The Great Wall Review: Orang Barat yang Belajar Kearifan Budaya Timur

matt-damon-the-great-wall
Sumber foto: scmp.com

Bagaimana jika tembok besar Cina (Tiongkok) dibangun bukan untuk menahan serangan manusia melainkan dari makhluk mitologi? Inilah yang mendasari film The Great Wall besutan Zhang Yimou. Berlatar cerita tembok besar Cina, film ini memiliki unsur budaya Cina yang kental seperti makhluk mitologi dari legenda masyarakat Cina, kemampuan militer dan inovasinya, ajaran-ajaran kearifan, hingga tradisi pemakaman dari budaya Cina. Uniknya, film ini bukan seperti film Asia pada umumnya yang bercerita soal orang Barat yang datang sebagai penyelamat, tapi lebih dari itu, film ini menjelaskan bagaimana kearifan dari budaya Cina seperti keberanian, tidak egois, kepercayaan, dan inovasi mampu mengubah karakter tokoh orang Barat tersebut menjadi lebih baik.

Sebagai film Cina termahal yang pernah diproduksi dengan biaya $150 juta, film ini sangat memanjakan mata dari sisi efek visualnya. Mulai dari warna warni baju perang pasukan elit Cina The Nameless Order, perawakan makhluk mitologi jahat pemakan manusia Taotie, hingga ketajaman gambar pertarungan antara pasukan elit Cina dengan Taotie. Selain efek visualnya yang memukau, film ini juga dibintangi beberapa aktor papan atas seperti aktor Hollywood Matt Damon, aktor Hong Kong Andy Lau, serta aktor-aktor Cina dan Hong Kong lainnya.

the-great-wal-movie
sumber foto: thegreatwallmovie.com

Film The Great Wall bercerita tentang dua orang tentara bayaran bernama William Garin (Matt Damon) dan Pero Tovar (Pedro Pascal) yang tidak sengaja memasuki wilayah tembok besar Cina karena sedang dikejar oleh suku dari bukit. Kejadian ini ternyata membawa mereka pada fakta-fakta yang mengejutkan. Mulai dari bubuk mesiu yang merupakan rahasia militer pasukan elit Cina hingga makhluk mitologi pemakan manusia berbentuk seperti kadal bernama Taotie.

Setiap 60 tahun sekali, Taotie akan menyerang Cina sebagai hukuman karena manusia terlalu serakah karena uang, kekuasaan, dan sebagainya. Di saat itulah, pasukan elit Cina berusaha mati-matian mempertahankan tembok besar Cina dari gempuran serangan Taotie. Meskipun awalnya William ingin memanfaatkan situasi kacau ini untuk mencuri bubuk mesiu prajurit elit Cina, namun ajaran-ajaran kearifan Cina menyentuh hati William yang kemudian memutuskan untuk membantu pasukan elit Cina untuk mengalahkan Taotie.

the-great-wal-movie-2
Sumber foto: thegreatwallmovie.com

Walaupun memiliki efek visual yang sangat baik dibandingkan film-film Cina lainnya, ada beberapa kritik yang muncul soal film ini. Pertama, alur ceritanya yang hanya berisi peperangan saja, namun tidak ada pendalaman karakter contohnya adalah lima ksatria dari pasukan elit Cina hanya sebagai cameo saja tanpa diberikan waktu dan penjelasan yang cukup untuk masing-masing karakternya. Padahal, beberapa ksatria itu dibintangi oleh aktor yang cukup dikenal memiliki kemampuan akting yang baik seperti Eddie Peng dan Kenny Lin Gengxin.

Kritik lain dari film ini adalah alur ceritanya yang mirip seperti cerita komik Jepang berjudul Attacks on Titan, dimana ceritanya berisi sekelompok manusia yang bertahan di balik tembok besar untuk melawan raksasa pemakan manusia. Selain itu, pasukan elit Cina yang terdiri dari lima kesatuan yang diberi nama berdasarkan cara bertarung mereka seperti bangau, beruang, elang, rusa, dan harimau; mirip dengan tiga kesatuan militer dari komik Attacks on Titan (khususnya kesatuan bangau, yang terdiri dari pasukan akrobat wanita yang melakukan serangan lewat udara, mirip dengan senjata “Vertical Maneuvering Equipment” di komik Attacks on Titan).

Selain kritik yang disebutkan di atas, saya menyukai pesan-pesan moral yang diselipkan di film ini. Di film ini, William yang awalnya memiliki karakter pencuri, pembunuh, dan penipu kemudian tersentuh hatinya oleh komandan kesatuan bangau dari The Nameless Order Lin Mae (Jing Tian). Lin mengajarkan William mengenai nilai-nilai luhur kearifan Cina salah satunya yaitu Xìn Rèn yang artinya kepercayaan. Dalam hal ini, Lin mengajarkan William untuk belajar mempercayai orang lain. Selain belajar soal kepercayaan, Lin juga meyakinkan William bahwa berperang bukan hanya untuk kekuasaan atau uang, tapi lebih dari itu, berperang adalah untuk keselamatan orang banyak.

Intinya, film The Great Wall merupakan film yang cukup menarik dengan plot sederhana tipikal film perang pada umumnya.

Referensi tulisan:
Variety.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s