Manusia dan Imajinasi yang Membuatnya Bertahan

Kemampuan imajinasi membuat homo sapiens mampu berevolusi dan menjadi makhluk superior di dunia. Imajinasi ini menghasilkan mitos kolektif yang membuat homo sapiens mampu bekerjasama dalam kelompok yang besar, bahkan dengan orang asing sekalipun.

Kali ini saya akan membahas buku Sapiens: A Brief History of Humankind karya Yuval Noah Harari. Buku ini ditulis oleh seorang sejarawan terkenal yang berusaha meningkatkan pemahaman kita tentang apa artinya menjadi seorang manusia. Di buku ini, Yuval menjelaskan bahwa kita bukan satu-satunya spesies manusia di bumi. Kita merupakan kategori manusia bijaksana atau homo sapiens, spesies yang berhasil berevolusi dan akhirnya menjadi makhluk paling superior di bumi. Hal lain yang menarik yaitu bagaimana homo sapiens merupakan pembuat mitos, yang menggunakan imajinasi dan bahasa untuk menciptakan dunia baru dan kemungkinan tanpa batas.

Di buku ini, Yuval membagi tiga fase revolusi manusia: revolusi kognitif, revolusi agrikultur, dan revolusi saintifik. Ada beberapa hal menarik yang membuat Homo Sapiens berhasil berevolusi hingga seperti sekarang:

Cro-Magnon artists painting woolly mammoths by Charles R. Knight.

Homo Sapiens Pembuat Mitos

Kemampuan inilah yang membedakan Homo Sapiens dengan spesies lain. Jika di era 70 ribu tahun lalu, banyak spesies kesulitan untuk bekerjasama dengan kelompok besar, Homo Sapiens mampu menciptakan mitos kolektif sehingga mereka bisa membuat kelompok lebih dari 150 orang. Berkat mitos kolektif inilah, Homo Sapiens mampu mengalahkan rivalnya yaitu Neanderthals, melawan hewan buas, dan hingga akhirnya mampu berevolusi ke era agrikultur. Mitos kolektif inilah yang menurut Yuval berpengaruh besar dalam hidup Homo Sapiens. 

Di era modern, Yuval mencontohkan bagaimana mitos ini masih ada, seperti brand mobil Peugeot. Apa yang menjadi dasar eksistensi dari Peugeot? Mobil Peugeot bukanlah perusahaan Peugeot, apabila mobil Peugeot rusak, Peugeot bisa membuat mobil baru lagi. Sama halnya, dengan karyawan, mesin, pabrik, kantornya Peugeot, itu juga bukan Peugeot, karena apabila semua itu hilang, Peugeot tetap masih ada. Peugeot masuk dalam kriteria fiksi legal yang disebut Perusahaan.

Mungkin hal ini sulit dipahami, intinya adalah homo sapiens mampu mempercayai sesuatu yang tidak terlihat. 

Sumber foto: Steemit.com

Uang adalah Penemuan yang Menarik

Awalnya, Homo Sapiens hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Perlahan-lahan, peradaban kecil ini makin lama makin besar dan tentu saja semakin kompleks karena ada tiga faktor pemersatu ini: uang, kerajaan, dan agama. 

Uang menurut saya penemuan yang paling menarik. Catatan tertua soal uang adalah uang Sumeria yang berupa gandum, sekitar 3.000 tahun sebelum masehi. Jadi, surplus gandum yang dimiliki seseorang, bisa digunakan untuk membeli minyak, kambing, atau apapun selain gandum. Walapun begitu, sulit untuk membangun kepercayaan dengan menggunakan sistem barter, mengingat sangat repot untuk dibawa dan dikirim. Barulah, ketika penemuan shekel perak di era Mesopotamia inilah yang menjadi terobosan besar soal uang, karena mudah digunakan. Menariknya, tidak seperti gandum, shekel perak tidak bisa dikonsumsi, tapi karena cukup banyak orang yang percaya akan nilai dari shekel perak, itulah yang kemudian membuat semua orang menggunakan shekel perak sebagai alat tukar. 

Penemuan uang adalah sistem terpercaya yang bisa menjembatani orang tanpa memandang apapun latar belakangnya, bahkan orang yang tidak kenal sekalipun bisa bekerjasama dengan baik dan mempercayai nilai dari sebuah uang.

Sumber foto: Peace World #Party / Facebook.com

Kedamaian dunia yang semakin awet

Di masa lalu, perang mungkin hal yang umum. Semakin maju sebuah peradaban, perang secara fisik pelan-pelan mulai ditinggalkan. Yuval menjelaskan ada dua hal yang mendasari hal tersebut. Pertama, harga sebuah perang semakin mahal. Dengan adanya senjata nuklir, hampir tidak mungkin membuat suatu negara melancarkan dominasi global dengan cara perang. Senjata nuklir telah membuat perang antar negara adidaya menjadi bunuh diri secara kolektif. Kedua, harga perang semakin mahal, keuntungan hasil perang semakin kecil. Dulu, pemenang perang dapat mendapatkan rampasan perang berupa tanah, budak, emas, dan hewan ternak. Sekarang, kekayaan sebuah negara berasal dari sumber daya manusianya, teknologi, dan struktur sosial ekonomi yang kompleks seperti bank.

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.