Kenapa Resolusi Tahun Baru (seringkali) Gagal?

new-year-resolution
Sumber foto: huffingtonpost.com

Bagi sebagian orang, tahun baru merupakan momen kontemplasi untuk menjadi lebih baik. Mereka menginginkan ada peningkatan dalam hidupnya, mulai dari ingin menurunkan berat badan, hidup lebih sehat, mulai menabung, berhenti merokok, dan sebagainya. Itulah yang memotivasi mereka untuk membuat serangkaian resolusi. Tapi, berapa banyak resolusi yang menjadi kenyataan? Penelitian yang dilakukan oleh departemen psikologi Universitas Scranton di Amerika Serikat menemukan bahwa hanya 10% resolusi tahun baru yang terwujud. Lantas, kenapa hasilnya begitu rendah padahal mayoritas orang sangat bersemangat ketika membuat resolusi tahun baru?

Mayoritas orang berpikir hidupnya butuh momentum untuk berubah dan tahun baru merupakan waktu yang dianggap paling tepat. Pasti kita sering mendengar kalimat ini, “Ah, senin aja mulai dietnya. weekend bebas makan.” Kebiasaan menunggu momentum inilah yang membuat resolusi tahun baru sangat populer bagi mayoritas orang. Tapi, apabila resolusi tahun baru yang kamu buat tahun ini merupakan resolusi yang sama selama bertahun-tahun tidak tercapai, mungkin ada yang salah dari cara kamu memandang resolusi.

“I can affect change by transforming the only thing that I ever had control over in the first place and that is myself,” – Deepak Chopra.

Ketika membuat resolusi, mayoritas orang pasti menuliskan goal apa yang ingin mereka capai. Contoh yang paling sederhana: “Saya ingin menurunkan 10 kg dan mempunyai six pack abs” padahal kondisi perutnya sekarang masih buncit. Tentu saja, goal tersebut terdengar keren, tapi apakah bisa terwujud? Mayoritas orang sengaja memasang goal yang terlalu tinggi di luar kemampuan dirinya sendiri. Efeknya adalah ketika mereka hanya menghasilkan sedikit perubahan dan jauh dari goal yang diharapkan, mereka cenderung kesal dan kemudian menyerah. Apabila mereka tidak menyerah, mereka tergoda untuk mengambil “jalan pintas” untuk mencapai goal mereka misalnya, menahan lapar untuk menurunkan berat badan. Tentu saja, hal ini akan merusak tubuh mereka dalam jangka panjang.

Daripada menghabiskan energi untuk mencapai goal, bagaimana bila fokus membangun habit? Sebagai contoh, daripada membuat goal ingin menurunkan 10 kg dan mempunyai six pack abs, bagaimana bila membuat habit untuk mulai berjalan kaki selama 10 menit setiap hari? Kemudian, apabila sudah terbiasa, durasi dan intensitasnya ditingkatkan terus menerus.

Banyak orang beralasan membuat habit yang positif itu sulit, tapi menurut saya itu tidak benar. Secara tidak sadar, kita telah membangun ratusan habit yang akhirnya membentuk kita seperti saat ini, jadi sebenarnya tidak sesulit itu. Rumusnya dalam membangun habit adalah lakukan hal yang paling mudah untuk permulaan kemudian tingkatkan intensitasnya perlahan-lahan. Tanpa kamu sadari, setelah melewati periode yang cukup lama, kamu akan terkejut atas hasil yang telah kamu capai.

Jadi, apa resolusi tahun barumu kali ini?

“January 1st signifies a new beginning. However, each day allows for a new beginning, and hence it is a reset,” – Dr. Roberta Anding.

Referensi tulisan:
Markmanson.net
Psychologytoday.com

Advertisements

2 thoughts on “Kenapa Resolusi Tahun Baru (seringkali) Gagal?”

  1. Resolusi tahun ini: lebih banyak bikin kue, nonton konser The Moffatts (yang akan terkabul di tahun Februari) dan pergi ke negara yang belum pernah dikunjungi. xD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s