Kenapa Karyawan Millennials sulit Bahagia?

Why-are-young-architects-unhappy
sumber foto: youngarchitect.com

Seringnya karyawan millennials bergonta-ganti pekerjaan dalam waktu singkat merupakan tanda bahwa mereka tidak bahagia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Deloitte pada tahun 2016, 44% karyawan millennials telah merencanakan untuk keluar dari perusahaan mereka sekarang dalam waktu dua tahun ke depan, sedangkan persentasenya bertambah menjadi 66% dalam waktu lima tahun ke depan. Pada dasarnya, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu ketidakbahagiaan karyawan millennials, mulai dari jenjang karir yang tidak jelas hingga harapan yang terlampau tinggi akan masa depannya di perusahaan. Namun, di luar itu semua, media sosial yang memperparah kondisi karyawan millennials sehingga membuat mereka menjadi tidak bahagia.

Secara sederhana, seseorang tidak bahagia apabila harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebagai generasi yang cenderung ambisius, karyawan millennials memiliki harapan yang tinggi soal masa depan di tempat mereka bekerja. Sayangnya, karir yang bagus tidak bisa didapat dengan mudah dan memerlukan kerja keras bertahun-tahun. Bahkan orang-orang yang sukses sekalipun jarang melakukan hal-hal yang besar ketika mereka berumur 20-25 tahun. Gap antara harapan dan kenyataan inilah yang sulit diterima oleh generasi millennials sehingga membuat mereka cenderung tidak bahagia.

Harapan generasi millennials yang terlampau tinggi ternyata disebabkan pola asuh generasi sebelumnya. Generasi millennials hidup dalam kondisi yang jauh lebih baik dari generasi sebelumnya. Sedari kecil generasi millennials diberitahu bahwa masing-masing dari mereka adalah individu yang spesial dan hidup dalam era “kemungkinan tak terbatas”. Jika di generasi baby boomers terkenal dengan istilah “Living the American Dream”, di generasi millennials muncul istilah “My Own Personal Dream”. Inilah yang membuat pekerjaan dengan gaji yang tinggi saja belum cukup membahagiakan bagi karyawan millennials, mereka mencari pekerjaan yang menarik dan sesuatu yang bisa mereka banggakan.

Successful people are not gifted; they just work hard, then succeed on purpose.

Selain pola asuh, media sosial juga turut memperparah kondisi generasi millennials. Jika pada generasi baby boomers, mereka mengetahui beberapa orang dari teman sekolah atau teman kampus mereka menjadi lebih sukses ketika reuni. Pada generasi millennials, mereka dapat mengetahui kesuksesan teman-teman mereka semudah dari timeline media sosial. Media sosial membuat generasi millennials untuk berlomba-lomba membuat citra diri yang keren dan populer sehingga dianggap lebih sukses daripada teman-teman mereka. Makan di restoran yang mewah, liburan di tempat yang eksotis, hingga nongkrong di klub-klub populer merupakan cara-cara pembentukan citra diri agar dianggap lebih keren dan sukses.

Semakin sering generasi millennials memantau perkembangan teman-teman mereka, mereka akan menjadi cemburu dan tidak bahagia. Padahal kenyataannya, teman-teman mereka di generasi millennials hidup dalam kondisi yang tidak jauh berbeda karena masing-masing dari mereka juga sedang bekerja keras dalam meniti karir.

Agar karyawan millennials bisa bahagia dalam pekerjaannya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, tetaplah ambisius. Ambisi untuk sukses adalah hal yang baik, tetaplah berusaha keras dan percayalah semua akan indah pada waktunya. Kedua, berhenti berpikir kalau kamu spesial. Seperti halnya semua orang di generasi millennials, kamu adalah karyawan muda biasa yang minim pengalaman. Kamu akan menjadi spesial apabila kamu bekerja keras dalam waktu yang lama. Ketiga, berhenti perdulikan media sosial temanmu. Rumput tetangga memang selalu lebih hijau, tapi di era pembentukan citra seperti sekarang, rumput tetangga terlihat seperti taman kota. Kenyataannya adalah semua orang berada dalam kondisi rumput yang sama sepertimu, fokus pada karirmu dan kamu tidak akan punya alasan untuk cemburu pada orang lain.

“Good things come to those who work their asses off and never give up,” – Anonymous.

Referensi tulisan:
1. Waitbutwhy.com
2. Deloitte Survey
3. Elitedaily.com

Advertisements

2 thoughts on “Kenapa Karyawan Millennials sulit Bahagia?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s