Galau di Usia 25 Tahun? Mungkin Kamu Mengalami Quarter-Life Crisis

quarterlifecrisis
Sumber foto: namimscott.com

Sudah tiga bulan sejak saya berumur 25 tahun. Entah kenapa saya sering mengalami perasaan khawatir, tidak pasti, merasa tidak cukup baik, dan cemas akan masa depan. Adanya tekanan untuk sukses di usia muda pun turut memperparah kondisi yang saya alami saat ini. Hal inilah yang membuat saya terkadang merasa ‘lost’ dan bingung harus melakukan apalagi untuk mendekatkan harapan dan realita. Apakah kamu merasakan hal yang sama? Apabila iya, mungkin kamu sama seperti saya, kita sama-sama sedang berada dalam fase Quarter-Life Crisis.

Frase Quarter-Life Crisis awalnya ditemukan oleh penulis buku asal Amerika Serikat Abby Wilner pada tahun 1997, sesaat setelah dia menemukan bahwa dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan dalam hidupnya. Abby menjelaskan, Quarter-Life Crisis biasanya terjadi pada anak-anak yang baru lulus kuliah dan mulai bekerja. Pada saat itu, mereka dihadapkan pada berbagai pilihan-pilihan karir, keuangan, relationship, dan lingkaran sosial. Di masa ini juga, mereka dihadapkan pada tanggung jawab baru, tekanan harus sukses pada usia muda, memiliki pasangan hidup, dan tekanan-tekanan sosial lainnya. Krisis hidup ini biasanya  terjadi di awal 20-an hingga awal 30-an.

Nothing will ruin your 20’s more than thinking you should have your life together already.

Ada beberapa tanda-tanda yang muncul ketika kamu mengalami Quarter-Life Crisis:
– Merasa tidak cukup baik karena tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang disukai
– Frustasi atas harapan yang tidak sesuai dengan realita
– Bingung soal jati diri
Insecure ketika bicara soal masa depan
– Merasa stagnan dalam karir
– Kehilangan kedekatan dengan teman-teman sekolah dan kuliah
– Stress soal finansial
– Merasa bahwa orang lain memiliki hidup yang lebih baik
– Kesepian

Banyak orang menganggap umur 20-an sebagai sebuah kompetisi, dimana mereka harus sukses sebelum memasuki umur 30 tahun. Ambisi yang besar, mimpi setinggi langit, dan energi yang luar biasa merupakan bahan bakar mereka untuk sukses. Selain hal-hal positif tersebut, tidak jarang mereka juga merasakan ketakutan yang luar biasa jikalau mereka messed up in life. Inilah yang kemudian membuat mereka berada pada kondisi Quarter-Life Crisis. 

Sebagai contoh, ketika seorang anak muda baru lulus kuliah dan masuk ke dunia kerja, biasanya dia memiliki harapan soal karirnya seperti apa, misalnya memiliki besaran gaji tertentu atau mencapai posisi tertentu pada usia yang diharapkan. Namun, ketika bekerja cukup lama, anak muda tersebut baru menyadari bahwa dunia kerja itu “keras”, sangat kompetitif, dipenuhi office politics untuk bertahan, dan tidak semudah seperti apa yang dia harapkan. Perlahan-lahan, harapan yang sudah dibuat ketika dia pertama kali memasuki dunia kerja pun tidak sesuai dengan kenyataan. Reality shock inilah yang membuat anak muda tersebut mengalami Quarter-Life Crisis.

Sometimes, I have to remind myself that I don’t have to do what everyone else is doing.

Walaupun fase ini sulit dijalani, namun menurut British Psychological Society, seperti yang dilaporkan oleh Discovery Magazine, lebih dari 80 persen orang yang mengalami krisis tersebut mengatakan bahwa hal tersebut adalah pengalaman positif. Hal ini disebabkan karena Quarter-Life Crisis adalah sebuah katalisator yang membawa perubahan positif di dalam hidup seseorang. Di fase inilah, seseorang akan belajar soal kegagalan, perubahan, kenyataan yang tidak sesuai harapan, dan optimisme.

Ada beberapa cara yang bisa diaplikasikan ketika kamu berada pada kondisi tersebutBerikut ada empat tips untuk menghadapi Quarter-Life Crisis:

Stop comparing yourself
Cara termudah untuk menderita adalah membandingkan kesuksesan diri sendiri dan orang lain. Mungkin kamu melihat sebagian teman kamu sudah mulai mencicil rumah atau membeli mobil, sedangkan kamu masih gitu-gitu aja. Tentu saja, dalam hati, kamu merasa seperti pecundang. Kamu merasa teman kamu menjalani hidup yang lebih sukses dari kamu. Hal ini yang kemudian membuat kamu menjadi pesimis akan masa depan kamu.

Trust the dots
Ketika saya mengalami Quarter-Life Crisis, ada quote dari Steve Jobs yang selalu memberikan saya harapan dan semangat. Pidato yang sangat mengugah ini diucapkan oleh Steve ketika memberikan pidato kelulusan di acara wisuda Universitas Stanford, Amerika Serikat.

Berikut adalah kutipannya:
“…If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course, it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backward 10 years later. Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life…”

Steve dengan jelas mengatakan bahwa kita harus percaya apa yang kita lakukan saat ini akan memiliki dampak yang besar pada kehidupan kita mendatang. Mungkin saat ini, apa yang kita lakukan terkesan tidak memiliki dampak apapun, tidak menghasilkan sesuatu yang besar, dan tidak membuat kita sukses secara instan. Namun, apabila kita secara rutin membangun good habit yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dapat membantu kita untuk sukses, maka percayalah kamu pasti akan sukses.

Patience
Sabar. Ini tips yang mudah dikatakan tapi paling sulit dilakukan. Ibaratnya, kebiasaan ingin cepat dalam berbagai hal sudah mendarah daging. Cepat sukses, cepat kaya, cepat nikah, cepat punya anak, dan sebagainya. Akibatnya, apabila “kecepatan” harapan dan kenyataan tidak berjalan beriringan, sudah pasti kita akan menjadi sangat sedih. Bicara untuk selalu sabar, saya jadi teringat quote dari praktisi mindfulness Adjie Silarus yang mengatakan, “Santai saja. Bagaimanapun juga, tidak ada yang bisa dikendalikan sepenuhnya.” Kalimat ini seolah “menampar” pipi saya dengan keras ketika secara tidak sadar saya berusaha untuk mengendalikan keadaan dan terlalu ngotot untuk mendapatkan sesuatu. Maklum, pada dasarnya saya adalah orang yang target-oriented dan control-freak. 

Be happy
Tips yang terakhir adalah jangan lupa untuk bahagia. Setiap orang punya harapan untuk sukses dan impian yang ingin digapai, tapi jangan sampai harapan dan impian itu malah membuat hidup kita menderita. Kebiasaan melihat ke atas membuat kita menjadi lupa bahagia. Padahal kalau kita sedikit saja melirik ke bawah, kita akan sadar betapa beruntungnya kita. Pengalaman inilah yang membuat kita untuk menilai hidup dengan lebih bijaksana.

Pada akhirnya, kita akan percaya setiap orang mempunyai waktunya masing-masing untuk bersinar (re: sukses). Jalanilah hidup dengan semangat, optimis, bahagia, dan percayalah akan tiba saatnya kamu akan sukses!

“Live your life like it is the last day you live!” ― Abby Wilner.

Referensi tulisan:
Cosmopolitan.co.id
Quarterlife Crisis: The Unique Challenges of Life in Your Twenties book

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s