Ini yang Tidak Kamu Pelajari di Harvard Business School

Belajar di sekolah bisnis populer tentu saja merupakan hal yang bagus. Tapi, itu saja tidak cukup. Untuk menjadi sukses, kita perlu belajar hal-hal di luar kurikulum sekolah. Kita harus bisa merasakan sendiri dan berkembang bersama bisnis kita sendiri.

Kali ini saya akan membahas buku What They Don’t Teach You at Harvard Business School karya Mark McCormack. Di buku ini, McCormack banyak menjelaskan tentang street smart, tips dan trik cara menjalankan bisnis, disertai beberapa contoh yang menarik. Intinya bukan menjelek-jelekkan sekolah bisnis di Harvard, tapi McCormack hanya ingin bilang kalau ada hal-hal tertentu yang tidak bisa diajarkan di sekolah dan harus dialami sendiri.

Ada beberapa poin penting menurut saya dari buku ini:

Sumber foto: Unsplash.com / Kristina Flour

Sedikit bicara, banyak mendengar

Bisnis adalah tentang manusia. Tidak peduli apa yang kamu jual, yang paling penting adalah kamu tahu persis siapa orang yang akan beli. Jika kamu tahu bagaimana perilaku orang tersebut, apa yang dia sukai, kamu pasti akan bisa menjual. 

Jadi gimana caranya? Mulailah mendengar. Mendengar secara mendalam. Berusaha semaksimal mungkin untuk mengerti target market kamu.

Ada contoh yang keren dari McCormack yaitu bagaimana Pepsi pada masa itu bisa menjadi minuman soda ekslusif dari Burger King. Tentu saja, Coca Cola selalu menjadi yang nomor satu dan merupakan partner dari Burger King. Sudah berulang kali, Pepsi mencoba untuk membujuk Burger King untuk pindah, tetap saja Burger King tidak mau. Jadi apa yang dilakukan? Pepsi pun mengambil jalan lain. Suatu ketika, manajemen Pepsi bilang ke Burger King,“Kita kan sama-sama pemain nomor dua di industri kita, kamu nomor dua dari McDonalds dan kami nomor dua dari Coca Cola. Bagaimana kalau kita bekerjasama?”

Hasilnya? Burger King pun pada masa itu pindah dari Coca Cola ke Pepsi atas dasar solidaritas sebagai pemain nomor dua untuk bersama-sama melawan pemain nomor satu. Walaupun, sekarang Burger King sudah pindah lagi ke Coca Cola ya.

Sumber foto: Shutterstock.com / Luis Molinero

Kesan pertama yang nempel

Semua berawal dari kesan pertama. Suka atau tidak, kita dinilai dari kesan pertama. Pada tahun 1960, McCormack yang pada saat itu merupakan agen dari pemain golf profesional berusaha untuk meyakinkan Arnold Palmer untuk jadi agennya. Tentu saja, Palmer tidak langsung mengiyakan proposal dari McCormack dan mengajaknya untuk makan malam bersama. Setelah makan malam, McCormack melihat tumpukan kertas di meja kerja Palmer dan membersihkannya hingga larut malam. Ketika Palmer mengetahui apa yang McCormack lakukan, keesokan harinya Palmer setuju McCormack untuk jadi agennya. Tentu saja, ini kabar yang bahagia. McCormack langsung mengeluarkan kontrak kerja, tapi Palmer bilang gak usah. Palmer hanya jabat tangan McCormack dan bilang,”Saya hanya pegang kata-katamu dan kita akan mulai darisana.” Itulah awal mula McCormack menjadi muli miliarder sebagai founder dari International Management Group (IMG) yang menjadi agen dari para atlet profesional.

Sumber foto: buzinga.com.au

Seni Mempengaruhi Orang Lain

Kadang orang berpikir, kalau bukan kerja sebagai sales atau marketing, tidak perlu mempengaruhi orang lain. Padahal, kamu usaha atau kerja sebagai apapun, seni mempengaruhi sangatlah penting. Tidak ada orang yang bisa sukses karirnya, apabila tidak memiliki seni persuasif yang bagus. Mungkin kamu tidak menjual produk, tapi kamu pasti menjual ide atau proposal ke bos kamu, rekan kerja, calon pembeli, atau bahkan ke pasangan atau orang tua kamu.

Poin penting selain ide atau proposal kamu adalah waktu. Ini merupakan elemen yang paling penting selain konten yang menarik. Jangan coba menjual ide, proposal, atau produk ke orang yang sedang sibuk. Mereka tidak akan dengerin kamu. Cari momen saat mereka sedang bahagia atau santai. Pasti kamu akan lebih mudah untuk menjualnya. 

Sumber foto: uptopcorp.com

Fokus di kualitas

Suka atau tidak, yang paling penting adalah kualitas. Baik itu kualitas klien, karyawan, produk, semua harus benar di awal. Sebagai contoh, Palmer merupakan klien pertama dari IMG. Saat itu, Palmer hanya juara satu kali saja. Tapi, McCormack melihat kualitas yang hebat di diri Palmer. McCormack menilai Palmer dari nilai masa depannya. 

Untuk mendapatkan kualitas yang baik, butuh kesabaran. Pada tahun-tahun awal IMG berdiri, McCormack hanya fokus pada pemain golf saja. Ini bukan tanpa alasan, McCormack perlu waktu untuk mematangkan bisnisnya sebelum melebarkannya ke unit usaha yang lain.

Sekolah bisnis merupakan hal yang bagus sebagai fondasi awal untuk berpikir, tapi bukan malah jadi arogan. Pelajaran terbaik dari sekolah bisnis adalah sadar bahwa masih ada hal-hal yang harus dipelajari di luar sekolah.

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.