Memilih itu ada Seninya Lho!

The Art of Choosing

Kita hidup di era yang banyak pilihan dan memilih tidak lagi menjadi pengalaman yang menyenangkan. Tapi, kita bisa memilih dengan lebih baik melalui jumlah yang lebih sedikit, informasi pendukung yang tepat, dan kebebasan untuk menentukan pilihan.

Kali ini saya akan membahas buku The Art of Choosing karya Sheena Iyengar. Buku ini membahas soal bagaimana cara seseorang menentukan sebuah pilihan berdasarkan penelitian ilmiah. Setiap hari kita selalu membuat pilihan. Makan nasi atau mie, minum soda atau lemon tea, tabung atau belanja, dan sebagainya. Dari pilihan yang sifatnya sepele hingga pilihan yang penting bagi hidupmu, setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Coba bayangkan apabila kita tahu cara memilih? Pastinya, kita bisa membuat pilihan dengan lebih baik di masa depan. 

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Terlalu banyak pilihan
Sumber foto: iamagazine.com

Terlalu banyak pilihan tidak baik

Setiap manusia pada dasarnya ingin punya pilihan, bahkan saat mereka masih bayi. Sebagai contoh, seorang bayi jarinya diberikan tali pada sebuah mainan. Jadi, ketika dia tarik jarinya sendiri, maka mainan tersebut akan mengeluarkan suara. Uniknya, bayi tersebut sedih dan marah ketika talinya diambil, walaupun mainannya tetap mengeluarkan suara. Hal yang membuat bayi itu kesal adalah kebebasan untuk memilih kapan mainan itu bersuara atau tidak. Bisa punya pilihan artinya seseorang memiliki kontrol atas hidupnya dan hal itu berujung pada hidup yang lebih sehat dan bahagia. Tapi terlalu banyak pilihan bukan ide yang bagus. Jumlah pilihan yang ideal bagi setiap orang pun berbeda satu sama lain. Riset pada tahun 1950 menyatakan bahwa lima hingga sembilan pilihan merupakan jumlah yang ideal. Jumlah pilihan yang banyak membuat orang sulit untuk memilih karena orang tersebut bisa menyesal atau merasa pilihan yang diambil tidak cukup baik. 

Sheena merupakan psikolog di balik eksperimen selai. Jadi, di sebuah toko makanan mewah di Menlo Park, peneliti memasang meja yang berisi tester selai yang dibagi menjadi dua kategori. Di sampel pertama, selai yang disajikan hanya 6 jenis rasa yang berbeda. Kemudian, di sampel kedua, selai yang disajikan sebanyak 24 jenis rasa yang berbeda. Hasilnya cukup menarik. Pembeli banyak berhenti untuk coba selainya di meja dengan 24 jenis rasa yang berbeda. Namun, ketika mereka selesai coba, ternyata di meja dengan 6 rasa selai yang berbeda menghasilkan penjualan 10 kali lebih tinggi. Sheena menyimpulkan, terlalu banyak pilihan membuat seseorang sulit untuk fokus di satu pilihan saja. 

budaya mempengaruhi pilihan
Sumber foto: liquidbrandexports.com

Budaya mempengaruhi pilihan

Budaya yang berbeda membentuk cara pandang seseorang yang berbeda saat menentukan pilihan. Apakah seseorang hidup dalam budaya kolektif atau budaya individualis? Bagi orang yang hidup dalam budaya kolektif, dia akan lebih bahagia apabila pilihan dia ditentukan oleh kelompoknya, sebagai contoh, bagi orang yang lahir di budaya Timur, pasti penerimaan orang tua terhadap calon pasangan memiliki pengaruh yang besar, bahkan di beberapa kasus, bukan hal yang aneh apabila orang tua juga ikut mencarikan jodoh bagi anaknya. Konteksnya akan berbeda apabila seseorang hidup dalam budaya individualis, kebebasan untuk memilih atas hidupnya sendiri merupakan hal yang membahagiakan. 

Hal inilah yang membentuk pola asuh, budaya, dan kondisi seseorang mempengaruhi cara orang menentukan pilihan. Sheena melakukan penelitian permainan teka-teki pada dua kategori etnis anak yaitu Anglo-Amerika dan Asia-Amerika. Masing-masing anak akan dibagi jadi dua kategori: mereka bebas memilih permainannya sendiri atau diberitahu permainan mana yang disukai oleh ibunya. Anak Anglo-Amerika memiliki nilai yang lebih baik, ketika mereka bebas menentukan pilihannya sendiri. Sedangkan, anak Asia-Amerika memiliki nilai yang lebih baik, ketika mereka pikir mereka mengikuti pilihan ibunya. Bagi anak Anglo-Amerika, mengikuti instruksi ibunya terdengar seperti bossy. Sedangkan, hal yang berbeda dirasakan oleh anak Asia-Amerika dimana mereka pikir melakukan keinginan ibunya adalah yang terbaik. Tentunya, ini penemuan yang cukup menarik bahwa cara orang memilih ternyata dipengaruhi oleh pola asuh dan budaya dimana orang tersebut dibesarkan.

pilihan ditentukan orang lain
Sumber foto: dreamstime.com

Pilihan ditentukan oleh orang lain

Dalam membuat pilihan kita membutuhkan informasi yang akurat. Tanpa informasi yang akurat, kita akan sulit membuat sebuah pilihan. Sama halnya ketika kita diminta untuk membedakan produk yang sejenis satu sama lain. Ketika blind test, peminum wine menikmati wine murah dan wine mahal tanpa ada perbedaan yang berarti. Tapi, ketika mereka melihat harga wine tersebut, wine yang mahal terasa lebih enak. Hal yang sama berlaku dengan sistem rating saat kita membeli barang online. Sistem rating dan komentar positif membantu kita untuk memilih toko dan barang yang dijual. Informasi tersebut asalkan akurat, bisa membuat hidup kita lebih bahagia.

Hal yang sama juga terjadi saat membuat pilihan sulit dalam hidup. Sheena memberikan contoh soal anak yang sakit parah dan orang tuanya diminta untuk memilih apakah pengobatannya dilanjutkan dengan life support atau tidak. Jika saran dokternya muncul sebelum pilihan orang tuanya, orang tua tersebut lebih percaya diri dan lebih menerima atas pilihan yang diambil. Hal ini terjadi karena orang tua tersebut memiliki informasi yang cukup dan merasa pilihannya merupakan pilihan yang terbaik.

Untuk versi animasinya, bisa ditonton di:

One thought on “Memilih itu ada Seninya Lho!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.