Kisah Inspiratif Ali Muharam Membangun Makaroni Ngehe hingga Milyaran

Jualan Makaroni Omzet MILYARAN!

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal kisah inspiratif dari Ali Muharam. Jadi, dia adalah pemilik dari Makaroni Ngehe, yang sekarang omzetnya mencapai miliaran rupiah per bulan.

Ali Muharam berasal dari Tasikmalaya. Dari kecil, Ali sering diajak ke tempat penampungan barang bekas, karena orang tuanya berbisnis barang rongsokan. Beda dengan anak kecil pada umumnya, Ali menikmati waktunya saat ada di sana, melihat transaksi jual beli, dan mengamati proses bisnis barang rongsokan. Itulah awal kecintaan Ali pada dunia wirausaha. Dari kecil, dia sudah kepikiran soal uang, karena pada dasarnya Ali  suka jajan. Tapi, walaupun suka jajan, dia gak bisa minta uang ke ibunya, karena kondisi ekonominya yang kurang baik, sejak ayahnya meninggal saat dia di sekolah dasar. Tapi, Ali tidak kehabisan akal, dia mulai coba berjualan kantong kresek, agar bisa terus jajan, tapi tidak minta uang ke orang tuanya. Setiap mendekati hari raya lebaran, Ali mencoba untuk berjualan kantong kresek ke pasar-pasar. Hasil dari jualan kantong kresek cukup lumayan, bahkan Ali bisa beli baju dan celana baru, semua dari uangnya sendiri.

Kemudian, ketika lulus SMA, Ali memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan bertekad untuk membiayai kuliahnya sendiri. Kondisi keluarganya saat itu tidak memungkinkan dirinya untuk kuliah karena ibunya seorang diri dan membiayai lima anaknya. Ketika memutuskan untuk merantau, Ali tidak langsung berangkat dari Tasikmalaya ke Jakarta. Ali sempat pindah ke beberapa kota dulu untuk bekerja sebelum akhirnya sampai ke Jakarta. Awalnya, Ali pergi ke Kebumen, disana dia membantu saudaranya untuk berjualan sandal imitasi dan berusaha menawarkannya ke toko-toko. Namun sayangnya tidak laku. Beberapa minggu kemudian, Ali diajak oleh bos saudaranya untuk ke Yogyakarta. Di sana, Ali bekerja sebagai penjaga rumah dan membersihkan rumah tersebut. Di sana, Ali tidak tinggal lama, karena dia masih bertekad untuk pergi ke Jakarta. Beberapa minggu kemudian, Ali diajak saudaranya ke Bogor, karena di sana saudaranya sudah bekerja menjadi office boy. Kemudian, dari Bogor, barulah Ali punya kesempatan untuk ke Jakarta. 

merantau
Sumber foto: boombastis.com

Setelah sampai di Jakarta, hidup tidak berubah jadi mudah. Karena merantau, Ali pernah melakukan banyak pekerjaan untuk bertahan hidup. Bahkan, dia pernah bekerja menjadi tukang cuci piring di kantin karyawan Cinere Mall dan digaji lima ribu per hari. Semua itu dilakukan untuk menyambung hidup. Gajinya tergolong kecil untuk bertahan hidup di Jakarta, jangankan untuk makan; untuk tidur saja, Ali harus menumpang di emperan toko atau masjid di dekat tempatnya bekerja. Hingga akhirnya, Ali mendapat pekerjaan yang cukup baik yaitu sebagai menjadi penulis skrip sinetron. Ali menjalani pekerjaannya dari tahun 2008 hingga tahun 2011. Di tahun itu, Ali berada pada titik terendah. Banyak masalah bertubi-tubi muncul dalam hidupnya, mulai dari tidak ada proyek sinetron lagi, ibunya sakit, hingga adiknya yang butuh biaya untuk kuliah. Akhirnya, Ali memutuskan untuk pindah jalur karir dari karyawan menjadi pengusaha. Ali sadar, kalau dia tidak bisa mengandalkan gaji bulanan, dan dia butuh penghasilan yang lebih dari gaji karyawan. Satu-satunya cara yaitu dengan punya usaha sendiri. Hingga akhirnya, Ali memutuskan untuk berbisnis makaroni.

