Belajar Seni Perang dari Jenderal Hebat di Cina

The Art Of War

Jenderal yang hebat sudah menang bahkan sebelum dia pergi berperang. Sedangkan, jenderal yang payah pergi perang baru mencari kemenangan. Perang adalah urusan serius sehingga siapapun yang paling matang dalam persiapan, memiliki kemungkinan menang yang jauh lebih besar.

Kali ini saya akan membahas buku The Art of War karya Sun-tzu. Buku ini membahas soal strategi perang yang harus dimiliki oleh setiap jenderal untuk menang dalam perang. Walaupun ini merupakan buku soal strategi militer, menariknya banyak pemikiran dasarnya yang menginspirasi pebisnis untuk mengalahkan pesaing dan memenangkan persaingan di era modern. Salah satu prinsip dari Sun-tzu yaitu di tengah kekacauan, disitu ada peluang. Di masa krisis ekonomi karena pandemi COVID-19 sekarang, masih banyak peluang untuk membuat bisnis atau produk baru ketika banyak orang merasa pasrah.

Saya merangkumnya menjadi tiga poin penting dari buku ini:

persiapan adalah segalanya
Sumber foto: jagranjosh.com

Persiapan adalah segalanya

Kemenangan tidak bisa diprediksi di awal, tapi orang yang paling siap akan menang. Inilah kenapa di awal bukunya, Sun Tzu menekankan pentingnya persiapan. Perang merupakan hal yang sangat serius bagi sebuah negara. Ini merupakan masalah hidup dan mati, bertahan atau punah, maka perlu dipertimbangkan dengan matang dan dipersiapkan dengan baik. Sama halnya dengan bisnis, apabila mau meluncurkan produk baru dan ingin all out promosinya, pasti harus dipersiapkan dengan baik. Karena tentu saja akan menghabiskan sumber daya perusahaan baik berupa uang dan manusia. Ini ibaratnya seperti perang. Bedanya adalah dulu, perang untuk berebut wilayah dan sumber daya. Sekarang, perusahaan berkompetisi untuk merebut pelanggan. 

Persiapan bicara juga soal waktu. Untuk menang dalam perang, seorang jenderal harus tahu kapan untuk menyerang atau tidak. Jika pasukanmu 10 kali lebih besar daripada musuhmu, kepung mereka. Jika lima kali lebih besar, serang. Jika dua kali lebih besar, pisahkan pasukan musuhmu. Jika jumlah pasukanmu kurang lebih sama dengan pasukan musuh, hadapi musuhmu. Jika pasukan musuh lebih banyak, sembunyilah. Jika musuh lebih kuat, cari jalan untuk kabur. Apabila kamu keras kepala untuk melawan pasukan yang lebih besar, maka akan berakibat kekalahanmu. Kalau kita coba masukkan ke konteks dunia bisnis, ini merupakan tahap riset pasar saat awal membangun bisnis. Kita lihat bagaimana kompetitor, apa yang mereka lakukan, apakah produk kita bisa bersaing di pasar atau tidak?

Hanya bertarung di perang yang kamu bisa menang
Sumber foto: soulveda.com

Hanya bertarung di perang yang kamu bisa menang

Jenderal yang hebat bukan jenderal yang cinta perang. Jenderal yang payah masuk dalam perang dan berpikir bagaimana caranya untuk menang. Jenderal yang hebat tahu bagaimana caranya bisa menang sebelum dia pergi berperang. Inilah sebabnya petarung yang hebat biasanya menghindari peperangan dan itulah alasan kenapa dia tidak terkalahkan. Saya jadi ingat ketika baca komik Kingdom, bagi yang baca komik Kingdom pasti kenal dengan tokoh Ousen, dia adalah jenderal hebat dan dikenal hanya bertarung di peperangan yang bisa dia menangkan. Ousen tidak pernah berperang di peperangan yang sudah pasti kalah. Inilah yang membuat Ousen sangat disegani setiap musuhnya. Ketika Ousen berperang, pasti Ousen menang. 

Memenangkan perang yang paling hebat adalah tanpa pertumpahan darah setitik pun. Kedua adalah menghancurkan strategi musuh, ketiga adalah menyerang posisi politik musuh, dan keempat adalah menyerang pasukan musuh. Dan yang paling buruk adalah menyerang kota musuh. Melakukan penyerangan ke kota musuh harus menjadi opsi terakhir karena pasti akan terjadi banyak pertumpahan darah dan kematian prajurit yang tidak perlu. Apabila dijelaskan ke konteks modern adalah, kita hanya masuk ke pasar yang blue ocean dimana pesaingnya sangat sedikit atau bahkan tidak ada. Disitulah kita mampu menghasilkan kemenangan, untuk lebih jelasnya bisa langsung tonton video saya soal blue ocean strategy.

Perang adalah soal tipu muslihat
Sumber foto: everything-voluntary.com

Perang adalah soal tipu muslihat

Mungkin ketika kita baca soal tipu muslihat, kok kesannya kayak bermain curang. Mungkin kita harus pahami konteks-nya dulu. Sun-tzu hidup dalam era peperangan, senjata bisa digunakan sebagai perlindungan, juga bisa sebagai tipu muslihat. Di dalam perang, Sun-tzu menekankan pentingnya menggunakan tipu muslihat. Ketika kita bisa menyerang, kita harus terlihat tidak bisa. Ketika menggunakan pasukan, kita harus terlihat tidak aktif. Ketika pasukan kita mendekat, kita harus membuat musuh percaya kita masih jauh. Ketika kita jauh, kita harus membuat musuh percaya kita sudah dekat. Sebagai contoh, jika seorang jenderal ingin menyerang dari sisi kiri, dia harus membuat musuh bingung dengan mengirim umpan di sisi kanan. Ini berlaku juga sebaliknya, bukan saja melakukan tipu muslihat, tapi juga mendeteksi adanya tipu muslihat yang dilakukan oleh musuh kepada kita. 

Mungkin kalau diibaratkan dalam dunia bisnis, seperti kejayaan teh botol selama puluhan tahun, kemudian tiba-tiba muncul produk baru seperti Teh Pucuk Harum pada tahun 2011. Dalam waktu 6 tahun, Teh Pucuk mampu melonjak tajam dan menjadi pemimpin pasar, bahkan mengalahkan juara pasar sebelumnya yaitu teh botol.

Untuk versi animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.