Memahami Karyawan Millennials yang “Naif”

millennial-generation-workplace-casual-620px
sumber foto: zdnet.com

Lanskap bisnis mulai berubah secara drastis sejak bursa kerja dibanjiri oleh generasi Millennials. Bagi para senior management dari generasi X, generasi Millenials adalah tipe karyawan yang “malas”, “naif”, dan “tidak mau susah”. Pandangan ini muncul karena seringnya generasi Millennials bergonta-ganti pekerjaan dalam waktu singkat. Di sisi lain, generasi ini tergolong sangat kritis, cerdas, inovatif, dan melek teknologi. Terlepas dari semua label apapun, suka atau tidak suka, 75% dari generasi ini akan mendominasi berbagai posisi kunci di perusahaan pada tahun 2025.

Generasi Millennials adalah orang-orang yang lahir dari tahun 1980-2000. Sebagai generasi yang lahir dalam kondisi ekonomi dan politik yang lebih stabil dari generasi sebelumnya, generasi ini memiliki tingkat kepercayaan diri yang luar biasa terhadap masa depan yang lebih baik. Kepercayaan diri inilah yang sering disalahartikan sebagai sifat naif dan narsis. Secara garis besar, generasi ini memiliki karakter: ambisi yang besar untuk terus belajar dan berkembang dalam tangga organisasi, ingin dihargai dan diakui hasil kerjanya, serta tidak keberatan untuk pindah demi jenjang karir yang lebih tinggi.

Perusahaan masa kini harus mulai menyesuaikan budaya kerjanya apabila ingin menjaring generasi Millennials yang bertalenta dan menjaga mereka agar tetap berada di perusahaan. Ada beberapa alasan kenapa generasi Millenials dianggap sebagai generasi yang tidak loyal:

Career path is everything!
Bagi generasi Millennials, perkembangan karir adalah hal yang paling penting, bahkan jika itu berarti meninggalkan perusahaan tempat mereka bekerja sekarang. Rata-rata generasi Millennials akan berganti pekerjaan dalam kurun waktu dua tahun atau kurang. Alasannya sederhana: mereka akan pindah jika mereka merasa perusahaan yang sekarang tidak bisa memberikan jenjang karir dan benefit yang baik. Dalam menghadapi generasi Millennials yang “haus pengakuan”, berikan mereka pekerjaan yang menantang dan dorong mereka untuk menjadi lebih baik. Selain itu, tunjukan timetable for career achievement, sehingga generasi Millennials mengetahui skills yang harus dikuasai dan cara untuk menaiki tangga organisasi tempat mereka bekerja

Work smarter not harder
Bagi generasi Millennials, bekerja itu bukan berarti harus di kantor dari jam 8 pagi hingga 5 sore. Sebagai generasi yang melek teknologi, bekerja itu bisa dimana saja asalkan ada laptop, colokan listrik, dan internet. Ciri dasar dari generasi ini adalah selalu menggunakan teknologi se-maksimal mungkin untuk mempermudah hidup mereka. Selain itu, generasi ini sangat menjunjung tinggi work-life balance. Bagi generasi Millennials, waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan teman-teman sama pentingnya dengan waktu yang dihabiskan dalam bekerja. Inilah yang menyebabkan generasi X melabeli generasi Millennials sebagai generasi yang “malas” dan “tidak mau susah”.

They are young and inexperienced, but it doesn’t mean they are “stupid”
Generasi Millennials hidup dalam keluarga yang liberal, dimana sedari kecil mereka dilibatkan dalam family decision-making. Begitu juga ketika masuk ke dalam dunia kerja, mereka ingin dilibatkan dan diberikan tanggung jawab untuk berkembang. Perusahaan bisa memulai dari pemberian tanggung jawab dalam level yang mikro sebelum memberikan tanggung jawab yang lebih besar. Selain itu, generasi Millennials menginginkan atasan yang mampu mendukung dan mengembangkan professional skills mereka agar siap menjadi pemimpin masa depan. Sederhananya, they want a coach not a boss. 

Beberapa perusahaan besar telah sukses dalam mengembangkan generasi Millennials, seperti contohnya, Google dan Apple. Sebenarnya, mereka tidak secara spesifik menargetkan generasi Millennials, tetapi budaya perusahaan, gaya manajemen, dan program rekrutmennya sesuai dengan ekspektasi generasi Millennials. Itu yang menyebabkan perusahaan-perusahaan tersebut memiliki talenta generasi Millennials yang berkualitas.

“You may call us; lazy, naive, and entitled. But in the end, you will acknowledge our creativity, innovation, and tech-savvy.” – Michael Bliss, Millennials Generation.

Advertisements

4 thoughts on “Memahami Karyawan Millennials yang “Naif””

  1. Meskipun artikel ini seperti sebuah “pembelaan” dari pihak generasi Millenials, tapi saya pribadi setuju dengan semua hal di atas.
    Haha, terasa ngena banget, mungkin karena saya juga dari generasi Millenials juga 😀
    Karena kita malas, makanya kita selalu mencari cara paling efektif dan tepat untuk menyelesaikan suatu masalah, dan itulah kreativitas dan inovasi kita! 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s