Tips Kerjasama dengan Orang yang Tidak Kita Sukai

Kolaborasi tidak selalu harmonis dan mungkin malah penuh konflik. Ini merupakan hal yang wajar, apabila berkolaborasi dengan orang yang tidak kita sukai. Bersedia mengorbankan hal kecil untuk tujuan yang lebih besar adalah pola pikir untuk berkolaborasi dalam masalah yang kompleks.

Kali ini saya akan membahas buku Collaborating with the Enemy karya Adam Kahane. Di buku ini, Adam membawa kita untuk melihat kolaborasi dengan sudut pandang yang berbeda. Untuk menyelesaikan masalah yang kompleks, kita tidak bisa hanya berkolaborasi dengan orang yang sepaham. Tapi, ada satu masa, di mana kita harus bekerja sama dengan orang yang bertentangan dengan kita, yang tidak sepaham, demi tujuan yang lebih besar. 

Saya merangkumnya menjadi tiga poin penting:

sumber foto: discovermagazine.com

Kolaborasi tidak harus sepaham

Kolaborasi sudah menjadi sebuah kata kunci untuk hidup bersama di dunia. Hal ini termasuk, berkolaborasi dengan orang yang tidak kita sukai. Tentu saja, kita banyak menemukan ini di dunia kerja, di mana kita harus bekerja sama dengan orang yang tidak kita sukai demi kepentingan yang lebih besar yaitu kebaikan Perusahaan. Tapi, sebelum bicara lebih jauh soal kolaborasi, ada hal penting yang kita harus pahami terlebih dahulu. Kita tidak bisa bertanya bagaimana untuk berkolaborasi sampai kita sadar kapan kita harus berkolaborasi. Intinya adalah, kalau kita tidak tahu apa tujuan besar yang kita ingin capai, pasti sulit untuk berkolaborasi, apalagi dengan orang yang tidak kita sukai. Tapi, apabila masing-masing pihak sudah tahu tujuan yang lebih besar dan bersedia untuk mengorbankan hal kecil demi hal yang lebih besar, itulah saatnya kamu siap untuk berkolaborasi.

Saya mencontohkan bagaimana kolaborasi dalam kondisi yang kompleks, dimana kamu harus berkolaborasi. DPR dan Pemerintah. DPR terdiri dari berbagai partai politik yang punya agenda dan kepentingannya masing-masing. Sedangkan, Pemerintah juga beragam, terdiri dari akademisi, militer, pengusaha, profesional, dan anggota partai. Tentu saja, masing-masing punya agenda dan kepentingannya masing-masing. Tapi, agar Indonesia bisa makin maju dan makin sejahtera, masing-masing orang harus sadar tujuan yang lebih besar dan bersedia mengorbankan kepentingan yang lebih kecil.

Sumber foto: dispatchlive.co.za

Tahu kapan harus diskusi, kapan harus melawan

Nelson Mandela adalah contoh yang cukup ideal. Banyak orang berpendapat bahwa Mandela merupakan komunikator yang ulung dan pandai berdialog. Karir politiknya juga cukup unik. Sebelum dipenjara, Mandela mengorganisir demonstrasi ilegal menentang apartheid. Hingga akhirnya, Mandela menjadi presiden Afrika Selatan. Kesuksesan karir politiknya didukung dari kemampuan Mandela dalam menyeimbangkan antara dialog dan perlawanan. Mandela sadar bahwa melawan terlalu keras, berisiko menghancurkan apa yang berusaha dibangun. Sebagai contoh, ketika berdiskusi dengan pemerintahan minoritas kulit putih dalam transisi kepemimpinan di Afrika Selatan, Mandela selalu mengingatkan kepada tim-nya untuk tidak terlalu agresif, karena bisa merusak segalanya. Tapi ini bukan berarti Mandela menjadi penurut. Mandela tetap selalu mengupayakan dialog tapi tidak akan berkompromi pada prinsip yang dianut seperti demokrasi, kesetaraan, dan kebebasan.

Melawan dan dialog itu ibaratnya berjalan. Kita tidak bisa berjalan dengan satu kaki saja, misal hanya melawan atau dialog saja. Tapi, kombinasi keduanya bisa membuat kita berjalan jauh. Sama seperti, perjalanan panjang Mandela menuju kebebasan dan membuat perubahan di Afrika Selatan.

Sumber foto: uihere.com

 Trial Error Kolaborasi dengan Orang yang Tidak Kita Sukai

Dalam kolaborasi dengan pesaing atau dengan orang yang tidak kita sukai, bukan sesuatu yang dapat kita kontrol hasilnya, tapi perlu trial and error untuk maju selangkah demi selangkah. Jangan berharap adanya keharmonisan, kejelasan, dan kepatuhan. Melainkan, kita harus mengantisipasi munculnya konflik dan trial error terus menerus untuk mencapai kesepakatan. Dalam masalah yang kompleks, kita tidak menyesuaikan dengan lawan kita. Tapi, kita membuat kesepakatan dengan mereka. 

Sama halnya, apabila kita mengajukan sebuah ide. Kita harus berani bereksperimen dan menerima banyak perspektif. Kemudian, maju selangkah demi selangkah sambil melihat bagaimana reaksi masing-masing anggota. Ini tentu saja, nantinya bakal penuh konflik dan merupakan suatu hal yang wajar terjadi.

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.