Hanya “Orang Aneh” yang Mampu Mengubah Dunia

cartoonheads
Sumber foto: Wnyc.com

Melakukan hal yang sama terus menerus, namun mengharapkan hasil yang berbeda adalah hal yang mustahil. Dunia modern menuntut kita untuk berpikir kreatif, tidak biasa, dan jarang terpikirkan oleh kebanyakan orang. Cara baru yang revolusioner ini telah terbukti menyelesaikan masalah kecil maupun global. Rahasia untuk menemukan cara yang revolusioner, ternyata sederhana. Caranya yaitu berpikir, berbicara, dan bertindak seperti “orang aneh”. Sudut pandang inilah yang mampu mengubah dunia.

Ada sebuah kisah menarik tentang “orang aneh”. Ini kisah tentang seorang pemuda bernama Takeru Kobayashi dari Jepang yang mampu mengukir namanya di kejuaraan lomba makan dunia. Kobayashi memiliki perawakan tubuh kecil dan tinggi 175cm. Namun, dia memiliki perut yang kuat dan selera makan yang bagus. Kobayashi sering mengibaratkan dirinya sebagai pahlawan sumo masa kecilnya bernama Chiyonofuji, alias “Sang Serigala”, yang relatif bertubuh ringan, tetapi punya teknik yang unggul.

Pada tahun 2001, tepatnya pada tanggal 4 Juli, Kobayashi mengikuti lomba makan Super Bowl, sebagaimana olahraga itu dikenal: Lomba Makan Hot Dog Internasional yang diadakan oleh Nathan’s Famous. Acara ini telah diadakan selama empat dekade di Coney’s Island, New York City dan secara rutin telah menarik lebih dari satu juta pemirsa di ESPN.

Aturannya sederhana. Peserta makan sebanyak mungkin hot dog dan roti alias HDB, singkatan dari, Hot Dog and Buns dalam waktu 12 menit. Pada tahun 2001, rekor yang tercatat adalah 25 1/8 HDB dalam waktu 12 menit. Dalam lomba ini, tidak ada peserta yang menganggap Kobayashi sebagai ancaman. Bahkan, ada seorang peserta yang mengejeknya,”Kakimu lebih kurus daripada lenganku!” Namun, ketika lomba selesai, semua orang tercengang saat Kobayashi mampu makan 50 hot dog dan roti! Itu berarti lebih dari empat hot dog dan roti per menit selama 12 menit. Kobayashi, si kurus dari Jepang, ternyata mampu melipatgandakan rekor dunia!

“Those who cannot change their minds cannot change anything,” ― George Bernard Shaw.

Bagaimana Kobayashi melakukannya?

Perlombaan makan dianggap sebagian besar orang hanya sebagai lomba makan sebanyak-banyaknya saja. Memang benar, namun Kobayashi yakin lomba makan adalah sebuah keahlian yang bisa dipelajari. Pola pikir inilah yang membuat Kobayashi penasaran, apakah ada cara yang lebih baik? Seperti halnya cabang olahraga, Kobayashi mengganggap perlombaan makan adalah olahraga yang serius. Kobayashi berlatih dan bereksperimen untuk mencari strategi bagaimana makan hot dog sebanyak-banyaknya dalam waktu 12 menit.

Pada praktik konvensional, orang selalu makan hot dog dan roti bersamaan. Tidak ada hal yang aneh dan semua peserta pasti melakukan hal yang sama. Namun, Kobayashi berpikir yang berbeda. Dia menemukan bahwa mengunyah hot dog dan roti secara bersamaan, menciptakan konflik kepadatan. Daging hot dog itu sendiri berupa benda berbentuk tabung yang dipadatkan, daging asin yang praktis dapat meluncur sendiri di kerongkongan. Rotinya, walaupun ringan dan kurang padat, butuh banyak ruang dan butuh banyak kunyahan. Jadi, dia mulai memisahkan daging hot dog dan roti.

Meskipun dia mudah menelan daging hot dog, rotinya masih menjadi masalah. Kobayashi perlu melakukan hal yang berbeda. Sambil dia makan potongan hot dog dengan satu tangan, dia menggunakan tangan yang lain untuk mencelupkan roti ke dalam gelas airnya. Kemudian, dia akan memeras sebagian besar kelebihan air dan menjejalkan air ke dalam mulutnya. Ternyata, strategi tersebut memiliki manfaat tersembunyi. Memakan roti basah berarti Kobayashi semakin kurang haus sepanjang waktu, yang berarti lebih sedikit waktu untuk minum. Kobayashi juga bereksperimen dengan suhu air, bahwa air hangatlah yang terbaik, karena mampu mengendurkan otot-otot pengunyah.

“To improve is to change; to be perfect is to change often,” ― Winston Churchill.

Kobayashi tidak pernah berhenti melakukan eksperimen. Dia mencatat semua sesi latihannya dan mencatat semua data dalam sebuah tabel. Dia menemukan bahwa banyak tidur sangatlah penting. Begitu pula dengan latihan beban: otot-otot yang kuat berguna dalam mengunyah dan membantu menahan dorongan ingin muntah. Dia juga menemukan bahwa dia bisa membuat lebih banyak ruang di perutnya dengan melompat dan menggeliat-geliat sambil makan—sebuah tarian aneh dan liar yang kemudian dikenal sebagai Goyang Kobayashi.

Kobayashi telah menolak menjadi orang yang biasa-biasa saja. Kobayashi memilih untuk menjadi “orang aneh”. Dan pilihannya ternyata mengubah dunia! Cara-caranya yang aneh dan tidak lazim memberikan perspektif baru di dunia olahraga makan. Kobayashi menolak menerima rekor makan 25 hot dog dalam 12 menit. Penolakannya membuat Kobayashi berpikir kreatif dan berani melakukan eksperimen. Hingga akhirnya, makan 40 atau 50 hot dog dan roti selama 12 menit yang pernah dianggap hanya mimpi, ternyata bukan.

“Solving a problem is hard enough; it gets that much harder if you’ve decided beforehand it can’t be done,” ― Steven D. Levitt, Think Like a Freak.

Tulisan ini disarikan dari buku Think Like A Freak karangan Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner, tahun 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s