Melatih Kemampuan Berpikir Intuitif

Blink

Kemampuan berpikir intuitif memiliki kekuatannya sendiri. Apabila digunakan dengan tepat, ditambah dengan latihan dan pengalaman yang mumpuni, kemampuan ini dapat membantu kita membuat pilihan yang lebih baik.

Kali ini saya akan membahas buku Blink karya Malcolm Gladwell. Buku ini membahas soal pengambilan keputusan cepat berdasarkan insting. Apa yang membedakan antara orang yang mengikuti instingnya dan benar sedangkan ada orang yang mengikuti instingnya dan salah? Bayangkan apa yang terjadi pada tentara, pemadam kebakaran, dan dokter ketika situasi memaksa mereka untuk mengambil keputusan secara cepat. Spontan bukan berarti tak beraturan. Seseorang yang mampu mengambil keputusan dalam kondisi penuh tekanan dan serba cepat berasal dari latihan dan pengalaman. Kadang kita berpikir, untuk mengambil keputusan yang tepat, kita perlu semua informasi. Kenyataan malah sebaliknya. Informasi pendukung itu tidak berpengaruh banyak. Informasi dalam jumlah banyak, malah membuat kamu kesulitan dalam mengambil keputusan.

Saya merangkumnya menjadi tiga poin penting dari buku ini:

Berpikir secara intuitif
Sumber foto: chipscholz.com

Berpikir secara intuitif

Pada tahun 1983, Paul Getty Museum membeli sebuah patung yang diklaim merupakan patung tipe kouros dari zaman Yunani kuno, sebuah patung kuno yang langka dan dalam kondisi hampir sempurna. Keputusan untuk membeli patung ini berasal dari analisa panjang selama 14 bulan oleh para tim ahli untuk menentukan keaslian dari patung tersebut. Setelah dibeli dan kemudian dipajang di museum. Masalah baru pun muncul. Beberapa sejarawan seni merasa ada yang aneh dari patung tersebut saat pertama kali melihatnya dan mengambil kesimpulan bahwa patung tersebut palsu. Beberapa tahun kemudian, ternyata benar apa yang dikatakan oleh beberapa sejarawan seni tersebut, penjual patungnya ternyata penipu dan memalsukan dokumen keaslian patung tersebut. Inilah contoh keunggulan berpikir intuitif jika dibarengi dengan latihan dan pengalaman yang mumpuni.

Menariknya, kemampuan berpikir secara intuitif kadang sulit untuk dijelaskan. Gladwell memberikan contoh Vic Barden yang merupakan salah satu pelatih tenis terbaik di dunia. Sepanjang karirnya, Vic mampu memprediksi apakah seorang pemain akan melakukan double fault atau tidak. Double fault adalah ketika pemain gagal melakukan servis sebanyak dua kali berturut turut. Uniknya, Vic tidak bisa menjelaskan tentang kemampuannya itu. Gladwell mengatakan ini adalah hal yang wajar. Pada umumnya, orang yang berpikir intuitif sulit menjelaskan kemampuannya. 

thin slice theory
Sumber foto: seriouseats.com

Thin slice theory

Manusia mampu membuat keputusan yang kompleks dan rasional, tapi manusia juga mampu melakukan yang disebut sebagai thin slicing, jadi ini adalah kemampuan untuk mengambil sedikit informasi, kemudian mengambil kesimpulan dari situ, digabung dengan pengalaman dan intuisi. Gladwell menjelaskan bagian dari pikiran yang langsung menuju ke kesimpulan disebut sebagai bawah sadar adaptif. Jadi, ini adalah kondisi dimana pemikiran yang secara terus menerus untuk melakukan penyesuaian berdasarkan penilaian terhadap lingkungan eksternal di luar diri. Kemampuan bawah sadar adaptif ini sangat penting bagi keberlangsungan umat manusia. Pada jaman dulu, jika bukan karena kemampuan ini, umat manusia sudah punah sejak lama dan tidak bisa bertahan di alam liar. 

Psikolog John Gottman telah melatih dirinya untuk melihat informasi “thin slice” berdasarkan interaksi pasangan yang sudah menikah. Dengan mempelajari pola komunikasi dan raut wajah pasangan tersebut, dalam beberapa menit, Gottman dapat memprediksi hampir seluruhnya benar apakah pasangan tersebut akan tetap menikah selama 15 tahun kemudian atau tidak. Contoh lain adalah soal speed dating atau jatuh cinta pada pandangan pertama. Kedua hal ini membutuhkan sedikit informasi, kemudian kita bisa mengambil kesimpulan apakah kita mau mengenal orang ini lebih lanjut atau tidak. Pasti sulit untuk menjelaskan secara rasional, hal apa saja yang membuat kita tertarik. Bahkan ketika kita berusaha merasionalkannya, malah terdengar tidak menyakinkan. Misalnya, ditanya, kenapa sih kamu suka sama dia? Ya, dia orangnya baik, bla bla bla. Tentu saja semua orang yang kita suka pasti baik, masa sih kita mau dijahatin? Tentu saja tidak kan. 

hasil survei tidak selalu akurat
Sumber foto: iff-international.com

Hasil survei tidak selalu akurat

Banyak orang suka dengan reaksi yang spontan. Misalnya, perusahaan melakukan survey menanyakan apa yang konsumen pikirkan tentang produknya. Kita pikir cara paling akurat untuk tahu apa yang konsumen rasakan, adalah dengan bertanya langsung kepada mereka. Walaupun responden kita dengan senang hati ingin memberikan informasi tentang produk kita, biasanya apa yang mereka ucapkan tidak 100% akurat apalagi berhubungan dengan opini atau keputusan yang spontan. Ada contoh menarik dari Coca Cola dan Pepsi. Di awal tahun 1980an, Coca Cola berusaha tampil berbeda dengan Pepsi. Karena sebelumnya, Pepsi meluncurkan Pepsi Challenge, di mana Pepsi meminta orang biasa untuk memilih minuman mana yang terbaik, Pepsi atau Coca Cola, dengan mata tertutup? Ternyata, hampir kebanyakan orang memilih Pepsi. Melihat hal itu, Coca Cola kemudian meluncurkan New Coke. Produk baru ini awalnya ketika dilakukan sample test sebelum diluncurkan memberikan hasil yang sangat positif. Sayangnya, ketika diluncurkan, yang terjadi malah sebaliknya. Konsumen tidak suka dengan New Coke. Studi kasus ini menjelaskan bagaimana sulitnya mengetahui apa yang orang lain pikirkan, apalagi berkaitan dengan hal yang intuitif.

Gladwel beranggapan alasan kenapa New Coke gagal di pasaran, karena Coca Cola hanya fokus pada satu aspek, yaitu rasa yang lebih baik. Padahal, tidak ada orang yang membeli minuman soda dengan mata tertutup. Banyak aspek lain yang membuat Coca Cola populer seperti bentuk botolnya, logonya, hubungan emosional dengan konsumennya, hingga brand ambassadornya.

Untuk versi animasinya, bisa ditonton di:

One thought on “Melatih Kemampuan Berpikir Intuitif”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.