Ini Cara Buat Dapetin Teman Baru

2

Pribadi yang ramah dan murah senyum merupakan awal untuk jadi orang yang disukai. Barulah di saat itu, kita bisa mulai mempengaruhi orang lain, tanpa melukai harga diri orang lain.

Kali ini saya akan membahas buku How to Win Friends and Influence People karya Dale Carnegie. Buku ini membahas bagaimana cara kamu menjadi orang yang disukai dan mampu mengelola hubungan antar manusia dengan baik. Setelah itu, kamu baru bisa mempengaruhi mereka tanpa menggurui. Untuk mengubah orang lain, kita perlu mengubah cara pandang dan perilaku kita dulu. Ini merupakan buku klasik soal pengembangan diri dan prinsip yang diajarkan di buku ini masih relevan sampai sekarang. Ketika kita berbicara dengan orang lain, kita tidak bicara menggunakan dengan logika saja. Tapi, kita juga harus menyadari bahwa lawan bicara kita merupakan makhluk yang penuh perasaan, dipenuhi dengan prasangka, dan dimotivasi oleh kesombongan.

Saya merangkumnya menjadi tiga poin menarik dari buku ini:

Sumber foto: istockphoto.com

Jadi orang yang ramah

Lebih dari 50% komunikasi tatap muka sangat dipengaruhi dari bahasa tubuh. Oleh karena itu, langkah awal yang paling mudah adalah dengan tersenyum. Senyum yang tulus akan membuat lawan bicara kita lebih cair dan tidak merasa canggung dengan kita. Jangan lupa juga untuk ingat nama lawan bicara kita. Ini adalah tata krama paling dasar. Apabila kita bertemu lawan bicara, kita harus ingat namanya. Karena itu adalah hal paling penting. Kan kesel juga ya, lagi ngobrol, terus tiba-tiba, kita tanya lagi, eh nama kamu siapa ya? Itu turned off banget, sama aja kamu gak menghargai lawan bicara kamu. 

Tips lain adalah jadilah pendengar yang baik. Pada dasarnya setiap orang suka berbicara tentang dirinya sendiri. Ketika kita bisa membuat lawan bicara kita banyak berbicara tentang dirinya sendiri, itu adalah sinyal positif apalagi kalau kita mendengar setiap perkataannya dengan serius dan penuh perhatian, itu tentu saja menjadi hal yang sangat positif. Dale mencontohkan kisah Theodore Roosevelt, Presiden Amerika ke-26. Roosevelt memiliki pengetahuan yang luas sehingga mampu berdiskusi dengan topik yang beragam. Ketika Roosevelt ingin bertemu seseorang, biasanya Roosevelt membaca profil lawan bicaranya dulu dan mencari tahu apa minatnya. Kebiasaan ini yang membuat Roosevelt sangat cair ketika bertemu orang lain, hingga terasa seperti kawan lama. 

criticism
Sumber foto: http://www.insidehighered.com

Jangan mengkritik 

Cara memenangkan sebuah argumen, ya hindari argumen tersebut. Walaupun kamu gak sependapat, tetap hargai pandangan orang lain, jangan pernah bilang,”Kamu salah!” Ketika kita ingin membuktikan pandangan orang lain salah dengan memberikan argumen dan kritik. Selogis apapun argumen kita, pasti lawan bicara kita bersikap defensif dan berusaha mencari pembenaran. Tentu saja, percakapan ini tidak menguntungkan pihak manapun. Lihat saja acara debat, dua pihak yang berseberangan, saling berusaha membuktikan pandangannya yang paling benar. Apakah pihak yang menang berhasil mempengaruhi pihak yang kalah? Atau malah membuat jurang perpecahan makin dalam?

Daripada kritik, Dale menyarankan kita memulai diskusi pada hal-hal dasar yang membuat masing-masing pihak setuju. Karena setiap kata setuju dari lawan bicara kita, benteng pertahanan lawan diskusi kita menurun. Sehingga, alur percakapan lebih mudah mencapai kesepakatan ketika mulai masuk ke pertanyaan lain yang lebih berat. Untuk mencapai kesepakatan, kita juga harus membuat lawan bicara kita merasa memiliki, tanya solusi apa yang mereka tawarkan? Sehingga, ketika kesepakatan terjadi, masing-masing pihak merasa ikut bertanggung jawab, karena berkontribusi pada hasil kesepakatan yang telah dicapai.

Mempengaruhi orang lain tanpa tersinggung
Sumber foto: equita.ie

Mempengaruhi orang lain tanpa tersinggung

Ini beda leader dan boss. Leader mampu mempengaruhi orang lain dengan cara yang positif. Selalu mulai dengan pujian dan apresiasi atas hal baik yang sudah dikerjakan. Dale mengibaratkan, pembicaraan yang dimulai dengan apresiasi itu seperti dokter gigi yang memulai operasi dengan anestesi. Si pasien tetap dioperasi, tapi anestesi itu membunuh rasa sakitnya. Teknik yang mungkin bisa dicoba adalah metode sandwich. Ini adalah teknik memberikan masukan dengan dimulai dari apresiasi terlebih dahulu, kemudian baru dilanjutkan dengan saran yang ingin kita sampaikan, dan ditutup dengan komentar positif. 

Hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga muka lawan bicara kita. Karena kalau dia kehilangan muka, maka akan sulit dipengaruhi untuk berubah. Ketika kita ingin bicara tentang kesalahan orang lain, mulailah dengan bercerita tentang kesalahan sendiri dulu. Dale bercerita saat dia merekrut keponakan perempuan bernama Josephine sebagai sekretarisnya. Ketika bekerja, Josephine banyak melakukan kesalahan. Tentu saja, Dale pun geram, tapi dia mampu menahan diri untuk tidak memberikan kritik. Saat Dale berbicara dengan Josephine, Dale bilang kalau Josephine banyak melakukan kesalahan, tapi untungnya tidak separah apa yang Dale lakukan dulu ketika dia masih muda. Dale kemudian juga menjelaskan, dengan pengalaman, Josephine pasti bisa bekerja dengan lebih baik. 

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.