Bisnis Minuman HAUS! Capai 20 Milyar/Bulan

HAUS Gufron Syarif

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal kisah inspiratif dari Gufron Syarif atau dikenal dengan nama Ufo. Dia merupakan salah satu pemilik dari minuman kekinian dengan merek HAUS! Sebagai informasi, HAUS! berdiri sejak tahun 2018. Dalam sebulan, HAUS! mampu menjual 2 juta gelas dengan total omzet mencapai 20 miliar. Hebat banget kan, padahal usahanya baru berjalan setahunan lho. Jadi, bagaimana kisahnya? Strategi apa yang dilakukan Ufo untuk membuat HAUS! bisa seperti sekarang? Yuk kita simak bersama-sama.

Setelah lulus kuliah, awalnya Ufo bekerja sebagai pegawai kantoran selama dua tahun. Namun, karena tidak betah, akhirnya Ufo keluar dan mau berbisnis. Tapi, saat itu, Ufo dikasih syarat sama orang tuanya, kalau mau bisnis, harus jadi dosen dulu. Akhirnya, Ufo menjalani double job, pekerjaan pertama sebagai dosen di Universitas Padjajaran Bandung. Kemudian, setelah jadi dosen, Ufo mulai usaha berbagai macam. Awalnya, Ufo sempat coba berjualan plastik daur ulang. Tapi, setelah dijalani selama 6 bulan, dia merasa itu bukan passion-nya. Akhirnya, dia tutup bisnisnya dan mulai berjualan makanan, yaitu rendang kemasan dengan merek Uda Gembul. Karena istrinya orang Padang, Ufo jadi mau coba explore usaha rendang. Untuk belajar membuat rendang yang enak, setiap hari Ufo pergi ke pasar untuk berteman dengan pedagang rempah rendang agar diajarin bagaimana caranya bikin rendang yang enak. Berbagai pendekatan dilakukan, dari minum kopi bareng, main catur, sampai akhirnya setiap selesai dagang, pedagang rempah itu mengajari Ufo bagaimana caranya bikin rendang. Bisnisnya ketika jualan rendang juga cukup booming, menyentuh 600 juta sebulan. Namun, karena pasarnya terlalu niche, Ufo berusaha untuk cari bisnis baru.

ufo jualan rendang
Sumber foto: fjb.kaskus.co.id

Hingga akhirnya, Ufo bertemu dengan temannya yang sukses berjualan ayam goreng hingga punya 200-an cabang. Usaha ayam gorengnya itu ternyata menyasar pasar middle low. Ini merupakan sesuatu yang baru bagi Ufo. Sebagai informasi, pasar middle low ini sangat besar di Indonesia. Itulah yang kemudian membuat Ufo berpikir, produk apa yang cocok untuk pasar itu dengan harga yang terjangkau yaitu 5 ribu hingga 15 ribu. Angka segitu juga sudah berdasarkan riset yang dilakukan oleh Ufo berdasarkan pada rata-rata pengeluaran orang di segmen middle low. Setelah diriset, akhirnya dia memutuskan untuk menjual minuman. Berdasarkan pengalaman berbisnis makanan, Ufo sadar kalau orang tidak membeli makanan di toko yang sama setiap hari. Tapi, kalau minuman, mungkin lain cerita. Walaupun makanannya berbeda, tapi minumnya bisa sama setiap hari. Setelah dihitung-hitung, ternyata bisnis minuman ini cukup menjanjikan. Akhirnya, Ufo memutuskan untuk mengembangkan minuman kekinian bermerek HAUS! yang menawarkan segala jenis produk yang berbahan dasar teh atau kopi yang sedang tren di pasar dengan menyasar segmen kelas C. Varian rasa yang ditawarkan juga sangat beragam mulai dari thai tea, green tea, black oreo cheese, es kopi susu, dan sebagainya. Agar bisa sukses dengan harga yang terjangkau, maka Ufo memberikan target harus mampu menjual 400 ratus gelas dalam sehari. Hal ini disebabkan harga modal HAUS! itu cukup tinggi, mencapai 50% di setiap gelasnya. Selain itu, dalam hal menciptakan produk baru, sebenarnya Ufo juga tidak memiliki latar belakang yang cocok, karena background dia adalah seorang akuntan. Tapi, semua itu bisa dipelajarinya di internet untuk menciptakan minuman yang menjadi menu di HAUS! Tentu saja, selama ada kemauan, pasti disitu ada jalan. 

