Sejarah Cuci Tangan yang Dulu Ditolak Dokter!

Sejarah Cuci Tangan

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas informasi yang cukup menarik yaitu soal cuci tangan. Sejak pandemi COVID-19 atau virus corona, kita diingatkan kembali soal pentingnya cuci tangan. Hal yang terlihat sederhana seperti cuci tangan ternyata mampu menyelamatkan kita dan orang sekitar dari penyakit menular. Kita disarankan untuk mencuci tangan selama 20 detik dengan air dan sabun. Tapi, di jaman dulu, cuci tangan bukan merupakan hal yang umum di dunia kedokteran. Bahkan, seorang dokter kehilangan karirnya karena berusaha untuk mengedukasi rekan sejawatnya soal pentingnya cuci tangan.

Semua dimulai di Eropa pada tahun 1840-an, banyak ibu yang baru melahirkan mengalami penyakit yang dikenal sebagai demam puerperal atau infeksi postpartum. Jadi, ini merupakan infeksi bakteri yang menyerang saluran reproduksi perempuan setelah terjadinya kelahiran atau keguguran. Gejala umumnya adalah demam yang lebih tinggi dari 38°C, sakit perut, dan keluaran cairan vagina yang berbau tidak sedap. Apabila seorang ibu terkena penyakit ini, bahkan di rumah sakit paling bagus sekalipun di masa itu, ibu tersebut bisa jatuh sakit dan kemudian meninggal setelah melahirkan. Seorang dokter muda dari Hungaria bernama Ignaz Semmelweis berusaha meneliti fenomena ini dan mencari tahu apa penyebabnya.

Ignaz merupakan seorang dokter muda yang menjadi ketua residen obstetri di Rumah Sakit Umum Vienna di Austria. Disana, ada dua tipe ruang bersalin, yang satu dirawat oleh dokter pria dan satu lagi dirawat oleh bidan wanita. Ada fakta yang cukup menyedihkan. Ruang bersalin yang dirawat oleh para dokter memiliki tingkat kematian ibu melahirkan dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan ruang bersalin yang dirawat oleh bidan. Melihat hal tersebut, Ignaz mencoba mencari tahu penyebabnya. Awalnya, ada beberapa hipotesis. Mulai dari, apakah karena posisi tubuh wanita saat melahirkan? Atau, apakah ada hubungannya karena diperiksa oleh dokter pria, maka wanita jadi malu dan kemudian berujung pada demam? Hipotesis lain adalah apakah pendeta yang mendoakan pasien yang sedang sekarat menakutkan bagi wanita yang baru melahirkan? Ignaz berusaha menguji hipotesis tersebut satu per satu. Hingga akhirnya dia menemukan apa penyebabnya yaitu berkaitan dengan otopsi di ruang jenazah.

Kematian ibu setelah melahirkan
Sumber foto: slate.com

Jadi, ada rutinitas yang dilakukan oleh dokter pada masa itu. Di pagi hari, dokter akan mengobservasi dan membantu anak didiknya dengan otopsi sebagai bagian dari pelatihan kedokteran. Kemudian, di siang hari, dokter dan anak didiknya akan bekerja di ruang bersalin untuk mengecek pasien dan membantunya melahirkan. Sedangkan, bidan tidak melakukan otopsi dan hanya bekerja di ruang bersalin. Ignaz kemudian berhipotesa, ada partikel dari mayat yang ditularkan dari dokter ke ibu yang baru melahirkan. Di masa depan, kita akan tahu kalau partikel itu adalah bakteri, namun di masa itu kita belum tahu apa partikel itu. Pada masa itu, dokter tidak harus cuci tangan ketika berpindah ruang perawatan, seperti sekarang. Jadi, pasien wanita menjadi terinfeksi dari partikel itu dan kemudian mereka demam.

Ignaz lalu mengharuskan semua dokter untuk mencuci tangannya terlebih dahulu sehabis otopsi dan sebelum merawat ibu yang melahirkan. Tenaga kesehatan sangat sering mengalami kontak dengan mayat, maka sabun biasa tidak cukup untuk menghilangkan semua partikel tersebut. Hal ini terbukti dari, tangan dokter yang masih berbau sehabis otopsi. Ignaz lalu memperkenalkan cara mencuci tangan dengan menggunakan larutan klorin. Larutan itu terbukti ampuh dalam menghilangkan bau tak sedap sehabis otopsi dan semoga juga bisa menghilangkan partikelnya. Ketika para dokter melakukan cara tersebut, tingkat kematian dari ruang bersalin yang dirawat oleh dokter langsung jauh menurun.

Mencuci Tangan
Sumber foto: sciencealert.com

Atas keberhasilan tersebut, Ignaz lalu mempresentasikan hasil temuannya ke komunitas dokter. Sayangnya, temuannya dianggap spekulatif dan dipertanyakan dalam hal sains dan logika berpikirnya. Banyak sejarawan berpendapat, penolakan ini karena para dokter itu merasa seakan-akan mereka disalahkan atas kematian para ibu yang melahirkan. Penolakan yang begitu kuat, membuat Ignaz kemudian berhenti bekerja di Rumah Sakit Umum Vienna. Hingga akhir hayatnya, Ignaz tidak pernah mendapatkan penghargaan atas jasanya.

Pada tahun 1861, Louis Pasteur kemudian mempublikasikan risetnya tentang bakteri, yang mengubah bagaimana cara dokter merawat pasien. Dokter bedah kemudian menjadi rutin membersihkan tangannya sebelum merawat pasien lain. 100 tahun kemudian setelah teori Ignaz ditolak, Universitas Kedokteran di Budapest mengganti namanya menjadi Semmelweis University atas jasa Ignaz sebagai pahlawan dalam meningkatkan kesehatan melalui kebersihan. Itulah perjalanan panjang untuk edukasi tentang pentingnya mencuci tangan.

Untuk versi animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.