Beda Asuhan Ayah Kaya dan Ayah Miskin

Untuk menjadi kaya, perlu mindset yang benar soal bagaimana cara untuk mengelola keuangan. Ketika kita paham cara membuat uang bekerja untuk kita, itu adalah awal dari perjalanan kita menuju kebebasan finansial.

Kali ini saya akan membahas buku Rich Dad Poor Dad karya Robert T. Kiyosaki. Buku ini membahas tentang pengalaman Robert kecil bersama dua ayahnya, Ayah Kaya dan Ayah Miskin. Kedua ayah ini memiliki pandangan yang sangat berbeda soal uang dan cara mengelola uang. Ayah Miskin yang merupakan ayahnya sendiri merupakan seorang pekerja, sedangkan Ayah Kaya yang merupakan ayah dari teman baiknya Robert merupakan pengusaha. Kedua ayah ini memberikan Robert perspektif berbeda soal cara uang bekerja dan investasi. Ini merupakan buku soal keuangan yang pertama kali saya baca saat jaman kuliah dulu dan cukup membuat saya berpikir kembali soal uang dan bagaimana caranya membuat uang bekerja untuk kita.

Saya merangkum tiga poin penting dari buku ini:

Sumber foto: Pixabay.com

Orang kaya tidak bekerja untuk uang

Pertama kali saya baca kalimat ini saat kuliah dulu, saya bingung, kenapa orang bisa kaya ketika dia tidak bekerja untuk uang? Ternyata, ini merupakan perbedaan mendasar antara orang kaya, orang miskin, dan kelas menengah. Bukan berarti, orang kaya tidak bekerja keras, mereka bekerja keras tapi mereka fokus belajar dan membuat uang bekerja untuk mereka. Robert mengatakan kalau pekerjaan sebagai karyawan adalah solusi jangka pendek untuk masalah jangka panjang yaitu kebebasan finansial.

Hubungan manusia dengan uang pada dasarnya dipengaruhi oleh dua emosi: ketakutan dan ketamakan. Fear dan greed. Ini yang membuat kita selalu berada dalam perlombaan tikus, “pergi ke sekolah, lulus kuliah, kerja yang baik hingga pensiun.” Itu adalah jalur lama dan dijalankan oleh hampir semua orang. Masalahnya, sekolah tidak mengajarkan bagaimana cara uang bekerja, tapi membuat seseorang menjadi karyawan yang baik. Hal ini menghasilkan banyak orang bergaji besar terperangkap dalam siklus bayar tagihan yang menggunung setiap bulannya.

Sumber foto: liz-griffin.com

Literasi keuangan untuk keluar dari perlombaan tikus

Orang kaya menggunakan uangnya untuk membeli aset. Orang miskin dan kelas menengah menghabiskan uangnya untuk membeli liabilitas, bukan aset. Menariknya, orang kaya dan orang miskin bukan ditentukan dari seberapa banyak pendapatan yang kamu hasilkan setiap bulannya, tapi tentang bagaimana manajemen keuangan kamu, apakah untuk membangun aset atau liabilitas?

Contoh sederhana adalah ketika kita punya cukup uang untuk beli mobil. Si kaya berpikir, apakah saya perlu sekali mobil ini? Apakah mobil ini bisa menghasilkan uang untuk saya? Atau, apakah lebih baik uang ini saya investasikan lagi ke saham atau obligasi? Sedangkan, si Miskin ya beli mobil saja, yang dipikir sebagai harta. Padahal, mobil itu bukan aset, tapi merupakan liabilitas apabila mobil itu tidak membantu kamu untuk menghasilkan uang. Orang kaya fokus membangun aset yang bisa menghasilkan uang sehingga itu sebabnya orang kaya tidak bekerja untuk uang.

Sumber foto: ritewaysolutionsgroup.com

Kelola resiko, bukan hindari resiko

Orang kaya tidak menghindari resiko tapi mengelola resiko. Hal sederhananya seperti ini, kamu punya uang 100 juta yang bisa kamu gunakan untuk mencicil mobil baru atau kamu gunakan untuk membeli saham? Jika kamu mencicil mobil baru, tentu saja uang kamu tidak berkurang secara kasat mata. Tapi, bila kamu membeli saham, mungkin saja kamu bisa mengalami kerugian. Nah, poin penting disini adalah untuk mengelola resiko dan bermain aman tidak selalu baik. Mungkin opsi berikutnya untuk memulai investasi dari resiko yang paling kecil misalnya lewat obligasi atau reksadana pasar uang. Kedua produk investasi ini memiliki resiko yang relatif lebih rendah, tapi tentu saja dengan imbal hasil yang lebih kecil.

Untuk bisa mewujudkan semua ini, kamu perlu menerapkan pay yourself first. Setiap kali kamu mendapat gaji bulanan, pakai uang tersebut untuk kamu tabung dan investasikan. Tentunya, sebelum mulai investasi, ada hal yang paling penting, pahami dulu resiko dan keuntungan masing-masing produk investasi. Ini yang jarang orang lakukan, biasanya orang buru-buru memasukkan uangnya ke dalam produk investasi tanpa memahami dengan cermat apa resikonya. Sehingga ketika mengalami kerugian dalam produk investasi menjadi kapok dan tidak mau investasi lagi. Padahal, langkah awalnya sudah salah, tidak belajar dulu dan buru-buru investasi.

Untuk versi animasinya bisa dilihat di:

One thought on “Beda Asuhan Ayah Kaya dan Ayah Miskin”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.