middle low market
Sumber foto: ykkap.co.id

Setelah selesai menghitung, Ufo kemudian mengumpulkan timnya yang berasal dari profesional dan juga orang yang pernah berbisnis, semua anggota tim berasal dari lingkaran pertemanannya. Akhirnya, HAUS! mulai buka toko pertamanya di dekat Binus pada saat malam takbiran. Ada cerita menarik di baliknya. Sebenarnya, Ufo ingin mengetes apakah teman-temannya serius atau tidak dalam menjalankan bisnis. Karena kebanyakan orang ingin berbisnis tapi gak mau ikutan capek. Makanya, Ufo tes dengan membuka bisnis di malam takbiran. Sebagai informasi, malam takbiran biasanya waktu berkumpul bersama keluarga. Ufo berpendapat, kalau teman-temannya rela buka toko padahal itu waktu bersama keluarga, artinya mereka serius berbisnis. Di hari pertama HAUS! dibuka, ternyata responnya bagus dan mencapai omzet 1,5 juta. Di hari kedua, yaitu saat Hari Raya Idul Fitri, sehabis bersilaturahmi dengan keluarga, mereka semua langsung buka toko, dan omzetnya meningkat lagi mencapai 2 juta rupiah. Di hari kedua lebaran, omzet terus bertambah menjadi 4 juta rupiah. Ternyata, setelah anak-anak kecil yang tinggal di wilayah sekitar mendapat amplop lebaran, mereka langsung membeli HAUS! Tentu saja, ini karena harga HAUS! yang terjangkau seharga 5 ribuan, jika dibandingkan dengan minuman sejenis yang kalau di mall harganya bisa mencapai 25 ribu. Dari awalnya karyawan hanya dua orang, setelah melihat progress omzet yang terus naik, Ufo memutuskan harus menambah karyawan baru. Walaupun karyawan bertambah, di awal usaha selama satu setengah bulan, founder dari HAUS! tetap ikut monitor di toko, bertemu langsung dengan pelanggan, melihat operasional toko, agar mereka bisa tahu masalah apa yang ada di lapangan dan untuk perkembangan usaha kedepannya. 

Setelah 2 bulan, Ufo memutuskan untuk menambah gerai HAUS! yang kedua. Ada yang menarik dari sistem bisnisnya HAUS! Sejak awal, keempat founder dari HAUS! tidak keluar uang sepeserpun. Jadi, di setiap toko HAUS! yang dibuka, maka akan ada investor pasif di baliknya. Nah, di toko-toko selanjutnya, investor pasifnya pun beragam, mulai dari founder dari HAUS!, keluarga, teman terdekatnya, hingga dibuka untuk umum. Seperti contoh, Ufo yang menjadi investor pasif di toko HAUS! yang kedua. Kemudian, HAUS! berkembang jadi gurita bisnis seperti sekarang.

minuman haus
Sumber foto: traveloka.com

Tentu saja, walaupun kelihatannya mulus dan selalu menanjak. Kehidupan sebagai pengusaha tidak seperti grafik yang terus naik, tapi seperti roller coaster yang naik turun. Ufo menceritakan masa sedihnya ketika mulai berbisnis. Saat itu, istrinya sedang hamil dan karena baru awal merintis usaha, uang yang dihasilkan juga tidak banyak. Awalnya, Ufo sekeluarga tinggal nge-kos setelah menikah. Namun, dia harus pindah ke kontrakan ketika istrinya mulai hamil besar karena tangga di kost-an yang tinggi. Tentu saja biayanya pun meningkat, hingga akhirnya Ufo hanya mampu membeli kasur. Tapi, saat itu, istrinya membutuhkan lemari baju. Dengan uang yang terbatas saat itu, Ufo hanya mampu membayar DP-nya saja. Disitu, Ufo sempat terpikir untuk menyerah karena merasa hidup sebagai pengusaha cukup berat. Tapi, Ufo kemudian menguatkan diri lagi, kalau tujuan dia berbisnis itu lebih dari sekadar uang. Momen saat itu adalah ujian berat bagi Ufo dan keluarga. Ufo pun bercerita, di masa itu, ketika teman-temannya weekend bisa ke cafe atau ke restoran bersama keluarga, Ufo hanya bisa mengajak anak-anaknya ke Indomaret untuk beli Kinderjoy. Bagi Ufo, fase jatuh bangun dalam berbisnis harus dilalui. Bagi dia, bisnis itu seperti naik sepeda. Kita bisa belajar dari buku bagaimana caranya naik sepeda. Walaupun begitu, kita pasti gak bisa langsung naik sepeda. Untuk bisa naik sepeda, kita harus coba sendiri, jatuh bangun berkali-kali hingga akhirnya bisa naik sepeda, itulah makna berbisnis bagi Ufo.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.