. Hal ini jadi berbahaya, ketika kita menduga kesuksesan kisah orang dari zero to hero, bisa dengan mudah kamu tiru dan menghasilkan hal yang sama. Mungkin contoh lain adalah banyak orang bercita-cita ingin jadi content creator. Seakan-akan ini merupakan cara sukses untuk cepat kaya, karena melihat banyak anak usia muda terus jadi content creator dan sukses. Padahal, tidak semudah itu. Apabila kita mau melihat realita yang sebenarnya, masih banyak ribuan lainnya yang mencoba tapi gagal.

sunk cost fallacy
Sumber foto: 123rf.com

Sunk Cost Fallacy

Sunk Cost Fallacy adalah kecenderungan orang untuk terus bertahan dalam kondisi yang buruk walaupun kondisi di masa depan sulit membaik. Hal ini disebabkan karena orang tersebut sudah menginvestasikan uang, tenaga, dan cinta. Ini pasti sering kita temui. Contoh paling umum adalah pasangan yang menolak putus atau cerai, walaupun berada dalam hubungan yang toxic dan abusive. Biasanya, mereka menolak untuk move on karena merasa sudah menghabiskan banyak waktu dan energi bersama. Hal lain yang menyebabkan pasangan ini menolak untuk pisah karena takut dianggap gagal. Tentu saja, tidak ada orang yang ingin dicap kalau dia membuat keputusan yang buruk. Egonya yang besar malah membuat dirinya masuk dalam lubang kegelapan yang semakin dalam. Menariknya, semakin lama seseorang berada dalam kondisi yang buruk, maka akan semakin sulit orang itu untuk move on. Tentu saja, alasannya karena orang tersebut sudah menginvestasikan waktu yang begitu lama, jadi berharap keadaan akan membaik, yang tentu saja tidak akan pernah menjadi kenyataan. Sama halnya, ketika seorang investor menaruh saham pada Perusahaan yang kinerjanya buruk. Investor ini tentu saja berharap agar kinerja Perusahaan itu membaik, padahal kenyataan malah sebaliknya. Walaupun pilihan yang logis adalah cut loss, tapi merasa rugi. Jadi, investor itu tetap bertahan pada Perusahaan yang kondisinya buruk hingga akhirnya Perusahaan itu bangkrut.

confirmation bias
Sumber foto: mappingignorance.org

Confirmation bias

Confirmation Bias adalah kecenderungan seseorang untuk mencari informasi yang mendukung pemikiran atau prinsip yang dianut sebelumnya, dan menyingkirkan fakta yang bertentangan. Contoh paling gampang untuk melihat hal ini adalah saat pemilihan presiden 2014 dan 2019. Di kedua pemilihan ini, mayoritas masyarakat terbagi menjadi dua kubu: kubu Jokowi dan kubu Prabowo. Setiap pendukung di masing-masing kubu tentu saja menjagokan pilihannya. Tapi, seperti halnya setiap manusia, tentu saja setiap calon pasangan presiden pada masa itu, ada hal yang baik dan kurang baiknya. Nah, pertanyaan menariknya seperti ini, apa yang dilakukan oleh pendukung Jokowi ketika melihat ada berita yang berisi informasi yang kurang baik tentang Jokowi? Pertanyaan yang sama juga berlaku bagi pendukung Prabowo, apakah pendukungnya menerima informasi yang kurang baik tentang Prabowo? Tentu saja, masing-masing pendukung merasa informasi tersebut adalah berita yang kurang tepat, atau bahayanya mereka pikir itu hoax, walaupun bersumber dari portal berita yang resmi. Makanya, kita lihat, banyak masyarakat yang lebih percaya pada akun anonim dan influencer, karena mereka memberikan pemikiran yang sependapat dengan pilihan mereka, daripada hasil cek fakta dari portal berita yang resmi. Bahayanya lagi, algoritma pencarian internet biasanya menyesuaikan dari selera orang tersebut. Jadi, orang tersebut lebih sering mendapatkan informasi yang sesuai dengan pendapat mereka, tanpa diseimbangkan dengan fakta lain yang tidak sependapat dengan pemikiran mereka.

illusion of control
Sumber foto: mentalfloss.com

Illusion of Control

Apakah kamu pernah lihat orang yang komat kamit baca mantra ketika ambil nomor undian? Atau mereka tiup dadunya sebelum dilempar sambil meneriakkan angkanya? Kalau iya, itu yang dimaksud dengan ilusi kontrol. Jadi ilusi kontrol adalah kecenderungan kita untuk percaya tentang hal yang bisa kita kontrol, padahal tidak. Menariknya, ilusi kontrol ini memberikan kita harapan. Jadi, ketika kita gagal sekalipun, kita tidak akan terlalu menderita. Contoh lain yang menarik adalah tombol placebo. Ini adalah tombol yang kita pencet ketika kita mau menyebrang jalan. Contoh dari tombol ini, bisa kita lihat di persimpangan besar di daerah pusat kota Jakarta. Ada sebuah penelitian yang menyatakan kalau kebanyakan tombol placebo di dunia tidak berfungsi, tapi mampu memberikan kita rasa kontrol dan membuat kita lebih sabar untuk menunggu giliran kita untuk menyebrang. Penelitian lain juga mendapatkan kesimpulan yang sama soal ilusi kontrol. Jadi, ada dua grup yang ditempatkan di ruangan yang berbeda untuk mengetes sensitivitas pendengaran mereka dengan suara keras yang buat kupingnya sakit. Di grup yang tersedia tombol panic button apabila mereka sudah tidak kuat lagi, ternyata memiliki ketahanan suara yang lebih kuat. Padahal, tombolnya itu tidak berfungsi. Tapi, mereka memiliki ilusi kontrol, kalau mereka bisa menyudahi eksperimen itu sesuai keinginan mereka.

social proof
Sumber foto: investivdaily.com

Social Proof

Social Proof adalah kecenderungan seseorang untuk mengikuti perilaku mayoritas. Contoh dari hal ini misalnya dalam suatu acara, kemudian ada satu orang yang tepuk tangan, pasti tidak lama kemudian, hampir semua orang juga ikutan tepuk tangan. Padahal, awalnya mereka semua tidak ingin tepuk tangan, tapi karena ada yang mulai dan beberapa juga ikutan tepuk tangan, akhirnya hampir semua orang juga ikut tepuk tangan. Hal ini disebabkan, kita merasa perilaku kita benar apabila kita melakukan apa yang mayoritas lakukan. Tentu saja, pemikiran seperti ini sudah mengakar jauh hingga ke jaman pra sejarah. Coba bayangkan, kamu dalam kelompok manusia purba yang sedang berburu di hutan. Kemudian, tiba-tiba saja, teman-temanmu lari dengan kencang, pasti kamu juga ikut lari, walaupun kamu tidak tahu apa alasannya, yang penting adalah mengikuti apa yang kelompokmu lakukan. Tentu saja, hal ini bukan tanpa alasan. Jika saja kamu tidak mengikuti apa yang teman-temanmu lakukan dan ternyata ada singa, ya akhirnya kamu bisa meninggal dimakan singa. Tapi, jika kamu mengikuti apa yang dilakukan kelompokmu, toh akhirnya kamu selamat. Nah, cara bertahan hidup ini masih diturunkan hingga sekarang, jadi kita cenderung tidak ingin terlihat berbeda.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.