5 Mitos yang Salah soal Leadership

6-essential-traits-your-future-leaders-must-have-to-be-successful-640x3021
Sumber foto: Insperity.com

Banyak orang berpikir bahwa pemimpin adalah orang yang memiliki gelar atau posisi tertentu. Tapi, tahukah kamu bahwa gelar dan posisi itu tidak penting apabila tim kamu tidak mengikuti apa yang kamu inginkan? Perlu disadari, kepemimpinan sejati tidak berasal dari penugasan atau anugerah. Kepemimpinan hanya berasal dari pengaruh.

Mitos paling umum berkembang soal kepemimpinan adalah, “Leaders are born, not made.” Mitos ini tidak bisa disalahkan karena pada jaman dahulu untuk menjadi pemimpin ditentukan dari kelahiran, contohnya yaitu bagaimana seorang menjadi raja. Namun, jaman sudah berubah. Setiap orang bisa menjadi pemimpin, asalkan mau belajar dan mengembangkan kemampuan memimpinnya. Sebagai contoh, ketika kamu ditunjuk menjadi seorang pemimpin, hal itu tidak otomatis membuat kamu menjadi pemimpin. Kamu baru bisa dianggap sebagai pemimpin apabila tim kamu mengakui kamu sebagai pemimpinnya. Lebih menarik lagi, coba perhatikan di sekelilingmu, pasti ada beberapa orang yang bekerja di dalam organisasi, walaupun tidak berada pada posisi puncak, tapi mampu mempengaruhi rekan kerja, bawahan, bahkan atasannya.

Bukan cuma mitos bahwa seorang pemimpin ditentukan dari takdir, ternyata ada banyak pemahaman yang keliru, berikut adalah lima mitos yang salah soal kepemimpinan:

Mitos Manajemen
Banyak orang salah kaprah yang mengganggap kepemimpinan dan manajemen adalah satu hal yang sama. Padahal keduanya berbeda. Kepemimpinan bicara soal bagaimana mempengaruhi orang lain sehingga menjadi pengikut. Sedangkan, manajemen berorientasi pada sistem dan proses. Seperti yang pernah diungkapkan mantan pimpinan puncak merangkap direktur utama Chrysler, Lee Lacocca, “Terkadang manajer terbaik pun diibaratkan seperti anak kecil dengan anjing besar, menunggu kemana anjing itu pergi, untuk membawanya ke suatu tempat.” Seseorang dapat dikatakan sebagai pemimpin, apabila dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bergerak ke arah yang baru.

Mitos Pengusaha
Seringkali, orang berasumsi apabila seseorang menjadi pengusaha, maka dia adalah seorang pemimpin. Kenyataannya tidak. Pada tahun 1952, ketika Dick dan Maurice, kakak beradik pemilik McDonald’s, memulai untuk memasarkan konsep waralaba restorannya, mereka gagal. Baru ketika mereka bertemu Ray Kroc, seorang pemimpin sejati, konsep ini berhasil. Pada tahun 1955-1959, Kroc berhasil membuka 100 restoran. Dan empat tahun berikutnya, sudah berdiri 500 restoran McDonald’s. Kroc merupakan pemimpin dengan pengaruh yang kuat, itu yang menyebabkan dia berhasil.

“The task of the leader is to get his people from where they are to where they have not been,” – Herry Kissinger.

Mitos Pengetahuan
Asumsi lain yang salah adalah ketika mengganggap pengetahuan adalah inti dari kepemimpinan. Orang yang paling pintar pasti menjadi pemimpin. Namun tidak otomatis demikian. IQ bukan jaminan seseorang mampu memimpin dengan baik. Mungkin Head of Research and Development kantor tempat kamu bekerja merupakan orang yang paling pintar, tapi itu tidak otomatis menjadikan dia sebagai CEO perusahaan.

Mitos Pelopor
Pemimpin adalah orang yang berdiri paling depan, apakah itu benar? Sir Edmund Hillary adalah orang pertama yang mencapai puncak Mount Everest pada tahun 1953. Sejak itu, banyak orang “mengikuti” jejaknya. Namun, itu tidak menjadikan Hillary sebagai pemimpin. Dia bahkan bukan pemimpin ekspedisi tersebut, melainkan John Hunt. Hal yang sama juga terjadi ketika Hillary pergi ke Kutub Selatan pada tahun 1958 sebagai bagian dari ekspedisi Commonwealth Trans-Antartic, dia lagi-lagi menyertakan seorang pemimpin, Sir Vivian Fuchs. Menjadi pemimpin, bukan hanya berdiri paling depan, melainkan mampu membuat orang-orang mengikuti di belakangnya dan menindaklanjuti visinya.

Mitos Jabatan
Ini merupakan pemahaman salah paling banyak soal kepemimpinan. Menjadi seorang pemimpin tidak ditentukan oleh posisi melainkan pemimpinnya itu sendiri. Pada tahun 1955, CEO Apple John Sculley memecat Steve Jobs dari perusahaan miliknya. Ternyata, itu keputusan yang buruk dan mengakibatkan Apple merugi terus menerus. Akhirnya, Apple kembali menunjuk Steve Jobs sebagai CEO Apple pada tahun 1997 dan mampu meningkatkan keuntungannya dan kembali menjadi perusahaan besar seperti sekarang. Walaupun Steve Jobs kehilangan jabatannya, hal itu tidak membuatnya kehilangan jati dirinya sebagai pemimpin sejati.

“Leadership is not about titles, positions, or flowcharts. It is about one life influencing others,” – John C. Maxwell.

Tulisan ini disarikan dari buku: The 21 Irrefutable Laws of Leadership karangan John C. Maxwell.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s