Suicide Squad: yang Baik jadi Jahat, yang Jahat jadi Baik

Suicide-Squad-Skull-Wallpaper-suicide-squad-39721677-1920-1200
sumber foto: ru.fanpop.com

Untuk menyelamatkan dunia bukan hanya tugas superhero, bahkan di kondisi tertentu super villains pun menjadi satu-satunya harapan manusia dalam menyelamatkan dunia dari kehancuran. Dasar pemikiran inilah yang membuat DC Comics Extended Universe (DCEU) meluncurkan film terbarunya yaitu, Suicide Squad. Bukan cuma “peran yang tertukar” antara superhero dan super villains, film ini juga memiliki pesan moral yang cukup dalam soal bagaimana kita menilai segala sesuatu secara dangkal hanya berdasarkan hitam dan putih. Padahal hitam tidak selamanya jahat dan putih tidak selamanya baik.

Film terbaru besutan DCEU mengambil latar setelah kematian Superman di film Batman V Superman. Kejadian ini melatarbelakangi munculnya Task Force X atau dikenal dengan Suicide Squad. Dikomandani oleh agen rahasia pemerintah Amerika Serikat Amanda “The Wall” Waller, para penjahat paling berbahaya (super villains) dikumpulkan untuk menyelamatkan dunia yang ditukar dengan pengurangan masa tahanan apabila mereka berhasil. Komplotan ini beranggotakan: Deadshot, penembak jitu yang tidak pernah meleset; Harley Quinn, mantan psikiater yang menjadi gila setelah jatuh cinta dengan Joker; Boomerang, pelempar bumerang handal yang suka pink unicorn; El Diablo, si manusia api; Killer Croc, manusia buaya yang ganas; dan Enchantress, penyihir dengan kemampuan magis yang luar biasa.

“Remember, darkness does not always equate to evil, just as light does not always bring good,” – P.C. Cast.

High spoiler detected.

Seperti halnya film superhero, selalu ada tokoh yang baik dan tokoh yang jahat. Namun di film Suicide Squad, penonton diajak untuk melihat “sisi baik” dari penjahat dan “sisi jahat” dari pahlawan. Di film ini, kita akan melihat bahwa Deadshot merupakan seorang ayah yang sangat mencintai putrinya dan merupakan ayah yang bertanggung jawab. Harley Queen dan Joker yang menampilkan cinta sejati dalam caranya yang unik. Persahabatan antar anggota Suicide Squad yang membuat Deadshot secara sengaja melesetkan tembakannya ketika dipaksa untuk membunuh Harley Quinn. El Diablo yang rela mengorbankan diri agar teman-temannya selamat. Semua ini adalah “sisi baik” yang diekspos secara detail oleh sutradara David Ayer.

Selain “sisi baik” dari para penjahat, Ayer juga menampilkan “sisi jahat” dari tokoh yang kita kira adalah pahlawan yaitu agen rahasia pemerintah Amerika Serikat Amanda “The Wall” Waller. Di samping rasa keadilannya yang besar, Amanda dicitrakan sebagai sosok yang licik, egois, dan menghalalkan segala cara. Di awal cerita, Amanda melakukan pemerasan kepada komandan Rick Flag agar dia rela melakukan apapun yang diperintahkan oleh Amanda sebagai gantinya yaitu nyawa dari kekasihnya, arkeolog Dr. June Moone yang dirasuki oleh iblis Enchantress. Pada momen penghapusan semua data pemerintahan, Amanda tega membunuh semua anggotanya untuk mencegah rahasia negara terbongkar. Di bagian bonus scene setelah credit title, Amanda membocorkan rahasia negara yang berisi daftar orang-orang super (the Flash dan Aquaman) kepada Batman yang ditukar dengan perlindungan Batman untuk dirinya.

Walaupun film ini banyak menuai kritik, saya pribadi menyukai film ini karena memberikan perspektif lain tentang bagaimana kita melihat seorang pahlawan dan penjahat. Tentu saja, perspektif ini cukup menarik dan menjadi daya tarik yang kuat bagi penonton. Terbukti di pekan perdananya, film ini mampu meraih USD 135,1 juta (Rp 1,7 trilliun). Pencapaian ini membuat Suicide Squad berada di puncak tangga film terlaris AS mengalahkan film Guardians of the Galaxy. 

“There are heroes in evil and villains in good,” – Unknown.

Advertisements

4 thoughts on “Suicide Squad: yang Baik jadi Jahat, yang Jahat jadi Baik”

  1. Menarik bagaimana perbedan perspektif dibenturkan dalam sejumlah film superhero. Relativitas dan subjektivitas dari bagaimana kita memandang dan mempersepsikan serta memposisikan superhero dan super villain akan selalu mewarnai cara kita menikmati sebuah film superhero.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s