Kerja 4 Jam Seminggu, Bisa Lebih Sukses?

Sumber foto: Unsplash.com

Waktu adalah hal yang paling berharga. Saya yakin semua orang setuju. Tapi, ketika ditantang untuk bekerja dengan waktu yang lebih singkat untuk hasil yang produktif, banyak yang skeptis. Apakah kita bisa bekerja lebih produktif dengan waktu yang singkat?

Kali ini saya akan membahas buku Four Hour Workweek karya Tim Ferriss. Buku ini bercerita bagaimana kita menjadi orang yang efektif dan didukung teknologi yang ada pada masa ini. Mungkin beberapa teori dan penjelasan dalam buku ini sulit diterima bagi kebanyakan orang karena mayoritas merupakan pekerja kantoran 9 to 5. Tentu saja, buku ini bukan untuk semua orang, tapi memberikan cara pandang hidup yang berbeda dan fokus bagaimana kita bisa menjadi lebih efektif.

Ferris merupakan pecinta teori Pareto atau dikenal dengan teori 80-20. Awalnya, Ferris bekerja sebagai salesman di tech company. Dia bekerja mulai dari 40 jam seminggu hingga 80 jam seminggu. Walaupun gajinya oke, tapi pekerjaan ini menyiksa dirinya. Ferris pun mulai bertanya-tanya, apakah hidup seperti ini? Apakah kita bisa hidup dengan cara lain? Akhirnya Ferris memutuskan untuk pensiun dini dan mempraktekkan 80-20 dalam hidupnya. Buku ini berisi bagaimana Ferris menerapkan 80% produktivitas berasal dari 20% waktu yang dia habiskan. Itulah alasan di balik bekerja 4 jam seminggu ala Tim Ferriss.

Ferriss membagi cara menjadi efektif dalam empat langkah:

D – Define (Definisikan apa yang kamu mau)

Semua berawal dari mimpi. Definisikan apa yang kamu mau dalam hidup dan mulai menulis bagaimana cara untuk mendapatkannya. Jangan fokus pada pemikiran bahwa untuk menjadi kaya harus kerja mati-matian. Mungkin sebenarnya, kita tidak ingin jadi kaya, kita hanya ingin gaya hidup orang kaya yang kelihatannya penuh kebebasan dan bisa melakukan apa saja yang dia mau. 

Itulah yang membawa pemikiran kita harus berpindah dari pendapatan absolut ke pendapatan relatif. Sebagai contoh ada dua tipe orang: Si A merupakan karyawan yang digaji 10 juta per bulan tapi dia harus bekerja 10 jam sehari selama lima hari dalam seminggu. Sedangkan, Si B merupakan freelancer yang mempunyai pendapatan rata-rata 8 juta per bulan tapi dia hanya bekerja 6 jam sehari selama lima hari dalam seminggu. Pertanyaannya, apakah pendapatan Si A lebih besar daripada Si B? Coba kita hitung berapa pendapatan yang mereka hasilkan dalam sejam. Si A menghasilkan Rp 9.090 per jam sedangkan Si B menghasilkan Rp 12.121 per jam. Jadi, siapa yang pendapatannya lebih besar?

E – Eliminate (Eliminasi hal yang kurang penting)

Melakukan hal yang tidak penting tidak akan menjadikan hal itu penting. Tidak peduli berapa jam yang kamu habiskan untuk mengerjakan hal tersebut. Fokus pada 20%. Jika dalam bisnis, fokus pada 20% konsumen yang berkontribusi pada 80% penjualan. 

Eliminasi juga aktivitas yang kurang penting seperti main sosmed dan meeting yang panjang tapi gak jelas. Hal lain yang bisa dilakukan seperti buat aturan hanya cek email dua kali dalam sehari, untuk mencegah kita terganggu saat mengerjakan hal yang benar-benar penting.

A – Automate (Automatisasi dan delegasi)

Ada dua poin penting untuk menjadi orang yang efektif: eliminasi dan automatisasi atau delegasi. Apabila kita sudah eliminasi hal yang kurang penting, maka selanjutnya adalah kita harus belajar mendelegasikan atau mengautomatisasikan pekerjaan yang tidak bisa kita hilangkan. 

Contoh simpel untuk automatisasi adalah investasi di sistem. Contoh apabila kamu punya bisnis makanan, investasilah di mesin kasir. Jadi, kamu tidak akan menghabiskan waktu untuk menghitung penjualan secara manual lagi dan bisa mendapatkan insight barang apa saja yang paling laku, cara pembayaran apa yang paling disukai, jam berapa yang paling rame, hari apa saja yang paling banyak pengunjung dan banyak lagi.

Apabila ada hal yang tidak bisa diautomatisasi, maka langkah selanjutnya adalah delegasi. Mungkin bagi orang, delegasi adalah hal yang menakutkan. Tapi saya percaya, kita tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri. Kita tidak akan punya waktu untuk mengerjakan itu semua. Catatan penting ketika mendelegasikan pekerjaan adalah jangan micro manage. Delegasikan pekerjaan kepada orang yang tepat, pasang tujuan yang jelas, dan berikan kebebasan kepada orang itu untuk mengerjakan sesuai caranya sendiri.

L – Liberate (Bebaskan dirimu)

Ferriss merupakan pendukung remote working. Ferriss percaya bahwa bekerja bisa dimana saja. Tentu saja dengan adanya internet, semua ini dimungkinkan. Inilah keuntungan yang tidak dimiliki di generasi sebelumnya. Sebagai contoh, apabila kita remote working di Amerika Serikat dan tinggal di Indonesia. Ini adalah hal yang ideal dimana kamu mendapatkan penghasilan sebesar orang yang bekerja di Amerika Serikat dengan living cost yang jauh lebih hemat yaitu di Indonesia. Itulah yang menjadi alasan banyak startup founder ekspatriat remote working di Ubud, Bali. Selain cost of living yang relatif lebih murah, hal lain yang menjadi nilai plus adalah lokasi yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, pulau yang kaya akan budaya, dan pemandangan yang indah.

Bekerja dengan waktu yang lebih sedikit bukan berarti pemalas. Tidak masuk akal apabila menggunakan jam kerja sebagai acuan seseorang merupakan pekerja keras. Idealnya, orang harus diukur dari produktivitas, bukan dari berapa lama waktu yang dia habiskan untuk bekerja. Karena pada akhirnya bukan berapa lama kamu bekerja, tapi berapa banyak yang kamu hasilkan?

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.