Ini Cara Bicara dengan Orang Asing

Cara yang benar dalam berbicara dengan orang asing adalah dengan penuh kehati-hatian dan kerendahan hati. Kita percaya dengan seseorang bukan karena kita tidak punya keraguan. Melainkan karena kita tidak punya keraguan yang cukup tentang orang tersebut.

Kali ini saya akan membahas buku Talking to Strangers karya Malcolm Gladwell. Buku ini membahas tentang interaksi kita yang kurang tepat dengan orang asing hingga berakibat fatal. Hal ini berasal dari ketidaktahuan kita bagaimana berkomunikasi dengan orang asing, hingga terjadinya konflik dan kesalahpahaman yang berdampak besar bagi diri kita dan dunia. Mungkin dari semua buku Gladwell, buku ini terkesan agak dark karena di buku ini dia mengangkat soal kekerasan polisi, kasus pemerkosaan di kampus, dan kisah gelap lainnya.

Sumber foto: Esquire.com

Gladwell mengawali bukunya dengan kisah Sandra Bland, seorang warga etnis Afrika-Amerika yang diberhentikan oleh polisi kulit putih di Texas tahun 2015. Awalnya, Sandra diberhentikan karena pelanggaran minor yaitu tidak memberikan tanda saat pindah jalur. Karena Sandra kesal dan bersikap tidak kooperatif, polisi itu langsung menangkap Sandra dan menjebloskannya ke penjara. Tiga hari kemudian, Sandra ditemukan tidak bernyawa di bilik penjaranya dalam kondisi gantung diri. Kisahnya yang tragis kemudian menyulut gerakan Black Lives Matter karena dianggap merupakan tindakan diskriminasi. Dari kisah tragis tersebut, Gladwell menemukan fakta bahwa ada penanganan kasus kriminologi yang kurang tepat. Polisi Amerika terlatih untuk menggunakan pelanggaran ringan untuk mengungkap kasus kejahatan yang besar. Tentu saja, hal ini juga diperparah dengan adanya bias rasial.

Gladwell juga membahas tentang kecenderungan kita untuk mempercayai orang lain atau dikenal dengan truth-default theory. Ini merupakan teori yang dtemukan oleh Timothy Levine yang menyatakan bahwa pada dasarnya ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, kita cenderung mempercayai apa yang orang tersebut bicarakan, bahkan pemikiran bahwa kita seharusnya tidak mempercayainya tidak pernah muncul. Ini merupakan mekanisme standar manusia dan ada dua alasan utama. Pertama, percaya orang lain jujur adalah hal yang paling penting dalam komunikasi. Apabila kita selalu tidak percaya, sangat sulit komunikasi bisa berjalan. Alasan kedua adalah kebanyakan orang biasanya selalu jujur hampir di setiap saat. Inilah yang membuat kita rentan dibohongi. 

Sumber foto: Rollingstone.com

Dalam bukunya, Gladwell menceritakan kisah Larry Nassar, seorang dokter dari timnas senam Amerika. Larry merupakan tersangka dari kasus pelecehan seksual 250 gadis dan satu anak laki-laki selama puluhan tahun dari tahun 1992 hingga tahun 2015. Larry bisa tidak terdeteksi selama puluhan tahun karena persona dan pekerjaannya. Di bukunya, Gladwell menyatakan bahwa orang tua dari anak yang dilecehkan, tidak mempercayai bahwa Larry merupakan predator seksual. Secara tidak sengaja, Larry dilindungi oleh orang tua murid karena reputasinya. 

Hal lain yang membuat mispersepsi kita dengan orang asing adalah ketika kita merasa interaksi personal adalah segalanya. Gladwell menceritakan kisah Perdana Menteri Inggris terdahulu Neville Chamberlain yang mempercayai bahwa Adolf Hitler adalah seorang pencinta damai. Chamberlain sudah sempat bertemu tiga kali dengan Hitler, Chamberlain percaya Hitler tidak punya ambisi untuk menguasai dunia, dan hanya berusaha untuk merebut teritori Sudetenland. Bukan hanya Chamberlain, beberapa pemimpin dunia lain setelah bertemu dengan Hitler percaya hal yang sama. Gladwell menyatakan, hal ini terjadi karena kita percaya bahwa interaksi personal merupakan hal yang unik dan sangat berharga. Sama halnya seperti perusahaan tidak akan memperkerjakan karyawan sebelum melakukan interview. Kenyataannya, politisi yang melihat dengan jelas ambisi Hitler untuk menguasai dunia adalah orang yang tidak pernah bertemu dengannya langsung, seperti Perdana Menteri Inggris Winston Churchill. 

Sumber foto: CNBC.com

Selain interaksi personal, kita juga menjadi bias ketika kita melihat penampilan seseorang. Gladwell menceritakan kisah Bernie Madoff. Bernie tampil dengan gaya yang meyakinkan dan merupakan ketua non-eksekutif pasar saham NASDAQ, banyak orang pasti mengira Bernie merupakan  investment banker jenius. Tidak ada orang yang pernah menyangka bahwa Bernie merupakan terpidana kasus penipuan keuangan paling besar dalam sejarah Amerika dengan skema ponzi-nya. Bahkan ketika seorang analis investasi Harry Markopolos menyatakan kalau Bernie adalah penipu, tidak ada yang percaya. Banyak orang menganggap tuduhan Harry tidak berdasar dan hanya berupa persaingan bisnis. Hingga, Harry mengajukan tuduhan sebanyak tiga kali, tetap saja tidak dipercaya. Hingga akhirnya, Bernie mengaku pada anaknya bahwa investasi yang selama ini dijalankan adalah skema ponzi dan dipenjara hingga tutup usia.

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.