Ada cerita yang cukup personal di balik usaha makaroni yang dijalaninya. Pada tahun 1993-an, ada tradisi yang dilakukan oleh Ali dan keluarganya yaitu selalu membuat kue kering setiap lebaran. Cuma pada lebaran tahun itu, Ali dan keluarga tidak buat kue kering, karena biayanya yang tinggi. Ibunya kemudian menyiasatinya dengan membuat makaroni kering yang diberikan bumbu asin dan pedas. Menariknya, Ini merupakan resep asli dari ibunya. Karena enak, ternyata banyak orang yang coba berjualan makaroni. Di Tasikmalaya saat itu, ada toko makaroni yang laris selama bertahun-tahun. Akhirnya, ibunya mengusulkan, kenapa Ali tidak coba berjualan makaroni saja di Jakarta? 

wirausaha
Sumber foto: romadecade.org

Untuk membangun bisnis, tentu saja tidak mudah dan butuh perjuangan. Awalnya, Ali dibantu oleh ibunya untuk mulai berjualan. Mulai dari mencari bahan baku di pasar hingga menentukan harga jual yang cocok. Akhirnya, Ali mulai produksi makaroni pedas 100 bungkus per hari, ternyata laku, dan untung 3 juta rupiah. Bermodal keberhasilan itu, Ali kemudian pergi ke Jatinangor, Bekasi dan bertemu dengan penjual tahu pedas. Akhirnya mereka bekerja sama untuk berjualan makaroni, penjual tahu pedas ini menyiapkan gerobak, sedangkan Ali yang berjualan. Semuanya Ali lakukan sendiri, mulai dari goreng makaroni dan jualan pakai gerobak selama dua minggu. Akhirnya, dia kembali ke Jakarta untuk membuat sampel produk makaroni dan membagikan ke teman-temannya. Ternyata responnya bagus. 

Saat semangat mau buat usaha, di tahun 2012, ibunya masuk rumah sakit dan kemudian meninggal dunia. Itu merupakan momen yang sangat down bagi Ali. Selama ini, Ali ingin jadi pengusaha untuk membahagiakan ibunya, tapi saat itu ibunya tidak ada. Hingga ada satu titik yang mengubah pemikirannya. Ali bertemu dengan seorang ibu yang merupakan tukang cuci di tempat kos dia tinggal. Saat itu, Ali memberikan sejumlah uang ke ibu tersebut karena sepertinya ibu itu sangat membutuhkan uang. Ketika Ali memberikan uangnya, ibu itu berterima kasih dengan tulus dan kelihatan sangat gembira. Itulah momen yang mengubah hidup Ali, kalau hidup bukan hanya soal dirinya sendiri. Tapi melalui usaha, dia bisa membantu orang banyak. Disitulah, Ali merasa kalau sudah saatnya dia membuat toko sendiri. 

makaroni ngehe
Sumber foto: traveloka.com

Dengan modal nekad, Ali meminjam 20 juta dari temannya sebagai modal awal untuk membangun usaha yang diberi nama Makaroni Ngehe. Saat itu, dia tidak ada tabungan sama sekali dan tidak tahu bagaimana cara balikin uang temannya. Tapi, dalam hati, Ali bertekad do or die, ini adalah momen dia untuk pindah jalur dari karyawan menjadi pengusaha. Bahkan, Ali sempat terpikir apabila usahanya gagal dan dia tidak bisa membayar hutangnya, Ali rela menjadi pembantu temannya selama dua tahun untuk melunasi hutang tersebut. Kemudian pada tahun 2013, Ali resmi membuka toko makaroni ngehe di dekat tikungan Kampus Binus Anggrek. Nama makaroni ngehe yang unik juga punya cerita sendiri. Kok kesannya kasar ya? Nama Ngehe sendiri, bagi Ali, merupakan gambaran dari hidupnya. Dulu dia sempat bekerja di restoran, dan dikatain oleh seniornya,”Ngehe lu” karena kerjaan dia yang kurang bagus pada saat itu. Ngehe sendiri bagi Ali merupakan umpatan soal keadaan yang menjengkelkan dan membuat dia marah banget. Selain itu, kata ngehe sendiri merupakan pengingat bagi dirinya agar tidak kembali ke kehidupan lamanya yang sulit. 

Saat awal membuka toko Makaroni Ngehe, produknya tidak langsung laku. Awalnya, tidak ada yang beli, karena produknya masih baru dan namanya yang aneh bagi kebanyakan orang. Kebanyakan orang hanya lewat di depan tokonya saja dan berfoto di depan tulisan Makaroni Ngehe, karena unik. Rasa makaroni ngehe yang pedas dan asin ternyata cocok dengan selera cemilan masyarakat Indonesia pada umumnya. Bukan cuma soal rasanya, tapi pelayanan pelanggan juga sangat diperhatikan. Ali berusaha melayani pelanggan sepenuh hati dan menanamkan hal tersebut ke para karyawannya. Apalagi ketika ada konsumen yang bilang, pedes banget atau enak nih, itu membuat Ali sangat senang. Gayanya yang ramah dan supel membuat pelanggan jadi betah untuk datang dan membeli makaroni ngehe. Kemudian, pelan-pelan usahanya tumbuh, hingga sekarang Makaroni Ngehe sudah tersedia di 34 cabang dengan omzet milyaran per bulan. Saat ini, produk yang dijual juga bukan cuma makaroni, tapi Makaroni Ngehe juga menyediakan cemilan lain seperti otak-otak, bihun garing, dan mie krenyes.

Untuk versi animasinya bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.