Pelajaran di Balik 100 kali Penolakan

rejection
Sumber foto: tinybuddha.com

Apa jadinya bila kita sengaja melakukan hal-hal yang kemungkinan besar akan membuat kita ditolak? Seorang penulis dari Amerika Serikat, Jia Jiang, memaksa dirinya untuk mengalami penolakan selama 100 hari berturut-turut, mulai dari meminjam USD 100 dari orang asing hingga meminta donut berbentuk simbol Olympic. Penolakan-penolakan itu membuat Jiang menjadi “kebal” terhadap rasa sakit dan malu akibat ditolak. Selain itu, Jiang menemukan bahwa dengan berani meminta apa yang kamu mau, ternyata mampu membuka peluang-peluang yang kamu pikir tidak mungkin.

Semua bermula dari sebuah permainan sederhana bernama Rejection Therapy yang diciptakan oleh pengusaha Kanada bernama Jason Comely. Permainan ini hanya memiliki satu peraturan yaitu, kamu harus mengalami penolakan sebanyak satu kali setiap hari selama 30 hari berturut-turut. Permainan ini dibuat untuk membantu membangun kepercayaan diri dan mengatasi rasa takut akibat penolakan. Dalam prosesnya, Rejection Therapy akan mengajarkan kamu ternyata penolakan mampu memberikan pengalaman yang positif dan menyenangkan.

“F.E.A.R. has two meanings; forget everything and run or face everything and rise. The choice is yours,” – Zig Ziglar.

Don’t run
Terinspirasi dari Jason Comely, Jiang bertekad untuk melakukan tantangan 100 kali penolakan dalam 100 hari berturut-turut dan membuat vlog dari setiap penolakan tersebut. Tantangan pertama yang dilakukan oleh Jiang adalah meminjam USD 100 dari orang asing. Pada hari itu, Jiang pergi ke kantor seperti biasa dan melihat ada seorang pria besar yang berprofesi sebagai satpam hotel sedang duduk di belakang meja. Jiang menghampiri pria tersebut dan bertanya, “Hey, pak, Bolehkah saya pinjam USD 100 dari anda?” Pria tersebut melihat Jiang dan berkata, “Tidak, kenapa?” Jiang berkata, “Tidak apa-apa, mohon maaf.” Kemudian, Jiang berbalik dan lari.

Jiang merasa sangat malu atas kejadian tersebut. Malam harinya, ketika dia melihat kembali video tersebut, Jiang menyadari bahwa dia selalu lari ketika ditolak. Padahal, pria itu bahkan bertanya, “Kenapa?” yang berarti Jiang mempunyai kesempatan untuk menjelaskan alasan di balik permintaannya, bernegosiasi, dan mungkin bisa mendapatkan apa yang dia mau. Tapi, kesempatan itu hilang, ketika dia memutuskan untuk berlari.

“Don’t be afraid of the answers, be afraid of not asking questions,” – Jennifer Hudson.

Ask and maybe you get what you want
Tantangan lain yang dilakukan oleh Jiang adalah meminta salah satu toko donat Krispy Kreme untuk membuat donat yang berbentuk simbol Olympic. Tentu saja, permintaan ini kemungkinan besar ditolak. Tapi, tanpa disangka, seorang pembuat donat yang bekerja di Krispy Kreme bernama Jackie menanggapi permintaan Jiang dengan serius. 15 menit kemudian, Jackie datang dengan sekotak donat berbentuk simbol Olympic. Jiang sangat terkejut dan vlog tentang pengalamannya itu bahkan ditonton lebih dari 5 juta orang di Youtube. Saat itulah, Jiang sadar apabila dia mencoba untuk meminta apa yang dia mau, mungkin saja dia bisa mengubah kata “No” menjadi “Yes”.

Don’t stop when you get rejected first
Ketika pertama kali ditolak, mayoritas orang cenderung mundur dan langsung menyalahkan diri sendiri. Banyak orang berpikir penolakan dari orang lain adalah hal yang paling buruk. Padahal, jauh sebelum kita ditolak oleh orang lain, biasanya kita telah ditolak oleh diri kita sendiri. Kita terlalu nyaman bersembunyi di dalam zona nyaman kita dan takut mengalami penolakan. Itulah sebabnya ketika mengalami penolakan sekali, biasanya kita langsung mundur tanpa bertanya kenapa ditolak, karena takut mengalami penolakan untuk kedua kalinya.

Suatu hari, Jiang mengetuk pintu rumah yang tidak dia kenal sambil membawa bunga. Ketika pintu terbuka dan muncul seorang pria, Jiang bertanya, “Bolehkah saya menanam bunga ini di taman belakang anda?” Pria tersebut berkata, “Tidak.” Tapi sebelum pria itu pergi, Jiang kemudian bertanya, “Hey, apakah saya boleh tahu kenapa?” Pria itu menjawab, “Saya punya seekor anjing yang selalu menggali tanaman apapun yang saya tanam di taman, jadi saya tidak ingin menyia-nyiakan bunga kamu. Jika kamu mau, coba pergi ke rumah di seberang jalan dan bicara pada Connie karena dia suka bunga.” Jadi itulah yang dilakukan oleh Jiang, pergi ke rumah Connie, dan menanam bunga di taman belakangnya.

“If you really want to do something, you will find  a way; if you don’t, you will find a excuse,” – Jennifer Hudson.

Bayangkan apabila Jiang pergi setelah ditolak pertama kali? Jiang mungkin berpikir, pria tersebut tidak percaya karena menganggap dia gila, karena dia tidak berpakaian yang menarik, dan pikiran-pikiran negatif lainnya. Kenyataannya, alasan sebenarnya bukan itu. Pria itu menolak karena Jiang tidak memberikan sesuai dengan apa yang pria itu inginkan. Dan apabila kita bertanya “Kenapa?” setelah ditolak, mungkin kita menemukan orang seperti pria tersebut yang berbaik hati memberitahu kita siapa yang kira-kira cocok dengan apa yang kita tawarkan.

Dari 100 social experiment yang telah dilakukan, Jiang menyimpulkan bahwa orang-orang yang mampu mengubah dunia seperti, Marthin Luther King Jr, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela dan tokoh besar lainnya; adalah orang-orang yang telah mengalami penolakan-penolakan berat dalam hidupnya namun mampu bangkit kembali. Kemampuan bangkit kembali inilah yang membedakan kualitas tokoh-tokoh besar tersebut dengan orang lain.

Jadi, ketika kamu mengalami penolakan lagi, pikirkan peluang-peluang lain. Jangan lari. Jika kamu menerima penolakan tersebut, mungkin itu akan menjadi hal yang berharga bagi hidupmu.

“No” is not the worst rejection people said. “You didn’t even ask” is the worst rejection people said because it implies you say “no” to yourself before others could reject you,” – Jia Jiang.

Tulisan ini disarikan dari seminar Jia Jiang di TED Talk yang berjudul: What I learned from 100 days of rejection.

Video lengkapnya:

Advertisements

2 thoughts on “Pelajaran di Balik 100 kali Penolakan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s