4 Tips Hidup Bahagia dari Kaum Stoic

smiley_face
Sumber foto: spiked-online.com

Semakin dewasa, rasanya semakin sulit untuk bahagia. Semakin banyak keinginan yang seakan-akan harus dipenuhi dan semakin butuh alasan untuk bahagia. Di tengah hiruk pikuknya kehidupan, kita sibuk mencari cara untuk bahagia. Ternyata kita tidak perlu mencari terlalu jauh, orang-orang di masa lalu khususnya kaum Stoic yang hidup di kota Athena, Yunani pada abad ke-3 SM telah mengajarkan hal yang indah. Filosofi hidup mereka mengajarkan kita bagaimana menjalani hidup agar tetap bahagia.

Orang-orang Stoic percaya bahwa emosi negatif yang menghancurkan manusia berasal dari keputusan yang salah. Hal-hal tersebut dapat merusak kebahagiaan seperti marah berlebihan, panik berlebihan, sedih berlebihan, dan sebagainya. Ajaran yang mampu bertahan kurang lebih lima abad (3SM – 3M) ini memiliki makna yang sederhana, yaitu tahan banting dari segala bentuk gempuran permasalahan dalam hidup. Sejatinya, ajaran Stoic menekankan pada keteguhan mental baik di saat senang maupun sedih.

“Nothing either good nor bad but thinking makes it so,” – Shakespeare.

Events don’t upset you. Beliefs do.
Tidak ada kejadian yang baik atau buruk, yang memberikan makna adalah persepsi kita terhadap hal tersebut. Tidak percaya? Bayangkan, pacar kamu memutuskan hubungannya denganmu. Sedih? Iya, sudah pasti. Coba bayangkan kejadian yang sama, namun setelah putus, kamu baru tahu bahwa mantan kamu ternyata seorang psikopat yang telah membunuh tiga mantannya terdahulu. Sedih? Tentu saja tidak, kamu merasa lega.

Dari contoh di atas, sudah jelas bahwa “diputusin pacar” tidak membuat kamu sedih, yang membuat kamu sedih adalah apa yang kamu pikirkan dari kejadian tersebut. Pikiran kamu memberikan makna setiap kejadian yang ada dalam hidupmu. Orang-orang Stoic berkata, “Tidak ada kejadian baik atau buruk, yang ada hanyalah persepsi.” Lebih lanjut, orang-orang Stoic berkata, “Ini terjadi kepada saya”, tidak sama dengan, “Ini terjadi kepada saya dan ini menyedihkan.” Mereka percaya apabila kamu fokus hanya di kalimat pertama, mental kamu akan lebih kuat dan semakin banyak hal baik yang akan muncul setelahnya.

Control what you can. Ignore the rest.
Kita terbiasa menghabiskan waktu untuk mengeluh pada hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita. Ajaran utama dari orang-orang Stoic adalah bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang bisa dilakukan dari kejadian ini?” Jika kamu bisa melakukan sesuatu, lakukanlah. Jika tidak bisa, lepaskanlah. Kecemasan tidak akan membawa hal baik dalam hidupmu. Orang-orang Stoic menekankan pentingnya untuk membedakan apa yang bisa dan tidak bisa kita ubah. Bukan hanya membuat diri kita lebih bahagia, tetapi juga membuat kita lebih fokus dalam mengerahkan semua energi kita untuk hal-hal yang lebih produktif.

“God, grant me the serenity to accept the things I cannot change, Courage to change the things I can, and Wisdom to know the difference,” – Serenity Prayer.

Accept everything. But, don’t be passive.
Banyak orang menyalahartikan menerima dengan menyerah. Sehingga, sangat sulit bagi kita untuk menerima. Apa yang terjadi apabila kita tidak menerima? Kita menolak (denial). Hidup dalam penolakan sangat menderita. Padahal, menerima kenyataan bukan berarti kita pasif. Orang-orang Stoic berkata, “Jangan menghabiskan energi kita pada hal-hal yang berada di luar kendali kita, mari menerima kenyataan, bergerak maju, dan lakukan apa yang kita bisa.” Ibaratnya ketika hujan, kita tidak mengeluh dan menolaknya. Kita menerimanya dengan sepenuh hati dan memakai payung.

Morning and evening rituals are essentials.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa doa dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang. Jadi, apa yang orang-orang Stoic sarankan? Doa pagi dan malam hari. Doa pagi untuk mempersiapkan dirimu menjalani hari, sedangkan doa malam untuk merefleksikan harimu dan mencari tahu apa yang bisa ditingkatkan.

Orang-orang Stoic tidak percaya dengan kesempurnaan. Bagi mereka, hidup adalah proses dan kamu selalu bisa untuk menjadi lebih baik.

As long as you live, keep learning how to live,” – Seneca, Stoic Philosopher.

Refensi:
Wikipedia
Barking the Wrong Tree

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s