Kisah Michelle Obama, Ibu Negara Afrika Amerika Pertama di Amerika Serikat

Becoming

Jika kamu tidak menentukan hidupmu sendiri, maka kamu membiarkan orang lain untuk menentukan hidupmu. Menjadi sesuatu yang kamu inginkan bukanlah sebuah tujuan, tapi sebuah perjalanan tanpa akhir untuk terus menerus menjadi versi terbaik dari dirimu.

Kali ini saya akan membahas buku Becoming karya Michelle Obama. Buku ini membahas soal perjalanan Michelle mulai dari masa kecilnya hingga menjadi African-American First Lady pertama di Amerika Serikat. Selama suaminya menjadi presiden, Michelle merupakan sosok yang populer. Bahkan popularitas Michelle menyamai Barack. Di sini, Michelle banyak memberikan sudut pandang lain yang belum pernah kita lihat. Dia banyak menceritakan tentang dirinya, keluarganya, kecintaannya terhadap Amerika Serikat, dan berharap masa depan yang lebih baik. Bahkan, di bukunya, Michelle banyak menceritakan hal yang privat seperti keguguran, penggunaan bayi tabung, hingga ketidak percayaannya ketika Barack berkeinginan untuk menjadi kandidat presiden di Amerika Serikat.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal menarik dari buku ini:

Jangan biarkan keadaan menghentikanmu
Sumber foto: sportsworldzone.com

Jangan biarkan keadaan menghentikanmu

Ketika Michelle masih di sekolah, dia pergi ke sekolah yang biasa saja, tapi orang tuanya selalu mendukung dia untuk mendapatkan kesempatan terbaik dan mendorongnya untuk maju. Setelah mengunjungi kakaknya yang sudah kuliah di Princeton University, dia memutuskan untuk kuliah disana juga. Tapi, konselor universitas mengatakan kalau Michelle itu tidak cocok di Princeton, karena pada masa itu, mayoritas mahasiswa Princeton berkulit putih dan sebagian besar pria. Komentar itu tidak mengecilkan Michelle, melainkan dia berusaha keras untuk masuk disana. Akhirnya, 6 hingga 7 bulan kemudian, Michelle mendapatkan informasi kalau dia diterima di Princeton. 

Ketika awal Barack Obama menjadi kandidat presiden Amerika Serikat, Michelle sempat ragu. Bukan karena kapabilitas Barack, dia yakin Barack mampu menjadi presiden yang hebat. Cuma, dia tidak pernah menyangka Amerika akan memilih presiden kulit hitam. Michelle memiliki perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, dia mendukung Barack dalam kampanyenya, tapi di sisi lain, dia tidak yakin Barack bisa menang. Namun, kenyataan berkata sebaliknya, Barack terpilih sebagai Presiden Amerika ke-44. 

Pernikahan Barack dan Michelle
Sumber foto: newsone.com

Pernikahan Barack dan Michelle

Michelle menyebut pernikahannya dengan Barack sebagai sebuah partnership yang setara, di mana pasangan mendukung satu sama lain untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Mereka melihat pernikahan sebagai penyatuan dua orang yang saling mencintai dan mampu memiliki mimpi dan ambisinya masing-masing. Ketika mereka bertunangan, Michelle merasa tidak puas dengan pekerjaannya sebagai corporate lawyer. Kemudian datang kesempatan untuk menjadi asisten walikota di Chicago, tentu saja Michelle sangat senang, tapi ada konsekuensinya yaitu gajinya yang jauh lebih kecil daripada pekerjaannya sebagai corporate lawyer. Awalnya Michelle pun bimbang, namun Barack yang mendukung Michelle untuk mengambil kesempatan itu. Barack tidak pernah meragukan intuisi dan kapabilitas Michelle. Ketika Barack untuk memutuskan menjadi kandidat presiden Amerika Serikat, giliran Michelle yang mendukung mimpi dan ambisi suaminya.

Di bukunya, Michelle juga bercerita tentang hal yang privat yaitu keguguran dan penggunaan bayi tabung untuk melahirkan kedua anaknya 20 tahun yang lalu. Ketika pertama kali keguguran, Michelle menceritakan perasaannya yang sangat hancur dan merasa gagal. Akhirnya, dia bisa bangkit dan memutuskan untuk menggunakan program bayi tabung dan memiliki dua anak perempuan, Malia dan Sasha. Keberanian Michelle dalam menceritakan pengalamannya yang privat dapat membantu para ibu lain yang mengalami situasi yang sama. Sekitar 2% dari kelahiran di Amerika Serikat menggunakan teknologi untuk membantu proses kehamilan, dan keguguran merupakan alasan utama dari kendala paling umum dalam kehamilan. 

Pengalaman menjadi African American First Lady
Sumber foto: obamawhitehouse.archives.gov/

Pengalaman menjadi African American First Lady

Awalnya, Michelle merasa dirinya berbeda, karena dia merupakan African-American First Lady pertama di Amerika Serikat. Namun, ternyata ada ritual yang sudah dilakukan oleh setiap first lady terdahulu ke first lady yang baru. Laura Bush, istri dari Presiden George W. Bush, mengajak Michelle untuk berkeliling Gedung Putih, dan mantan First Lady yang lain juga menawarkan dukungannya kepada Michelle. Laura memberitahukan kepada Michelle kalau 8 tahun sebelum pertemuan mereka, Hillary Clinton juga melakukan hal yang sama. Dan, hal yang sama juga dilakukan oleh mertua Laura yaitu Barbara Bush kepada Hillary. Ini merupakan momen yang menyentuh dan Michelle juga berniat untuk membagikan pengalamannya selama menjadi First Lady ke First Lady selanjutnya. Cuma sayangnya, tidak terjadi karena Melanie Trump tidak pernah memintanya. 

Michelle juga menceritakan masa terkelam selama suaminya menjadi presiden. Saat itu, di tahun 2012, seseorang menembak 20 murid dan 6 guru di Sekolah Dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut. Kejadian ini sangat berbekas sekali pada Barack. Ini merupakan momen selama 8 tahun menjadi presiden, Barack meminta waktu untuk bertemu dengan Michelle di siang hari. Michelle sadar kalau suaminya membutuhkannya dan dia harus ada disana untuk menemaninya.

Untuk versi animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.