Rahasia Viral di Era Media Sosial

Sumber foto: Andre Guerra / Unsplash.com

Kenapa ada produk atau jasa yang viral sedangkan yang lain tidak? Apa yang membuatnya berbeda? Pertanyaan jenis inilah yang membuat Jonah Berger tertarik pada dunia word of mouth dan alasan di balik produk, jasa, atau orang yang viral.

Kali ini saya akan membahas buku Contagious: Why Things Catch On karya Jonah Berger. Buku ini membahas alasan di balik sesuatu yang viral. Berger merupakan profesor marketing dari The Wharton School of Business, University of Pennsylvania. Selama puluhan tahun, Berger telah melakukan riset alasan di balik orang, produk, atau jasa yang viral. Dia menyimpulkan word of mouth mempengaruhi keputusan penjualan hingga 20-50%.

Tidak peduli barang atau jasa apa yang kamu jual, asal kamu melakukannya dengan tepat, maka pasti bisa viral. Berger membaginya menjadi enam prinsip dasar alasan sesuatu menjadi viral:

Sumber foto: wajeez.com

Social Currency: Apakah orang terlihat keren ketika ngomongin hal ini?

Burger 100 Dolar! Ini adalah ide yang gila! Tidak ada orang yang pernah berpikir atau mencoba untuk menjual burger seharga 100 dolar. Rata-rata burger yang dijual saat itu adalah 5 dolar. Tapi, ketika Howard Wein menjual 100 dolar cheese steak burger, seketika langsung viral! Ada kebanggaan bisa makan burger paling mahal, itu yang dinamakan social currency. 

Contoh lain adalah Secret Bar Please Don’t Tell di New York. Berbeda dengan bar pada umumnya dimana akan ada neon sign yang besar, bar ini tidak ada papan petunjuk sama sekali. Letaknya pun sangat tersembunyi, yaitu di dalam kotak telepon yang ada di toko hotdog. Tentu saja, bar ini jadi viral saat para pengunjung mulai membagikan ada bar rahasia di dalam toko hotdog. Jangan harap kamu bisa masuk apabila belum ada reservasi sebelumnya!

Triggers: Apa yang membuat orang ingat?

Kita harus menciptakan asosiasi, menghubungkan produk kita dengan sesuatu yang dekat dengan mereka. Contoh yang paling sederhana adalah KitKat dengan kampanye “break”-nya, ini merupakan asosiasi yang bagus menurut saya. KitKat berusaha menghubungkan momen break dengan KitKat. Pesan sederhana yang ingin dibangun adalah ada break, ada KitKat!

Sumber foto: Parisian Love / Google

Emotions: Perasaan apa yang muncul?

Riset yang dilakukan Berger menyimpulkan kalau orang akan cenderung membagikan sesuatu yang memiliki emosi positif daripada emosi negatif. Emosi positif dapat dikategorikan menjadi senang, kagum, dan bahagia. Sedangkan emosi negatif seperti kesedihan, marah, dan gelisah. Berger mencontohkan, iklan Parisian Love dari Google. Intinya adalah kamu bisa mencari apapun di Google. Tapi, dengan cantik, Google membungkusnya dengan cerita tentang seorang laki-laki yang kuliah di luar negeri di Paris, berkenalan dengan cewek Perancis, hingga akhirnya menikah dan punya anak. Semua dirangkai dengan sangat cantik dan di akhir video, tanpa sadar ada sebuah senyum di bibir saya. Itulah hebatnya Google memainkan perasaan saya di video tersebut.

Sumber foto: Antarafoto.com

Public: Apakah banyak orang yang tahu?

Orang harus melihat jelas apa yang kita komunikasikan. Beberapa tahun lalu, saya ikut kegiatan Shave for Hope. Acara itu sangat viral, karena ketika saya botak, lingkaran sekitar saya semua bertanya-tanya. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Saya pun menceritakan kepada mereka, kalau ini adalah bagian dari kegiatan Shave for Hope sebagai bentuk empati kepada penderita kanker. Selain itu, beberapa tahun lalu, Edi Brokoli sempat menjadi salah satu guest star yang bersedia botak. Tentu saja, hal ini langsung viral.

Sumber foto: Youtube Si Kutu Buku

Practical Value: Apa untungnya kalau orang tahu hal ini?

Orang akan membagikan sesuatu yang mereka anggap berguna. Mungkin seperti contohnya Channel Si Kutu Buku. Disini saya membagikan review buku dalam bahasa Indonesia. Karena saya tahu, kadang orang pengen baca, tapi karena yang tersedia hanya dalam bahasa Inggris agak sulit untuk membacanya. Itulah misi Si Kutu Buku, agar literasi baca di Indonesia semakin tinggi dan membaca merupakan bagian dari kebiasaan. 

Sumber foto: Youtube.com / Blendtech

Stories: Cerita apa yang menarik?

Orang tidak hanya membagikan informasi, orang membagikan cerita. Berger mencontohkan sebuah blender bernama Blendtec. Apabila, iklan blender pada umumnya bercerita banyak soal informasi teknis, hasilnya orang awam pun gak paham. Blendtec malah membuat video blender Iphone X. Gila kan? Itu yang membuatnya viral! Blendtec tidak bicara soal kemampuan blendernya, tapi cukup bercerita bahwa Blendtec mampu mem-blender Iphone X sampai jadi butiran debu, orang awam sudah paham kecanggihan blendernya.

Elemen utama untuk membuat sesuatu menjadi viral adalah produk itu sendiri. Dari awal, kita harus mendesain produk untuk viral. Karena untuk menjadi viral bukan sebuah kesengajaan, tapi sebuah niat.

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.