Alice Through the Looking Glass, Bermain dengan Sang Waktu

alice-through-the-looking-glass-official-movie-poster-1184x696
Sumber foto: theguardian.com

Bagi Alice, waktu dianggap sebagai musuh. Waktu ‘mengambil’ hal yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu ayahnya. Tapi, di film Alice Through the Looking Glass, Alice harus berpetualang ke masa lalu untuk menyelamatkan teman baiknya yang sekarat, Mad Hatter. Tentu saja, berusaha kembali ke masa lalu merupakan sesuatu yang terlalu muluk, tapi bukan berarti tidak mustahil. Ada harga yang harus dibayar untuk meminta sesuatu yang terlalu muluk. Dalam film ini, Alice harus memilih antara menyelamatkan Mad Hatter atau dunia yang hancur akibat usahanya mengubah masa lalu.

Sekuel kedua dari Alice in the Wonderland mengambil alur tiga tahun setelah petualangan sebelumnya. Alice telah tumbuh menjadi wanita dewasa dan sukses menjadi kapten kapal. Setelah kembali dari pelayarannya, Alice bertemu dengan Absolem—ulat perokok yang telah menjadi kupu-kupu—yang mengajaknya untuk kembali ke Wonderland. Sayangnya, saat kembali ke Wonderland, Alice menemukan Mad Hatter dalam kondisi yang kritis. Hatter jatuh sakit karena kesedihannya yang mendalam atas kehilangan keluarganya. Kondisi inilah yang memaksa Alice untuk mencuri chronosphere dari Time, si penguasa waktu. Dengan kekuatan chronosphere, Alice kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan keluarga Hatter dari serangan naga Jabberwocky.

Bagi saya pribadi, sekuel ini kurang menarik dibandingkan sekuel sebelumnya. Di sekuel ini, saya merasa Alice terlalu egois karena memaksakan kehendaknya sendiri. Alice bersikukuh untuk menyelamatkan Hatter dengan menjadikan seluruh dunia sebagai taruhannya. Saya malah lebih bersimpati kepada Time, si penguasa waktu. Walaupun terlihat clumsy, Time merupakan sosok yang bijak—selain Absolem tentunya. Namun, seperti halnya film Disney, Alice Through the Looking Glass juga mempunyai pesan moral yang baik. Menurut saya, ada dua hal yang perlu di-highlights dari film ini.

“I used to think time was a thief. But, you give before you take. Time is gift. Every minute,” – Alice. 

Small things matter a lot
Setelah menonton film ini, saya jadi teringat mengenai butterfly effect yang merupakan istilah dari chaos theory. Dalam teori ini dijelaskan bahwa perubahan kecil dapat menyebabkan perubahan yang besar di masa yang akan datang. Istilah ini pertama kali digunakan oleh ilmuwan Amerika Serikat, Edward Norton Lorenz, yang merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Dengan kata lain, kesalahan kecil mampu menyebabkan bencana yang besar di masa depan.

Ada bagian dari film ini yang sesuai dengan teori butterfly effect, yaitu pada saat The Red Queen berubah menjadi jahat. Semua bermula ketika The White Queen kecil mencuri kue tart dari ibunya dan tidak mengakui perbuatannya. Alhasil, The Red Queen kecil yang dimarahi dan dihukum. Karena kesal, The Red Queen kecil lari keluar dari istana dan secara tidak sengaja kepalanya terbentur dengan jam. Kejadian itulah yang membuat kepala The Red Queen menjadi besar sehingga dia sering dijadikan lelucon oleh orang lain. Perlahan-lahan, hati The Red Queen mulai diliputi kemarahan dan membuatnya menjadi jahat.

Film ini menjadi pengingat bagi saya untuk tidak meremehkan hal-hal yang kecil. Jika menggunakan teori butterfly effect, semua kejadian buruk yang ada di film ini disebabkan oleh satu kebohongan yang dilakukan oleh The White Queen. Sebuah kebohongan kecil yang membuat seseorang menjadi jahat di masa yang akan datang. Tapi tentu saja, The White Queen tidak pernah mengira hal kecil tersebut bisa berdampak sangat besar.

“You might not change the past, but you might learn something from it,” – Time.

Stop hugging the past
Masa lalu yang indah memang memabukkan. Selain Mad Hatter yang terjebak kenangan dengan keluarganya, Alice pun sulit untuk merelakan ayahnya yang telah meninggal. Hal ini bisa dilihat dari Alice yang selalu membawa jam peninggalan ayahnya kemanapun dia pergi. Bahkan, Alice bersikukuh untuk mempertahankan kapal peninggalan ayahnya, walaupun dia dan ibunya harus menjual rumah tempat mereka tinggali. Ketika mengetahui Alice terlalu memeluk erat masa lalu dengan ayahnya, dengan bijak Time berkata,”Everyone parts with everything eventually, my dear.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s